TINTAKALTIM.COM-Angka kebocoran air minum atau Non Revenue Water (NRW) PDAM masih jadi masalah nasional. Dari data, rata-rata mencapai 40 persen. Standar atau patokan nasional berkisar 25 persen. Kini dewan pengawas (dewas) dan direksi Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) sepakat menggenjot penurunan NRW di angka 30 persen tahun 2023.
“Dari 400 lebih PDAM se-Indonesia mayoritas NRW-nya masih di angka 40 persen. Angka kebocoran itu baik teknis maupun adminitrasi ditekan turun. Dan, dari kinerja hasil perbandingan quartal 1 tahun 2022 dan quartal 1 di tahun 2023 sudah turun signifikan untuk PDAM Balikpapan,” kata Anggota Dewan Pengawas (Dewas) PDAM Balikpapan Adi Supriadi menjelaskan kinerja perusahaan air minum itu di tahun 2023.

Quartal sendiri kata Adi, cerminan periode tiga bulan pada kalender keuangan perusahaan yang jadi dasar laporan keuangan. Sehingga, akan terlihat jelas kinerjanya di PDAM. Karena, ditentukan oleh angka-angka semua aspek, produksi, distribusi maupun NRW.
“Kami dan direksi sepakat. Pada rapat triwulanan selalu berupaya agar melakukan evaluasi angka-angka. Sehingga, monitoringnya mudah dan jika ada kendala segera dicarikan solusinya,” kata Adi.
NRW atau angka kebocoran, kata Adi memiliki implikasi terhadap distribusi dan produksi air minum ke pelanggan. Sehingga, kapasitas produksi dinaikkan dan NRW turun itu sangat signifikan efeknya di pelanggan

Pada tahun 2022 katanya, ada puluhan RT yang tidak mendapatkan pasokan air PDAM. Saat ini sudah terlayani kendati harus secara teknis pelanggan diminta bersabar. “Ukuran kami pada pelayanan secara kontinuitas 24 jam. Di tahun 2022 baru 70 persen terlayani, sekarang meningkat menjadi 82 persen. Ini berkat kerja superteam di PDAM Balikpapan,” kata Adi Supriadi.
Memang katanya, ada tolok ukur (benchmark) PDAM yang secara pelayanan baik termasuk NRW rendah. Tetapi, itu tidak dapat dijadikan perbandingan (apple to apple) dengan Kota Balikpapan. Sebab, banyak faktor yang harus dilihat misalnya keberadaan air baku, tofografi wilayah yang mempengaruhi elevasi mengalirnya air serta sarana perpipaannya.
Menurut Adi, Kota Malang misalnya itu menggunakan distribusi air yang flat karena kontur wilayahnya datar. Sehingga, air yang dialirkan menggunakan mekanisme gravitasi bukan sistem pompa seperti yang dilakukan di PDAM Balikpapan.
“Kami memang akan coba kaji juga sistem gravitasi itu, hanya untuk kontur-kontur yang rendah. Apakah nanti juga dapat dijadikan kajian. Prinsipnya, PDAM Balikpapan terus berupaya melayani pelanggannya secara maksimal,” kata Adi Supriadi.
SEMUA DIVISI
Dalam kaitan memperbaiki pelayanan dan menurunkan NRW di PDAM Balikpapan kata Adi, tidak hanya pada lingkup direksi dan dewas. Tetapi, seluruh divisi yang ada harus saling mendukung. Sebab, NRW itu satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan seperti distribusi, produksi dan juga pembacaan meter air oleh petugas water meter.
“Konsentrasi kami juga tidak hanya pada tingkat kebocoran fisik. Tetapi, non fisik pun akan dievaluasi seperti sambungan ilegal (illegal connection) serta rusaknya meter air dan human error petugas. Ini yang jadi kajian bersama direksi dan divisi,” ujarnya.

Cermin faktual dari kinerja itu kata Adi, di tahun 2022 posisi NRW masih pada angka 35 persen. Tetapi, sudah terlihat kinerjanya di quartal 1 tahun 2023 menjadi 32,9 persen. “Ini penurunan sangat signifikan. Makanya kita patok 30 persen hingga quartal 4 nanti. Tentu, kami berterimakasih kepada semua divisi dan direksi yang ikut memberi kontribusi kinerja dan pemikiran untuk menurunkan NRW ini,” kata Adi Supriadi.
Oleh karenanya, pelanggan diharapkan memahami kinerja ini. Sebab, PDAM itu tidak bisa dilihat dari satu sisi. Banyak aspek yang harus dilihat. Misalnya, air baku sebenarnya itu secara holistik dilakukan oleh multi-stakeholders seperti balai wilayah sungai (BWS), PUPR, Bappeda dan lainnya.
“Sebenarnya PDAM ini kan operator, jika airnya ada tinggal diolah dan didistribusikan ke pelanggan. Makanya, kaitan air baku ini masih terus dijadikan kajian agar Kota Balikpapan tidak sampai defisit terus. Apalagi sudah jadi terasnya Ibu Kota Negara (IKN),” ujar Adi yang menyebutkan, saat ini perusahaan bertumbuh atau sehat dan pelayanan terus ditingkatkan. (gt)













