TINTAKALTIM.COM-Hari Minggu, pasti libur. Dimanfaatkan kerja bakti membersihkan lingkungan. Ini wujud kehidupan bertetangga. Kemuliaan diperoleh, saling kenal, silaturahmi bahkan ada yang berniat masuk surga.
Kok masuk surga? Iya keikhlasan ditunjukkan. Ada yang membantu minuman (kopi dan teh), ada yang dukung snack, mobil untuk transportasi pembuangan sampah hasil kerja bakti serta tenaga. Sehingga, niat tulus itu pun bisa dijamin surga seperti cerita seseorang masuk surga karena ikhlas hanya memberikan sepotong roti.

Cerita roti itu nanti, ini kerja baktinya. Digugah Ketua RT 39 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat Neneng Juleha alias Ipon. Undangan kerja bakti sudah diedarkan sehari sebelumnya ke warga. Ada 89 kepala keluarga (KK) yang diundang tetapi yang hadir hanya 25 KK.
Tentu, Bu RT –-begitu panggilan warga—lebih memahami warga yang tak datang. Karena kesibukannya, ada yang tertidur dan urusan pekerjaan. Padahal, kerja bakti ‘jembatan panjang umur dan limpah rezeki’ karena tujuan utamanya silaturahmi.

“Tapi kalau sejak kerja bakti digelar sampai sekarang alasannya sibuk terus, ya kita minta kesadarannya saja. Warga RT 39 ini terkenal kompak lho. Tuh, Pak Narta yang masih sakit bisa hadir,” kata Ipon, Bu RT yang ingin seluruh warga berbaur saat kerja bakti.

Ibaratnya, ‘stor muka’ saja tak masalah. Atau dijadwal, hari ini sibuk. Jika ada kerja bakti lagi ikut. “Bersih kampung atau lingkungan kan dirasakan seluruh warga. Rasanya hadir kerja bakti itu sangat diharapkan. Kecuali sakit atau ada keadaan darurat. Karena kerja bakti bagian kehidupan bermasyarakat,” jelas Bu RT di sela-sela berbincang dengan warga lainnya.
CANDA DAN TAWA
Sebenarnya, bapak-bapak yang hadir kerja bakti tak terasa berat. Media ini pun ikut hadir. Canda dan tawa selalu terdengar. Peralatan cangkul, sapu lidi dan gunting dahan ada di tangan, mereka semua bekerja sembari saling tawa.

Kalaupun toh datang untuk sarapan pun tak ada yang melarang. Yang penting pegang sapu dan menyapu kira-kira 5 meter. “Kerja baktinya ringan saja kok, yang utama silaturahminya,” kata Sukamto, warga senior ketua rombongan komunitas pejalan kaki Kompleks BTN (Kaki BTN) yang ikut berbaur dan bekerja hingga tuntas.
Terlihat ada 25 warga hadir. Itu dari absen yang ditandatangani. M Rachyudi, warga yang sangat sibuk karena pekerjaannya, hadir menyempatkan diri. Setelah itu, pamit karena kesibukan. Sah saja. Prinsipnya hadir dulu dan saling bersilaturahmi.

Justru, tetangga sebelah RT 38 Agus Meni ikut berbaur. Entah, apa karena ‘dideportasi’ oleh ketua RT-nya, tetapi semangat kerja baktinya pun terlihat. “Saya hadir ingin memberikan contoh kerja bakti yang baik,” kelakar Agus Meni yang sering di-bully warga lainnya.
Sibuk yang jadi kata warga tak hadir, tentu alasan itu bisa diterima, karena itu hak individu. Hanya, warga pun punya hak untuk menilai dan menjatuhkan vonis ‘kok nggak peduli’.

“Mungkin cari alasan jangan sibuk tarus. Kalau kada hadir melapor ke ketua RT. Itu lebih bagus. Kita ini hadir utamanya bekesahan (cerita), kerja baktinya sampingan saja,” ujar H Rahmadi, Ketua Masjid Asy-Syifa, dengan logat Banjarnya, sambil guyonan.
Porsi kerja bakti warga RT 39 sudah terbentuk. Membersihkan lingkungan sekitar lapangan. Lainnya seolah sudah membagi kelompok. Menyapu dahan, memotong bahkan suami Bu RT, Zulkifli sangat antusias tak hanya lingkungan lapangan, ia begitu rajin berkeliling menggunakan mesin pemotong rumput senar di halaman rumah warga. “Terbaik Pak Zulkifli itu. Luar biasa,” puji Rudi, yang terlihat memotongin dahan-dahan sekaligus meratakannya.

