TINTAKALTIM.COM-Alhamdulillah! Ungkapan itu terdengar lirih dari Junaidi Latief (60), kader Partai Golkar Balikpapan saat sujud syukur mengakhiri rangkaian nazar berjalan kaki sejauh 45 kilometer di Masjid Misbahussudur, kawasan Kampung Baru Ulu Batu Arang Balikpapan Barat.
Jalan kaki 45 kilometer itu ditempuh selama 12 jam dimulai pukul 05.25 Wita hingga pukul 20.00 Wita dari Pondok Pesantren Hidayatullah Batakan Balikpapan Timur ke Balikpapan Barat (Batu Arang).

Junaidi terisak saat finish. Kendati ia lelah tetapi merasa gembira karena dapat menunaikan nazar yang sebagian pihak menilai sangat berat bahkan meragukan. Apalagi dilakukan seseorang yang usianya sudah tak muda.
“Alhamdulillah, Allah memberi kesehatan saya sehingga dapat menuntaskan nazar ini. Terimakasih Allah dan teman-teman,” ungkap Junaidi sembari terisak dan menghapus air matanya seraya mengambil air wudhu untuk salat Isya.
Junaidi tiba di Masjid Misbahussudur tepat pukul 20.00 Wita. Waktu tersebut sesuai prediksi pengurus Partai Golkar, Michael. Ia dikawal sahabatnya kader partai yakni Andi Welly, Ir Patman Parakkasi, Syarifuddin SPd, Michael, Salman, Mansyur dan H Sugito serta dr Fahmi Zamzami.

Kehadiran Junaidi membuat bingung jamaah masjid. Ada yang bertanya-tanya, ada apa tiba-tiba terisak sambil sujud syukur di depan pintu masjid. “Menunaikan nazar jika Pak RM (Rahmad Mas’ud) jadi Walikota Balikpapan, berjalan sejauh 45 kilometer,” jawab Andi Welly atas pertanyaan jamaah yang membuat jamaah masjid terkejut.
HUJAN DAN SALAT
Jalan kaki Junaidi sempat terhalang hujan. Di kawasan Gunung Tembak tepat pukul 05.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita hujan turun sangat deras. Sehingga, ia harus berteduh. Tapi, itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berjalan. Rintik-rintik diterobosnya hingga masuk kawasan tak ada hujan.

Media ini, bertemu Junaidi di Kelurahan Teritip tepat pukul 07.00 Wita. Jalannya pelan sambil menunduk dan mengenakan tas punggung warna hitam. Headphone di telinganya sepertinya jadi ‘energi tambahan’ karena sambil jalan juga mendengarkan lantunan ayat suci Alquran. Apalagi, cuaca saat itu mendukung Junaidi. Cuacanya mendung yang biasanya panas terik.
Di baju kaus putih yang dikenakan Junaidi ada tulisan: pessungo’o potaq, pettamao randang yang artinya kata Junaidi, Buang yang Keruh, Ambil yang Jernih yang merupakan falsafah Orang Mandar. Tampaknya, spirit Mandar membuat Junaidi makin mengayunkan langkahnya dengan pasti. Seolah dalam hatinya bergumam dengan joke ungkapan yang kerap disampaikan: Masih Mau Ko, lawan Orang Mandar.
COTO DAN SPIRIT BENDUM
Perjalanan tak terasa sudah sampai di Masjid Al-Amin di pangkalan TNI angkatan udara (lanud) Sepinggan. Di situ sekitar pukul 11.30 Wita, Junaidi mampir sejenak sambil menunggu salat Zuhur. Tak beberapa lama, kerabatnya Syarifuddin SPd datang dan mengajaknya untuk makan siang.

“Saya traktir coto Makassar, agar nazarnya bisa lancar,” ujar Syarifuddin, sembari men-share foto bersama Junaidi di meja makan yang di depannya ada hidangan coto Makassar. Tentu, semangat Junaidi makin bertambah. Bahkan merasa tersanjung. Yang traktir juga termasuk Andi Welly di Coto Makassar Family.
Tak lama, sahabatnya bendahara Partai Golkar H Ahmad Mallolongan atau biasa disapa ‘Pak Bendum’ datang ke masjid menghampiri Junaidi. Ia memberi spirit sembari salat berjamaah.

