TINTAKALTIM.COM-Inna Lillahi wa Inna ilaihi raji’un. Kabar duka itu tersebar di sosial media (sosmed). H Imam Mundjiat SH (77), pendiri dan pemilik Yayasan Pendidikan SMK Pangeran Antasari meninggal dunia sekitar pukul 23.00 Wita, Minggu (9/08/2020).
Sosok yang berintegritas dan selalu bertutur filosofis dengan untaian kata bijak tersusun rapi namun tegas tersebut, meninggal karena sakit. “Mohon doa dari sahabat semua agar almarhum husnul khatimah. Dan, jika ada salah, mohon dimaafkan ya,” pinta Agus Santoso, ponakan almarhum saat ditemui media ini di rumah duka.
Imam Mundjiat pernah menempati puncak karier politiknya sebagai legislator dari PDIP Perjuangan. Semasa hidupnya pernah menjadi anggota DPR-RI, anggota DPRD Kaltim dan pimpinan DPRD Balikpapan.
Kiprahnya di kancah politik kian cemerlang setelah ia menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri selaku ketum menunjukknya menjadi pimpinan Komisi VII DPR-RI (bidang kesra) di Gedung DPR-MPR RI kawasan Senayan, ruangannya di lantai 10 nomor 1001.

Penulis mengenal figur almarhum sebagai sosok yang ulet dan disiplin. Dialah politikus yang pernah jadi kepercayaan Megawati Soekarnoputri karena upayanya mempengaruhi pengurus PDIP se-Indonesia untuk mendukung Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum dan mencalonkan jadi Presiden RI di Kongres PDIP Hotel Patra Jasa Semarang. Saat itu, almarhum menjadi pimpinan sidang dan berhak mengayunkan dan mengetukkan palu, menetapkan keputusan.
Caranya pun unik. Ia membagi-bagikan dokumentasi berupa kliping koran daerah dan nasional tentang isu politik dan makna perjuangan sosok Megawati Soekarnputri sehingga pantas duduk sebagai ketum dan presiden. Kliping dibagi di ruang sidang, lift dan orang-orang yang berada di luar gedung Kongres PDIP. Ternyata ampuh, dan Megawati terpilih jadi ketum secara aklamasi.
Sahabat, wartawan dan seluruh mitra politiknya selalu ‘disuguhi’ kliping koran itu sebagai wujud menyakinkan dalam ragam diskusi politik. Tak heran, jika siapapun akan percaya dengan argumentasi Imam Mundjiat, lantaran diperkuat dengan data dan fakta kliping koran tadi.
Imam berpolitik untuk dijadikan strategi. Tentu demi melakukan perubahan yang lebih baik. Mulai dari keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Politik itu bukan tabu, tergantung kita bertujuan apa. Kalau niatnya buruk, ya hasilnya pasti buruk,” pesan Imam.

Dari sisi integritas, ia pernah pula menolak untuk memimpin rapat di DPR-RI. Saat itu, media ini sempat berkunjung ke gedung DPR-RI untuk bertemu Imam Mundjiat. Hanya, almarhum menolak bertemu karena harus memimpin rapat dengan mantan deputi Gubernr Senior Bank Indonesia (BI) Miranda S Goeltom.
“Bisa temui saya pak. Saya kan datang jauh-jauh dari Balikpapan. Tamu bapak lho, kan harus ditemani di Jakarta,” kata penulis, menghubungi telepon almarhum.
Sejak awal, Imam Mundjiat enggan untuk memimpin rapat. Ia tahu, sebab ada kasus besar yang bisa menjeratnya jika terlibat. Maka, ia pun beralasan untuk mangkir rapat. “Saya ada keluarga. Lebih penting dari rapat,” ujar Imam Mundjiat saat itu, mendelegasikan kepada rekannya di DPR-RI untuk memimpin rapat.
Ia sebenarnya menghindar, karena jika ia memimpin maka akan ikut terjerat dalam kasus Miranda yang dipenjara 3 tahun. Kasusnya, penyuapan terhadap belasan anggota DPR RI kaitan cek pelawat. “Alhamdulillah, saya bisa menghindar mas. Jika tidak, kena jerat KPK. Allah melindungi saya. Untungnya mas datang ke Jakarta dan mengajak saya keluar dari ruang rapat,” cerita Imam di masa hidupnya. Saat itu, media ini diajak menginap di kawasan perumahan DPR-RI kawasan Kalibata.