Terlihat juga sangat berjibaku sejak pukul 08.00 Wita sampai selesai Prayitno, H Haidir, Dedy, Nur Salim, Yono, Yanto, Herlambang, Agus B, Bambang, Hendra ‘Ahok’, Ardiansyah, Rugito, Supomo dan warga lainnya. Mereka semangat. Setelah itu, saling mencicipi sarapan yang disediakan ibu-ibu RT 39.
Istirahat sejenak, dimanfaatkan bapak-bapak. Biasa jika sudah berkumpul, ceritanya ngalor-ngidul. Kadang ‘topik panas’ diobrolin. Justru bukan anak muda saja yang membahas topik dewasa, bahkan ada yang cerita tips dan trick pasangan suami istri (pasutri).

“Tadi yang cari rawon empal brewok siapa ya. Kok semangat sekali,” kelakar Agus Meni yang ada saja upaya untuk membuat cair suasana. Termasuk juga Rudi dan Sukamto.
Tak bisa dipungkiri, ungkapan ‘empal brewok’ sering diungkapkan penyiar program berita Pojok Kampung JTV. Gayannya Suroboyoan. Kata-kata itu lumrah di Surabaya. Khususnya jika memesan makanan. Itu ujaran yang sangat kuat di benak warga Jawa Timur. Ya, konotasinya ‘miring’ tak perlu dibeber di catatan ini.

Secara keseluruhan, kerja bakti membuat lapangan bersih. Hasil sampah kerja bakti pun diangkut mobil ke tempat pembuangan sampah. Mas Yon, secara ikhlas memberi dukungan kendaraan Hilux untuk mengangkut sampah. “Saya cari surga, ikhlas lahir-batin. Intinya sampah terangkut,” ujar Mas Yon yang hadir dengan mobil dalam keadaan bersih.
Mobil Mas Yon itulah yang sempat menimbulkan insiden ‘tangan terjepit’. Penulis tak sadar saat pintu mobil ditutup posisi tangan ada di bagian pintu. Ya terjepit. “Untung nggak kuat,” ujar penulis seolah menghibur diri. “Itu orang beriman dan jujur. Ada upaya untuk mengelak. Padahal kesakitan masih bicara untung,” kelakar H Haidir, yang ikut membuang hasil sampah kerja bakti di tempat pembuangan sampah (TPA) kawasan Jalan Baru.
SEPOTONG ROTI
Nah, keikhlasan membantu, mendukung, kerja bakti atau kegiatan apa saja kecil tetapi dilakukan dengan niat mendapat ridha Allah bahkan surga itu bisa saja terjadi. Karena, kata sejumlah ulama masuk surga itu bukan sekadar amal tetapi adanya ridha Allah atau kasih sayang Allah.
Itulah, niat tulus warga RT 39 untuk kerja bakti penulis doakan semua masuk surga. Jika niatnya untuk kebaikan. Karena, Rasulullah dalam sebuah hadist shahih riwayat Muslim berkata: Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali rahmat dari Allah. Meski amal tidak bisa memasukan manusia ke surga, umat Islam tetap diwajibkan melakukan amal baik.
Itulah ada cerita sebagai spirit kehidupan kaitan sepotong roti yang menyebabkan pendosa masuk surga. Orang ini pendosa selama 70 tahun, tetapi saat mengembara menemukan orang miskin perlu makan.

Dalam perjalanan, si pengembara yang ingin bertaubat ini hanya memiliki sepotong roti. Karena orang miskin tadi kelaparan, maka sepenggal roti itu diberikan. Sehingga, ia harus menahan lapar sampai tertidur dan esoknya meninggal dunia.
Di hadapan Allah, ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang ini yang bertaubat karena dosanya 70 tahun tadi. Apa yang terjadi, timbangan itu ke kiri artinya orang ini ke neraka.
Tiba-tiba, timbangan dijatuhi sepotong roti yang diberikan kepada fakir miskin tadi. Dan Allah memutuskan orang ini masuk surga karena keikhlasan, ketulusannya untuk berkorban dan penuh kasih sayang memberikan sepotong roti kepada fakir miskin yang kelaparan. Pahala timbangan sepotong roti itulah membuat berat timbangan ke kanan hingga mengantarkannya ke surga.
Semoga, nilai persaudaraan warga RT 39 untuk kerja bakti diniatkan tulus membantu terus terjalin selamanya, sebagai wujud hidup bertetangga. Sehingga, kerja bakti dan bantuan selama kerja bakti yang tulus itu bisa mengantarkan kita semua ke surga. Ayo, kita ingin masuk surga, kerja bakti ya. (gt)













