Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Dini hari itu, ruang masjid terasa sunyi. Terlihat wujud yang masih asyik menikmati mimpi . Itu pukul 01.30 Wita di Masjid Balikpapan Islamic Centre (BIC). Saat itu malam ganjil di mana refleksi diri menyentuh janji Rasulullah bahwa lailatul qadar hadir di malam-malam ganjil. Figur anak-anak muda menghiasi ruang masjid

Ada ghirah (semangat) spiritual yang dipertontonkan. Dini hari, saat anak muda seusianya mungkin sedang asyik dengan kenikmatan duniawi, tetapi wajah-wajah mereka mampu untuk mengakui dan bersimpuh sujud memohon ampunan Allah di malam yang larut.
Ada trend positif di Ramadan 2026 ini, jumlah anak muda yang qiyamul lail (salat malam) di BIC meningkat. Mereka tertunduk dan mentartilkan ayat demi ayat Alquran setelah tertidur sesaat untuk menunggu waktu qiyamul lail yang dipatok panitia pukul 02.00 Wita

Mereka terlihat membentuk komunitas. Merajut ukhuwah dan mencari ketenangan batin serta peningkatan kualitas iman. Tergerak hatinya untuk melakukan self improvement atau pengembangan diri pada sisi spiritual di tengah kesibukan duniawi

Mereka masuk dalam group WhatsApp (WA) Iktikaf Islamic Centre yang dibuat panitia di bawah penanggungjawab Ketua Harian Badan Pengelola Masjid BIC Andi Yusri yang tandem dengan sang sekjen Bambang Saputra dan pengurus lainnya
Tampak ada wajah keceriaan dari mereka. Seolah, mereka tak sekadar ibadah ritual, tetapi ingin serius memanfaatkan 10 hari terakhir Ramadan yang penuh dengan janji Allah atas pengampunan dosa-dosa yang telah lalu
Ada yang ‘cerewet’ tetapi itu semua demi kesempurnaan pelaksanaan. Menariknya, sikap anak muda yang kritis itu diimbangi dengan untaian kata maaf ke panitia. Dan, panitia justru menyebut itu baik dan ramai-ramai menjadi insan solutif, lewat meeting kecil dievaluasi dengan regulasi yang harus secara bersama dipatuhi

Dini hari itu, penerangan masjid harus dipadamkan. Itu sesuai sunah Rasulullah, ketika qiyamul lail selalu mematikan lampu agar lebih fokus. Dan, anak-anak muda itu ternyata memanfaatkan ‘momen gelap’ dan sunyi itu sebagai sarana curhat, mengadu lewat rintihan ampunan lewat sujud, mengangkat tangan dan sesekali terdengar isakan dan air mata membasahi pipi seraya bermunajat

Momen sepertiga malam itu, terlihat jadi tempat beristighfar atau meminta ampunan Allah. Karena, mereka sadar banyak dosa dan kesalahan diperbuat selama 11 bulan yang telah berjalan
Sementara, di pojok-pojok ruangan terlihat sebagian anak muda melakukan muraja’ah Quran dengan mengulang hafalan yang diyakini jadi kesempatan berharga di momen syahrul maghfirah itu.

Dini hari itu suasana jadi hidup, ada panggilan hati yang diabadikan lewat Quran surah Al-Muzzammil dengan panggilan Allah: “Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk salat) di tengah malam”. Dan itu, diimplementasikan oleh anak-anak muda yang populer dengan sebutan generasi-Z (Gen-Z) atau milenial

Mereka bangun, berdoa dan ada keyakinan bahwa setiap hamba yang memohon kepada Allah, maka Allah mengabulkan.
Selama 10 hari, mereka telah membentuk kebiasaan (habits). Ada rasa ketagihan untuk melakukan rintihan memohon ampunan. Apalagi, di Masjid BIC qiyamul lail yang dipimpin imam rawatib dan imam besar KH Zailani Mawardi tak dilakukan dengan surah panjang. Dua rakaat tahajud lebih berharga daripada banyak rakaat tanpa jiwa

Karena, ada ‘amunisi’ tambahan salat yang membuat peserta qiyamul lail semakin semangat dengan hadirnya salat hajat, taubat dan tasbih. Mereka bangun walau berat. Bediri walau mata terasa mengantuk
Seolah, mereka pasrah lewat sujud yang mungkin kedua orangtuanya tak menyaksikan praktek sujud itu, tetapi ada keimanan bahwa Allah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat menyaksikannya.
Ghirah anak muda itu, terlihat hingga akhir Ramadan. Tetapi, mereka sadar ada ‘tangan-tangan ikhlas’ yang memastikan kenyamanan dan ketertiban menyiapkan tempat, menyediakan makan sahur yang dikomandani H Achmad Idris, Kepala Serketariat dan timnya

Ada koneksi amal dari tangan mereka. Sehingga, ibadah jamaah bisa tenang dan khusuk karena persiapan panitia berjalan maksimal dan terus evaluasi day by day
Terlebih, Achmad Idris bertanggung jawab sebab harus prepare atas barisan shaf ibu-ibu yang juga jumlahnya banyak. Ditambah, sesi kenikmatan melepas dahaga disiapkannya dispenser air panas untuk menyeduh kopi dan teh

Dan, qiyamul lail 10 hari terakhir Ramadan itu, juga menarik minat Istri Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro dan istri Walikota Hj Nurlena Rahmad plus suaminya Walikota Dr H Rahmad Mas’ud dan family ikut qiyamul lail beberapa kali sambil makan sahur
Tentu, akhir dari ‘adegan iktikaf’ seluruh peserta meraih keutamaan lailatul qadar dan membawa perubahan positif bagi pribadi maupun lingkungan sekitar setelah Ramadan usai

Apalagi, di era digitalize di mana anak generasi Z (Gen-Z) sudah muncul fenomena jadi generasi digital. Tetapi, dini hari saat Ramadan di Masjid BIC itu iubah jadi Gen-Qiyamul Lail sebagai integrasi penguasaan teknologi dan peningkatan spiritual. Semoga, fase 10 malam terakhir itu jamaah qiyamul lail diampuni atas dosa dan kesalahan oleh Allah. Selamat Idul Fitri 1447 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Taqaballahu Mina Waminkum.**
*) Ketua Bidang Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Direktur Tintakaltim.Com












