TINTAKALTIM.COM-Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai, Jalan Soekarno Hatta tepatnya turunan Muara Rapak sudah terjadi yang disebut mixed traffic atau bercampurnya lalu-lintas dari semua jenis kendaraan. Itu berbahaya dan cenderung mengalami kecelakaan.
Investigator senior KNKT Ahmad Wildan menegaskan itu setelah melakukan investigasi kaitan kecelakaan truk barang yang terjadi di turunan Muara Rapak yang mengakibatkan 4 orang meninggal dunia, Minggu (20/03/2022).
Selain KNKT, investigasi itu juga dihadiri Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XVII Kaltim-Kaltara Avi Mukti Amin, Kasi Lalu Lintas Edwin Fauzi SSiT MM, jajaran Dishub Balikpapan dan stakeholders lainnya. Pola investigasi KNKT dengan melakukan pengecekan geometri jalan dan melihat kondisi depo terminal barang di Kaltim Kariangau Terminal (KKT) kawasan kilometer 13.

Menurut Wildan, mixed traffic di sejumlah kawasan sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa. Apalagi turunan Muara Rapak jalannya sempit dan landaian vertikal yang masuk dalam landai negatif (turunan) dan hazard-nya (rintangan pengguna jalan) banyak.
“Saya sudah dari Mandilika Lombok Timur, antara truk dengan sepeda motor telah mengalami mixed traffic. Dan rawan kecelakaan. Intinya sebenarnya tidak boleh turunan Muara Rapak itu kendaraan bercampur,” kata Ahmad Wildan.
Untuk Kota Balikpapan kata Wildan, rekomendasinya ke depan harus dibuatkan sejenis catch & release atau tempat penangkapan dan pelepasan kendaraan. Maksudnya, kendaraan barang ditangkap atau diarahkan di suatu tempat dan pada jam tertentu baru dilepaskan atau boleh melakukan aktivitas.

Ada pemisahan, kendaraan yang masuk mixed traffic seperti sepeda motor dan truk barang tidak boleh bertemu. Harus dipisahkan, agar menghindari terjadinya risiko kecelakaan.
Dalam prakteknya, nanti kendaraan angkutan barang tetap mengikuti lintasan yang ada, hanya diatur waktunya dan tidak boleh bersamaan dengan kendaraan lainnya. “Misalnya mulai pukul 00.00 Wita sampai pukul 05.00 Wita. Ini contoh, tergantung bagaimana mengurai aturannya ke depan, sebab jangan bercampur kuncinya,” ujar Wildan berkali-kali.
FRIEGHT CENTRE
Wildan pun bersama jajaran BPTD Kaltim-Kaltara dan Dishub Balikpapan yang berupaya maksimal mencari solusi turunan Muara Rapak, sempat meninjau depo Kaltim Kariangau Terminal. Melihat di sepanjang menuju jalur itu, banyak kendaraan truk bertebaran yang membuat pemandangan kurang baik.

“Ini perlu direkomendasikan pembuatan frieght centre atau pusat cargo. Di situ bisa tempat parkir kendaraan barang, ada SPBU, tempat istirahat (rest area) dan bengkel serta lainnya. Nah, kendaraan masuk di tempat itu dan setelah sepi baru boleh jalan,” jelas Wildan.
Wildan menyebut, catch & release merupakan prioritas manajemen (management priority) lalu-lintas untuk mencari solusi agar turunan Muara Rapak tidak memakan korban kembali.
Untuk menjelaskan bagaimana agar mengurai dan mencari solusi turunan Muara Rapak, Wildan akan presentasi di rakor (rapat koordinasi) lalu-lintas Senin (21/03/2022) pukul 10.00 Wita di Hotel Platinum.
Dalam paparannya nanti, Wildan akan menjelaskan hal teknis kaitan geometri jalan turunan Muara Rapak. Karena, kelandaian vertikal dan hazard itu bisa dihilangkan atau tidak.

“Kelandaian vertikal itu sulit untuk dihilangkan. Minimal kita mengurangi risiko. Kalau terjadi kecelakaan, fatalitasnya menurun. Tetapi jangan sampai terjadi lagi. Seperti di Wonosobo misalnya,” urai Wildan.
Sebenarnya kata Wildan, jika membuat frieght centre, itu memberi daya saing ekonomi untuk pengusaha logistik. Minimal mereka dapat tertolong. “Nah kalau kaitan overloading itu kasus rumit. Sebab bicara rantai pasok. Kalau mau menghilangkan overloading, maka harus memperbaiki tarif. Runtutannya panjang lah,” kata Wildan.
Inti dari turunan Muara Rapak sebenarnya kata Wildan, ada dua hal yang harus dipahami masyarakat. Yakni kaitan energi potensial dan gaya grativikasi bumi. Semakin tinggi tempatnya dan ada kendaraan yang lewat bermuatan besar maka daya yang dihasilkan akan tinggi.
“Itu istilahnya, jika kendaraan meluncur di turunan Muara Rapak membentuk energi kinetik yang rumusnya, energi potensial sama dengan satu per dua dikali massa benda dikali kecepatan. Jadi, massanya setengah, kecepatannya dikali dua. Maka, meluncurlah truk itu tanpa terkendali,” ungkap Wildan.
Oleh karena itu, ia akan menjelaskan lewat kegiatan praktek dalam acara rakor lalin. “Intinya saya akan menunjukkan lewat praktek. Pasti nanti bisa paham semua bagaimana energi kinetik yang dikaitkan dengan truk angkutan barang jika melintas pada turunan,” pungkas Wildan. (gt)













