TINTAKALTIM.COM-Dilema sedang melanda PT Pertamina (Persero) yang mempunyai program cash back 50 persen untuk 10 ribu driver ojek online lewat aplikasi, kini menimbulkan ragam kritik. Bukan tak setuju program itu berjalan, tetapi harusnya tidak hanya ‘menganakemaskan’ ojol. Sektor transportasi lain seperti bus yang juga punya driver, kini pun sedang kesulitan akibat pandemi covid-19.
PT Pertamina mendapat ‘serangan’ pihak lain sebab perusahaan ini merupakan persero dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sehingga, semua lapisan rakyat harus juga menikmati programnya.
“Jujur sektor transportasi sekarang ini sangat terpukul sekali. Harusnya program cash back Pertamina itu juga untuk driver bus dan aktivitas bus. Kan sekarang masih ada rute-rute yang dilayani seperti Bontang dan Sangatta,” kata Ketua Organda Kaltim, H Ambo Dalle ketika memberikan pandangannya kaitan dampak sektor transportasi terkait wabah corona.
Sebelumnya, kritik ke PT Pertamina dilontarkan dua pengamat yakni akademisi dan peneliti bidang transportasi. Mereka adalah Djoko Setijowarno yang merupakan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, serta Peneliti Senior Institut Studi Transportasi (Instran) Felix Iryant0mo yang juga mantan Kepala Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XVII, Kaltim-Kaltara. Keduanya menilai, kebijakan Pertamina harusnya adil. (www.tintakaltim.com, Kebijakan Sektor Tranasportasi Harus Adil. Cash Back BBM 50 Persen Pertamina, Semua Transportasi Harus Dapat) .
Menurut Ambo Dalle, sekarang ini pengusaha transportasi banyak kerugiannya. Meski, dia bersyukur tetap sehat dan covid-19 adalah wabah dunia. Hanya, jika bicara transportasi seperti bus antar kota, maka yang dipikirkan bukan hanya driver, tetapi sparepart, memberi makan driver, mekanik, pengawas yang ada di teriminal-terminal. “Kalau busnya berhenti beroperasi, maka mereka tak dapat apa-apa. Kasihan juga, padahal pengusaha sudah mengikuti regulasi kaitan pencegahan covid-19,” jelas Ambo Dalle.

Sejauh ini, Ambo Dalle sebagai pengusaha dan ketua organda, selalu melaksanakan regulasi pencegahan misalnya, bus disemprot disinfektan sebelum mengangkut penumpang, seluruh penumpangnya diwajibkan menggunakan masker, termasuk ketika duduk di kursi, yang biasanya dua orang hanya 1 dan jaraknya dengan kursi lain harus 1 meter. “Penumpang dan sopir sebelum melakukan aktivitas di dalam bus, harus cuci tangan menggunakan sabun. Ini yang kita terapkan,” ujarnya.
NGGAK JALAN
Dalam konteks program PT Pertamina kaitan cash back 50 persen BBM, sebenarnya Organda Kaltim juga harus dilibatkan. Bukan untuk menuntut tetapi, BUMN itu harus untuk semua sebagai wujud bhakti untuk negeri. “Kalau sopir bus dan pengusaha bus disubsidi Pertamina juga Alhamdulillah. Kita semua ini sedang sakit usahanya. Meski harus terus beryukur karena Allah masih beri kesehatan,” ujar Ambo Dalle.
Dalam konteks bus jalur antar kota akan dijalankan, tujuannya juga ingin menyelamatkan bagaimana orang mau bepergian. Hanya ada program lockdown local atau karantina lokal maka itu tak mungkin. “Kita sebenarnya kasihan dengan penumpang yang nggak bisa jalan. Tapi, ini sudah kebijakan harus diikuti,” jelas Ambo Dalle.

Dari pantauan di lapangan, menurut Ambo Dalle, sekarang ini jika sebelumnya sehari 5 bus ada berangkat, sekarang syukur-syukur jika ada 1 bus berangkat. “Kalau ada pengusaha bus yang tidak mengindahkan pencegahan covid-19, sebaiknya itu juga harus ditindak. Sebab, mereka teledor. Kalau saya sangat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan,” kata Ambo Dalle.
Menurut Ambo Dalle, program pusat PT Pertamina itu dapat ditarik di daerah. Jajaran PT (Persero) Pertamina Kalimantan khususnya RU V dan MOR VI dapat melakukan langkah-langkah strategis. “Apa yang dapat dilakukan untuk membantu sektor transportasi termasuk sektor lain, sebab banyak sudah yang terkena dampak. Usaha tidak beroperasi, dan karyawan harus dirumahkan,” pungkas Ambo Dalle. (git)













