TINTAKALTIM.COM-Durian! Ungkapan itu tersebar di antara rombongan yang hadir di Pasuruan untuk ikut acara ngunduh mantu putri sulung Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud, Cindara-Abdu. Kontan, lokasinya dicari. Sebelumnya, ‘promosi’ rasa itu muncul dari Andi Welly, anggota rombongan. Begitu gencar meyakinkan kaitan segi rasa dan tekstur. Sehingga, semua percaya.

“Kita hari ini harus berangkat mencari durian. Tempatnya Terminal Wisata Pasrepan. Wow di sana surga durian,” ajak Andi Welly. Entah, dirinya darimana mendapatkan info itu. Tetapi, sejumlah rombongan meyakini bahwa Andi mendapatkannya dari platform digital Tiktok.
Bergerak dari kawasan Taman Dayu Golf Club & Resrot tempat menginap, mobil hiace yang dikemudikan Edy meluncur. Tujuannya, Dusun Desa Pasrepan Kabupaten Pasuruan pada Sabtu (6/12) sebelum hadir di acara ngunduh mantu yang dimulai pukul 15.00 WIB. Sekalian, killing time dan healing-healing. Apalagi, tiket pulang ke Balikpapan masih full booked.

Dusun ini jadi tempat wisata. Selalu dikunjungi masyarakat saat weekend. Tentu, tujuannya menikmati durian. Jalannya mulus tetapi karena gunakan Mbah Google Maps, jalannya jadi melambung, padahal jika lewat exit tol lebih dekat. Apalagi, driver asal Pacitan itu belum pernah juga berkunjung ke situ.

Awalnya, rasa durian itu sudah ada di ubun-ubun. Ingin segera menikmati. Semua yang ada di dalam mobil, meyakini sampai cepat, lalu mendapatkan kenikmatan durian. “30 menit lagi sampai. Kita ikuti google maps saja,” ujar Andi Welly.
Tetapi, sudah lewat 30 menit, suara google maps itu memerintahkan bahwa masih 2 kilometer lagi sampai ke tujuan. Dalam rombongan itu ada Dirut Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PDAM) Dr Yudi Saharuddin. Turut juga Ustaz Mustaqim, Syarifuddin, Rosman Abdullah, Junaidi Latif, Aan (ADC) walikota dan Michael.

Semua gelisah, nyaris putus asa dan meminta driver memutarkan haluan kembali saja. Kendaraan dipacu kencang, masuk ke pelosok desa. Setiap sepeda motor yang membawa durian, dipersepsikan bahwa tempat itu dekat.
“Itu sudah ada warga bawa durian. Dekat sudah,” lagi-lagi Andy Welly meyakinkan. Nyatanya, tidak sampai lokasi juga. Berkali-kali turun menanyakan kepada warga, di mana lokasi pasar buah itu. Warga ditemui, jawabannya:
“Jalannya lurus saja terus, nganan. Nah nanti ketemu pasar,” ujar Andi menirukan jawaban warga agar tak berkecamuk emosi rombongan.

Tetapi, mobil yang dikemudikan Edy tak mendapatkan lokasi itu. Semua masih percaya Andi dan Gogle Maps. Karena, semuanya tak pernah ke pasar itu. Ini traveler nekat. Sebab, maps itu banyak nunjukin alternatif jalur, sehingga nyasar.
Drama saling menyalahkan pun mulai. Karena, mobil sudah tersesat hampir 1,5 jam dan muter-muter tak sampai pasar durian yang disebut-sebut rasa dan teksturnya enak.
Semua berpikir, bahwa pepatah para pemakai Google Maps adalah ‘Malu bertanya jalan-jalan’ tapi ini sudah tanya tetap sesat alias nyasar. Maklum, tak ada local guide atau petunjuk orang lokal yang ikut dalam rombongan.

Sabar! Itu yang dilakukan penumpang hiace. Kalau saja, rombongan itu menghadiri undangan resepsi perkawinan, mungkin sampai di acara sudah bubar. Karena, 1 sampai 2 jam tidak keluar dari jalur alternatif menuju pasar. Jalanan besar jadi kecil, jalanan kecil juga bertanah.
Andi Welly bertanggungjawab. Ia turun bertanya ke warga setempat lagi. “Kalau ini nggak benar lagi, kita tinggal saja di perkampungan si Andi Welly,” teriak Yudi Saharuddin yang juga bingung belum juga tiba di tempat tujuan.
Tetapi, namanya Andi, banyak alibi! Ia lalu menyebut dengan ungkapan kiasan. “Eh kalau mau menggapai pelangi, maka harus bersusah-payah dulu”.

Sama ini katanya, dengan mendapatkan taste durian yang wow “Pasti nanti setelah makan ungkapan anda semua akan mengucapkan amazing, oh amazing,” kelakar Andi Wely disambut tawa rombongan yang mampu mereduksi darah untuk tak marah.
Sayangnya, di rombongan tak ikut H Achmad Kamaluddin alias Kamal. Kalau ada, mungkin suasana agak cair. Sebab, dialah yang bisa membuat suasana gaduh ibarat kicauan burung cucakrawa.

Di lokasi pasar buah Pasrepan, suasananya tak seperti pasar tradisional pada umumnya. Di ujung halaman pasar buah ini hanya ditandai gapura. Bentuknya sederhana, di atas gapura ada tulisan Pasar Buah Pasrepan. Tetapi, penulis mulai menggetar. Karena, ‘kampung tengah’ keroncongan. Inisiatif sampai pasar itu makan pecel.
“Aneh ini, ke pasar durian tetapi makannya pecel,” kelakar Ustaz Mustaqim sambil tertawa.
Akhirnya, semua menikmati durian. Tawar-menawar harga durian terjadi. Aan menjadi bodyguard yang menawar agar harga bisa lebih rendah. Dimas, sang pemilik durian pun luluh lewat negosiasi harga yang dilakukan Aan.

Pahlawannya, Yudi Saharuddin. Ia semua yang merogoh kocek untuk membayar durian dan dinikmati di lokasi Terminal Pasar Wisata Durian Pasrepan itu.
“Bungkus bawa pulang untuk Pak Walikota dan Pak Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud,” kata Yudi. Dan, benar itulah yang disampaikan ke Aan dari walikota. “Bawa duriannya. Tapi, ini beli di mana kok nggak sampai-sampai,” tanya walikota.
Itulah cerita perjalanan di pasar buah durian Pasuruan. Semuanya, diakhiri dengan ungkapan AMAZING, meski harus nyasar. (gt)