“Saya salut dengan Pak Junaidi. Makanya, usai melakukan vaksin harus saya susul. Demi persahabatan. Karena saya tahu, nazarnya sangat berat perlu dukungan semangat,” kata Ahmad Mallolongan.
Bendum harus datang menghampiri Junaidi di masjid. Sambil terus mengingatkan agar semangat dan pikiran selalu fresh. “Keteguhan sikap Junaidi yang saya hargai. Kendati awalnya saya pun menyarankan apa bisa diganti dengan nazar lainnya,” ungkap Ahmad Mallolongan.
Bukan itu saja, Ahmad Mallolongan senantiasa memantau perjalanan Junaidi hingga finish. Media ini selalu mendapat pesan via aplikasi whatsApp dari bendum agar terus memantau dan mengawal Junaidi.
“Tolong antum (sapaan halus yang artinya kamu), ingatkan harus berhenti sejenak untuk ishoma (istirahat, sholat dan makan),” pesan WA bendum kepada media ini. Tak hanya bertemu di masjid, bendum juga bergegas menunggu perjalanan Junaidi di kantor DPD Partai Golkar kawasan Markoni.
Ia datang bersama istri yang baru saja melaksanakan vaksin covid-19. “Kita tunggu saja di kantor DPD. Saya memang meminta Pak Junaidi untuk mengganti baju yang membawa brand Pak RM dan Partai Golkar. Termasuk juga salat dulu lalu melanjutkan perjalanan,” urai Ahmad Mallolongan yang tak henti-hentinya memberi spirit Junaidi.
ETAPE AKHIR
Usai salat Ashar di Kantor DPD Partai Golkar sembari mendapat ‘suntikan spirit’ dari Ahmad Mallolongan, terlihat juga rekan Junaidi yakni Patman Parakkasi dan Syarifuddin terus berkomunikasi dengan Udin Labu yang ikut mengawal menggunakan sepeda motor.

“Sudah sampai mana bro. Kita tunggu di DPD Kantor Golkar yo,” tanya Patman kepada Udin Labu memantau perjalanan Junaidi. Tiba di DPD, Junaidi disambut pekik takbir. “Allahu akbar”.
Lalu dibuatkan teh panas. Syarifuddin seketika menghubungi dokter Fahmi untuk melakukan pemeriksaan tensi dan saturasi oksigen. “Hasilnya bagus semua. Hebat Pak Jun,” komentar dr Fahmi.
Tak lama, perjalanan Junaidi dilanjutkan. Ia sepertinya semangat dan ingin segera menuntaskan dan mengakhiri nazarnya dengan melintasi Jalan Minyak.
“Ini perjalanan etape akhir. Harus bawa bendera Partai Golkar di kendaraan sambil mengawal Pak Junaidi,” kata Mansyur, pengurus partai yang ikut mengawal Junaidi hingga finish.
Media ini mengikuti hingga depan kantor Walikota Balikpapan. Di sana sempat berbincang dengan security gedung DPRD Arbain. “Ada apa pak. Kok sepertinya ada yang ditunggu,” tanya security. Setelah dijelaskan ada yang berjalan kaki 45 km menunaikan nazar, ia pun terkejut. “Boleh saya foto nanti pak, jadi kenang-kenangan,” pintanya.
Junaidi melintas. Ia berhenti sejenak di depan kantor walikota untuk foto in action. Security tadi juga mengabadikan. “Tetap sehat ya pak,” seloroh security.
PATWAL DAN LAMPU HAZARD
Di kawasan Pelabuhan, Patman dan Syarifuddin mengawal bak patroli dan pengawal alias ‘patwal’. Dari belakang kendaraannya mengikuti jalannya Junaidi yang lampu hazard-nya (lampu sein kiri-kanan berkedip) dinyalakan. Sementara Junaidi terus berjalan melaju menuju finish.

Tak selang beberapa lama, Andi Welly mengikuti menggunakan sepeda motor. Hanya, ‘patwal’ berubah dilakukan Michael. Mobil sedan dinyalakan pula lampu hazard-nya khususnya di sepanjang Kantor Besar Pertamina.
“Saya jadi patwal karena lokasi yang dijalani Pak Jun gelap. Khawatir ada yang menabrak. Semua berjalan lancar,” kata Miachel yang ikut mengawal Junaidi hingga finish.
PERIKSA TENSI DAN JAMAAH
Gembira! Itu sampai di akhir perjalanan. Menariknya, perjalanan Junaidi menunaikan nazar ibarat ‘perjalanan spiritual’. Karena, diakhiri dengan salat Isya berjamaah yang dipimpin imam Ir Patman Parakassi.

“Nazar ini ibarat perjalanan spiritual. Biarkan diserahkan yang menunaikan nazar. Kita hanya memberi spirit tanpa harus menyalahkan bahkan mem-bully-nya,” ujar Patman Parakkasi.
Dalam suatu riwayat Rasulullah, mengganti nazar dengan perbuatan nazar yang lain sebenarnya diperbolehkan, tetapi orang yang bersangkutan tetap harus membayar kafarat atau denda sebagai sanksi atas nazar yang tidak dilaksanakan. Tapi, bagi Junaidi, ia menunjukkan spirit dengan tidak mengganti nazar dan tetap jalan 45 kilometer.

Dari perjalanan nazar Junaidi ada silaturahmi, ada kekompakan, ada spirit dan ada saling bahu-membahu antar pengurus Partai Golkar yang ketuanya Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud SE ME.
“Wah antum juga bernazar gundul kepala ya,” pungkas Junaidi saat melihat media ini berpenampilan kepala gundul saat melaksanakan salat jamaah menutup rangkaian nazarnya. Tetap sehat semua dan terus rajut silaturahmi. (gt)












