TINTAKALTIM.COM-Mengurus pasar tradisional itu, tak hanya bertumpu pada urusan ekonomi. Tapi, harus dipadukan dengan hal-hal yang bersinggungan dengan politik. Sebab, itu penting di dalam melakukan analisa ke depan khususnya dari sisi program.
Karena, pasar tradisional itu dihadapkan dengan berkembangnya pasar-pasar modern. Sehingga, perlu adanya intervensi pemerintah kota dan DPRD yang tentu dalam kaitan kebijakan politik.
“Pedagang pasar tradisional itu tujuan utamanya bagaimana mendapat untung dan barang dagangannya laku dijual. Sebab, keberadannya menyediakan kebutuhan sehari-hari. Jadi perlu dukungan politik pemerintah,” kata Ketua Umum Persatuan Pedagang Pasar Pandan Sari (P4S) Kota Balikpapan, H Andi Rusli menjelaskan, bagaimana pengelolaan pasar ke depan.
Mengurus pasar kata Andi Rusli, di dalamnya terdapat ragam jenis pedagang. Ada grosir, eceran bahkan sampai yang profesional. Mereka semua terikat pada kebijakan politik. “Makanya saya harus melangkah dengan cara-cara politik. Alasannya sederhana, jika urusan pasar itu berhubungan dengan komisi II DPRD Balikpapan (bidang ekonomi dan keuangan). Itu kan politik sudah. Jadi, harus menganalisasnya juga begitu,” tambah Andi Rusli.
Disebutkan Andi Rusli, inflasi bisa terjadi dari pasar. Misalnya, antara kebutuhan masyarakat dan suplai barang tidak sejalan. Maka, hal itu bisa menimbulkan inflasi. Yang dirugikan adalah masyarakat.
“Jadi kebijakan politiknya, P4S juga meyakinkan dan berupaya agar stock di pasaran aman. Jika tidak maka terjadi gejolak harga di pasar,” ungkap Andi Rusli memberi istilah.
Perkembangan suatu pasar menurutnya, diperlukan infrastruktur. Dan itu semua harus didukung oleh kebijakan yang dituangkan dalam kebijakan pemerintah melalui DPRD. “Makanya kalau mikirnya hanya ekonomi itu tidak mungkin. Saya mengajak teman-teman di P4S untuk melihat politik juga. Tetapi politik yang menguntungkan pasar tradisional dan pedagangnya,” ujar Andi Rusli.
BONGKAR MUAT
Sementara itu, tim percepatan pembangunan Balikpapan Barat yang juga tokoh pemuda Syarifuddin SPd mengatakan, untuk mendorong pasokan barang di Pasar Pandan Sari cepat, tepat dan tidak menimbulkan biaya tinggi, maka diperlukan lokasi bongkar muat berdekatan dengan pasar.

“Maksudnya, ada komunikasi antara P4S dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). Kalau ada lahan yang sangat mendukung, mengapa tidak dibuat mendekatkan dengan pasar. Itu lebih efisien,” kata Syarifuddin.
Analisanya, jika bongkar muat itu jauh dari Pasar Pandansari, tentu akan mempengaruhi pada sisi biaya. “Akan terjadi biaya tinggi (high cost). Pada gilirannya berpengaruh pada produk dagangannya yang dijual dan jatuhnya bisa mahal sampai ke konsumen,” tambah Syarifuddin.
Dikatakan Syarifuddin, jika ada lokasi bongkar muat yang representatif dekat pasar, maka bertujuan agar kendaraan angkutan barang tidak selalu berhenti semena-mena dan mengganggu arus lalu-lintas yang ada.
“Kalau ada space cukup, kendaraan bongkar muat itu tidak kerap memakai badan jalan. Sebab, mereka terdiri dari truk-truk pengangkut bahan dagangan. Kalau jauh, tentu akan menyulitkan distribusi barang cepat sampai ke tangan pedagang,” urai Syarifuddin.
Dicontohkan Syarifuddin, kaitan bongkar muat yang dimaksud bukan terminal bongkar muat perkotaan. Tetapi, yang khusus untuk Pasar Pandansari. Sehingga, alangkah efisiennya jika ada lokasi dekat pasar.
“Dari pelabuhan langsung ke terminal bongkar muat dekat pasar. Coba, ada informasi saya dengar akan dibangun di kilometer 5 Jalan Soekarno Hatta. Ini kan sangat jauh. Jelas biaya tinggi,” tambah Syarifuddin yang juga politisi Partai Golkar Balikpapan ini.
Ditambahkannya, volume kendaraan dan tempat bongkar muat tersebut diatur dengan manajemen khusus. Sehingga, variasinya bisa truk, mobil box bahkan peti kemas. “Manajemen pembongkarannya adalah ada waktu maksimal. Jika jam sibuk maka tidak diperbolehkan sebab akan mengganggu kemacetan lalu-lintas. Terus ada space parkir kendaraan. Ini hanya saran dan masukan, tentu untuk kepentingan kemudahan distribusi barang dan barang cepat dijual dan sampai ke konsumen. Tentu dapat dikaji P4S dan LPM di lingkup pasar tersebut,” pungkas Syarifuddin. (gt)