Itulah salah satu integritas almarhum. Hapni Kannape, sahabat kental almarhum pun mengakui kaitan integritas itu. “Kalau mengandung unsur kebenaran, almarhum tak segan mengutarakan dalam sikapnya yang tegas. Kalau itu untuk kepentingan rakyat, ia pendiriannya teguh,” ungkap Hapni yang ikut ber-takjiah (melayat) almarhum hingga dimakamkan. Almarhum dimakamkan di pelataran kediamannya kawasan Gunung Sari dan bersebelahan dengan makam istrinya.
Perilaku almarhum tentang pemberantasan korupsi sangat tinggi. Sehingga, menurut Hapni itulah yang jadi ‘pondasi moral’ memberantas korupsi dari almarhum Imam Mundjiat. “Makanya almarhum, walaupun duduk di DPR-RI, DPRD Kaltim maupun DPRD Balikpapan tetap aman. Sebab, punya integritas itu,” kenang Hapni Kannape.

Rudi Prabowo, sahabat Imam Mundjiat juga merasa kehilangan. Sebab, almarhum dijadikannya guru politik. “Dia adalah guru politik saya. Tapi juga guru bagi warga lainnya. Sebab, memiliki obsesi dalam memajukan dunia pendidikan,” kata Rudi Prabowo, yang telihat melayat almarhum hinga ke peristirahatan terakhir.
Rudi berharap, ada ‘Imam Mundjiat-Imam Mundjiat’ lainnya, jika jadi politikus teguh dalam pendirian, sebagai pendidik pun semangat dan berjuang untuk rakyat. “Tidak mudah memajukan dunia pendidikan, apalagi swasta. Tapi, di tangan almarhum, SMK Pangeran Antasari jadi berkembang,” kenang Rudi.
UCAPAN DUKA MEGAWATI
Ucapan duka juga berdatangan dari keluarga, kerabat almarhum. Karangan bunga ucapan duka terlihat menghiasi kediaman almarhum di kawasan Gunung Sari, bahkan sampai ke jalan.

Warga yang melakukan takjiah atau melayat pun penuh. Tetapi, tetap mengindahkan protokol kesehatan. Cuci tangan, bahkan ada yang membawa hand sanitizer dan rata-rata menggunakan masker.
Dari pantauan media ini, Walikota Balikpapan H Rizal Effendi SE mengirimkan karangan buka ucapan duka, termasuk Ketua DPC PDI Perjuangan yang juga Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Thohari Aziz, Jengkar Sutono, MKKS SMP Kota Balikpapan, Ir H Ahmad Basyir dan lainnya.
“Tadi sebelum melayat, saya mendapat informasi dari Jakarta. Ibu Ketum Megawati Soekarnoputri menyampaikan belasungkawa dan rasa dukanya untuk almarhum Imam Mundjiat. Doanya, almarhum semoga husnul khatimah,” ujar Thohari, menyampaikan pesan duka Megawati.
Thohari juga merasa kehilangan. Karena, selama almarhum sakit sudah 3 kali menjenguk. Dan, saat itu memberi spirit untuk sehat. “Nilai perjuangan almarhum untuk kepentingan warga sangat kuat. Apalagi di PDI Perjuangan, banyak yang diperjuangkan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Thohari.

Almarhum kata Thohari, sempat berpesan agar disiplin, kerja keras, ulet yang dimiliki dalam sikapnya terus dipertahankan. “Almarhum meminta di saat-saat terakhir, agar terus membela kepentingan rakyat. Jika sudah menjadi pejabat, harus ingat wong cilik. Dan terus berikhtiar serta jangan sampai korupsi,” kata Thohari, menirukan pesan almarhum.
Wakil Walikota (Wawali) Balikpapan H Rahmad Mas’ud SE ME tak dapat hadir. Sebab, masih tugas ke Jakarta. Ia menyampaikan pesan duka dan berdoa agar alamarhum husnul khatimah. “Mohon maaf beribu maaf, saya tidak sempat melayat. Doa saya, semoga almarhum mendapat ampunan Allah dan meninggal dalam keadaan baik,” doa Rahmad Mas’ud.
Ucapan duka juga datang dari sahabat almarhum. Alumni STM (sekarang SMK) Pangeran Antasari dari tahun 80-an hingga 90-an pun ikut melayat. Mereka mendoakan almarhum khusul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. “Kita jadi ‘orang’ ya karena ilmu dari Pangeran Antasari milik almarhum. Semoga Allah mengampuni kesalahan Pak Imam Mundjiat,” ujar Ardiansyah.

