TINTAKALTIM.COM-Teknologi mengubah segalanya. Ruang kelas dulu identik dengan papan tulis, kapur, mejanya kayu dan buku cetak. Tapi, kini sudah bertransformasi jadi ekosistem belajar digital yang lebih dinamis, fleksibel dan basisnya konektivitas global atau dunia

Visi belajar digital itu menjadi gagasan Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan Irfan Taufiq. Ia terinspirasi dengan desain kota digital apalagi kotanya sudah jadi Balikpapan Smart City. Tentu, itu bukan sekadar narasi tetapi ada bukti dan implementasi

Terlebih, Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud SE ME sudah bergelar doktor (S-3) yang impian masa depannya Kota Balikpapan didesain jadi smart city yang dituangkan lewat desertasi berjudul Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perwujudan Pembangunan Kota Cerdas (Smart City)

“Visi Pak Walikota itu saya kembangkan bukan sekadar digitalisasi tetapi menyentuh isu fundamental dan melibatkan warga secara umum dan khusus di sekolah. Sehingga, implementasinya orang-orang semua menjadi cerdas (smart people),” kata Irfan Taufiq yang terus berupaya Kota Balikpapan jadi kota yang cerdas.

Pandangan visioner Irfan Taufiq itu, diyakini dengan memanfaatkan anggaran bisa berdayaguna sehingga fungsi kecerdasan dapat dicapai lewat dukungan sarana dan prasarana

“Ternyata visi dan misinya cerdas. Mendesain konsep digital di sekolah-sekolah dengan memanfaatkan program Google for Education. Sekolah, belajarnya menggunakan basis digital,” kata Ganung Praktino, eks sekretaris Disdikbud yang juga Ketua Dewan Pendidikan Kota (DPK) Balikpapan menceritakan sisi visioner Irfan Taufiq itu.

Ganung saat itu sempat membahas anggaran. APBD menyiapkan Rp10 miliar bagaimana mendesain agar sekolah tidak konvensional lagi belajarnya. Tapi, dana itu dianggap relatif kecil dan tak dapat mengubah transformasi manual ke digital
Diskusi masif dilakukan dengan Irfan Taufik. Alhasil, kucuran dana Rp50 miliar selama dua tahun hingga Juli 2024 untuk pengadaan sarana Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dicetuskan

“Sekolah didesain. Disiapkan tenaga pengajarnya yang expert bidang IT bahkan rujukannya google tadi. Maka, tahap awal sejumlah sekolah jadi Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRJ). Rinciannya, perlu Rp500 juta tiap sekolah dan sarana laptop, papan interaktif digital (PID) serta chromebook menjadi penopang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sejumlah sekolah,” cerita Ganung
Disdikbud ungkap Ganung, terus mendesain konsep itu sampai pengembangan Sekolah Rujukan Google (SRG) dan SDN 009 di Balikpapan Utara ditarget menjadi sekolah pertama yang melakukan implementasi

Upaya itu ternyata jadi program Pemkot Balikpapan meningkatkan mutu pendidikan melalui pemanfaatan sarana dan prasarana TIK.
“Di SDN 009 inilah pengembangan proses belajar merujuk pada Google for Education untuk pilot project dan se-Balikpapan sudah dibagikan sekitar 4.000 laptop berbasis chromebook,” jelas Irfan
CHROMEBOOK
Saat bercerita chromebook, Irfan Taufik sempat berkelakar. “Ini tak ada kaitannya dengan Pak Nadiem itu lho. Ini sarana untuk proses KBM siswa. Anak didik menjadikan sarana individu chromebook yang terintegrasi penuh dengan ekosistem Google,” urai Irfan Taufiq di hadapan pengurus DPK saat audiensi di ruang kerjanya, belum lama ini

Irfan ingin, program yang digulirkan dan dikelola guru-guru di sekolah dengan bekerjasama lewat Google for Education berjalan masif. Sebab, ada fitur-fitur untuk belajar seperti Classroom, Workspace yang jadi perangkat pembelajaran dan mendukung pembelajaran jarak jauh, hybrid dan tatap muka sekalipun

“Bayangkan, di SDN 009 Balikpapan Utara itu sudah jadi pilot project. Siswanya belajar mengakses mudah ke aplikasi edukasi. Lalu berkolaborasi serta memanfaatkan fitur aksebilitas chromebook dan jadi efektif belajarnya. Bahkan, belajar di café, taman atau gazebo bisa dilakukan,” kata Irfan Taufiq yang mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) Kota Balikpapan ini
Bagi Irfan Taufiq, digital sudah jadi kebutuhan bukan trend dan gaya-gayaan saja. Terutama dalam dunia akademik yang dituntut adaptif dan visioner. Itu pun bisa jadi solusi tiap tahun di mana jumlah lulusan sekolah dengan sarana ruang kelas sangat berbanding jauh

Sehingga, ia ingin agar program Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud, kota cerdas (smart city) terintegrasi dan bisa diakses masyarakat dari sisi akdemik yang lebih menjadikan sekolah sebagai pusat inovasi digital.
“Program saya bagaimana memanfaatkan platfom seperti Google Education dan melatih guru memiliki skill dan mencetak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045 mendatang dalam menghadapi bonus demografi,” kata Irfan Taufiq yang menambahkan, ke depan siswa-siswi di Balikpapan tampil berkualitas melalui digitalisasi pendidikan Kota Balikpapan yang berkelanjutan. (gt)