Ucapan duka juga datang dari Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah NU (Lazisnu) Kota Balikpapan H Sutrisno. Ia terbilang sangat dekat dengan almarhum. Bahkan, sering mengantarkan makanan berupa ayam lodho khas masakan Sutrisno ke kediaman almarhum.
“Kadang Pak Imam Mundjiat ke Rumah Makan Nyiurku di kawasan Gelora Patra. Tapi, kadang saya yang mengantar ke rumah. Itu kesenangan almarhum. Semoga beliau husnul khatimah,” kata Sutrisno.
Kerabat lainnya, terlihat ikut melayat seperti anggota DPRD Andi Arif Agung (A3), H Burhanuddin, Aden Usa, Suyoso Nantra, Leo Sukoco, Drs Rikmo Kuswanto, H Jani, H Fajar Ali, H Damuri SH dan istri, H Sukadi, Bagio, politisi PDI Perjuangan seperti Sani, Yasni dan para tetangga serta pendidik di SMK Pangeran Antasari.
AMAL JARIYAH
Sementara itu, pada saa pelepasan jenazah, KH Muhlasin, yang juga Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kota Balikpapan, dipercaya sebagai shohibul musibah atau orang yang mewakili keluarga menyampaikan pesan duka.
Menurut Muhlasin, almarhum punya jasa sangat besar dan jiwanya selalu menolong, membantu dan peduli terhadap kesusahan orang lain. Termasuk, menyumbang masjid baik itu sarana dan prasarana, buku-buku bacaan dan lainnya.
“Almarhum membantu tidak hanya di Kota Balikpapan. Tetapi, sampai ke pulau Jawa. Ini harus jadi contoh bagi kita-kita yang masih hidup. Semoga semua jadi amal jariyah dan mengantarkan almarhum ke surga di yaumul akhir nanti,” doa Muhlasin.
Selama hidupnya kata Muhlasin, almarhum juga telah memberikan sumbangsih untuk kepentingan ummat. Yakni, mendirikan yayasan pendidikan dan gedung sekolah SMK Pangeran Antasari dan sudah mencetak kader-kader sukses di bidang pendidikan. “Semoga dapat diteruskan oleh anak-anak almarhum. Karena, kendati almarhum meninggal, selama proses mendidik di SMK Pangeran Antasari untuk kebaikan ummat itu masih dilakukan, Insya Allah amal kebaikan akan terus berjalan dan jadi amal jariyah,” kata Ustaz Muhlasin.
Semasa hidupnya, Imam Mundjiat juga gemar membagi-bagikan buku agama ke masjid dan musala. Ia membeli buku dalam jumlah banyak termasuk Alquran, dan membagi-bagikan ke masjid dan musala yang membutuhkan. Bahkan, ada pula disumbangkan ke perpustakaan.
Media ini pernah pula ikut bersama-sama Imam Mundjiat untuk mengantarkan buku agama, karpet ke daerah Manggar bahkan Samboja. “Rezeki itu harus dibagi. Siapa tahu, dari pemberian rezeki itu bisa jadi amal ke surga,” kata Imam Mundjiat memberi analogi mengapa dirinya gemar untuk bersedekah.
Almarhum juga pernah memberi buku ke mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan. Bukunya berjudul Samudra Al-Fatihah, karangan Bey Arifin. Dahlan, lantas menerima buku itu. “Wah ini buku sangat best seller. Saya kenal dengan penulisnya. Semoga Pak Imam Mundjiat selalu sehat,” kata Dahlan saat ditemui di kediamannya Surabaya oleh Hapni Kannape dan kawan-kawan beberapa tahun lalu.
Selamat jalan Pak Imam Mundjiat. Kematian adalah hal yang pasti terjadi dan tidak diketahui kapan datangnya. Kematian bisa datang secara tiba-tiba yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan beribadah. Engkau lahir di dunia 14 Agustus 1944, Allah memanggilmu pada 9 Agustus 2020. Dan, Insya Allah Engkau mengakhiri kehidupan dengan husnul khatimah. (sugito)












