TINTAKALTIM.COM-Mengisi kemerdekaan banyak cara dilakukan. Panitia HUT ke-77 RI di Kompleks BTN Gunung IV Kelurahan Margomulyo RT 39 mengajak anak-anak merdeka lewat lomba sambung ayat. Acara ini penuh edukasi selain ragam lomba lainnya.

Lomba ini inisiasi dari panitia. Mereka adalah remaja di lingkungan. Semangat memeriahkan ultah RI dengan ragam kegiatan yang di-support Ketua RT 39 Neneng Julaiha (Ipon) dan dananya lewat patungan warga.
Hari pertama lomba-lomba yang kerap dilakukan di berbagai tempat saat Agustusan. Ya makan kerupuk, lari mengambil bendera, memasukkan pensil dalam botol, lomba makan biskuit, lomba sepakbola daster dan lainnya.
Keseruan dan heboh mewarnai suasana lomba. Ada orangtua yang ikut menonton. Warga lainnya sambil mengabadikan lewat smartphone baik foto maupun video.
Panitia yang terdiri kalangan generai Z (netizen) terlihat lebih enerjik dan smart. Mereka mengelola acara bak event organizer (EO) dengan rapi, terukur dan akur. Kecerian, kebersamaan berbaur untuk menghibur.
SAMBUNG AYAT
Permainan atau lomba yang menarik dibuat panitia adalah sambung ayat. Uraiannya, setiap anak harus meneruskan hafalan ayat yang dibacakan panitia. Untuk diteruskan hingga tuntas. Surahnya pendek (Juz Amma).

Kakak-kakak panitia membacakan ayat. Peserta ditunjuk untuk meneruskannya sampai ayat terakhir. Ada yang serius dan ada yang santai. Diperlukan tingkat hafalan yang maksimal.

Panitia tidak ketat. Kendati sistemnya gugur. Tak ada penilaian adab, tajwid, makhrijul huruf. Intinya pada ayat bisa meneruskan hingga tuntas atau kelancarannya. Namanya mengasah hafalan dan menitikberatkan pada pendidikan anak.
Pesertanya putra-putri. Ada satu putri mengenakan jilbab hitam dan tampil dengan santai. Ia yakin ketika ‘kakak juri’ membacakan ayat-ayat pendek untuk diteruskan atau disambung.
Ia adalah Naufa Aqilah (11), cucu dari H Siswanto (Pak Sis). Adiknya juga ikut yakni Fudhoil Ilyas (8) yang keduanya anak dari Singgih, putra Siwanto. Keduanya biasa mengasah kemampuannya atas didikan kedua orangtuanya.

Peserta lainnya adalah Fariz, Fahmi, Farhan, Kiki, Gilang yang mengikuti kompetisi sambung ayat. Mereka duduk berbaris. Panitia memberikan mikropon untuk meneruskan bacaan.

“Sambung ayat ini menarik, sebab mendidik anak-anak untuk menghafal Alquran. Yang terbiasa dan hafal sangat cepat menyambung ayatnya. Nggak mudah lho, mereka anak-anak, coba orangtua belum tentu secepat mereka,” seloroh Bu RT Ipon.

Penampilan Naufa Aqilah meyakinkan. Surah yang harus disambung pilihan panitia menyesuaikan usia. Surah Al-Humazah. Agak memerlukan tingkat hafalan tinggi dan beda dengan ayat pendek lainnya. “Dengarkan baik-baik ya. Wailul likulli humazatil lumazah,” kakak panitia langsung menunjuk Naufa Aqilah.

Wow! Naufa tenang dan sangat fasih menyambungnya: Alladzii jama’a maalaaw wa’addah. Hingga sampai ayat akhir, innahaa ‘alaihim mus’shodah. Fi ‘amadim mumaddadah. Sempurna dan lancar. Pantas, jika juri memilihnya jadi juara 1, sementara sang adik Ilyas juara 2.

Suasana kelakar, lucu pun terjadi di sambung ayat. Misalnya saat anak-anak diminta menyambung surah Al-Falaq; “Ayo disambung ya, dengar baik-baik,” kakak panitia menyapa peserta lainnya.

“Qul a’uzuu bi rabbil-falaq”. Diskusi terjadi antara panitia dan peserta: “Nggak bisa, saya ngga bisa”, ungkap Farhan, peserta yang mendapat giliran kedua. Biasa, namanya anak-anak terpusat pada hafalan. Bisa lupa karena nervouz alias gugup, sejatinya sebenarnya mampu. Tapi karena di depan umum jadi blank.

Untungnya kakak panitia tidak saklek (tidak bisa ditawar-tawar). Kendati sisitem gugur, masih diberi kesempatan kedua. “Coba lagi ayat ini,” ungkap panitia sambil membaca Surah An-Nas. “Qul a’uzu birabbin naas,”. Farhan sontak menjawab: “Malikin naas, ilaahin naas hingga akhir ayat minal jinati wan naas,” Farhan tersenyum dan kakak juri memberi apresiasi.

Sambung ayat ini terasa penuh dengan nuansa pendidikan. Singgih, orangtua Naufal dan Ilyas hadir menyaksikkan langsung anaknya berlaga ditemani Siswanto yang fokus menyaksikan cucu kesayangannya berkompetisi.

Haidir, warga RT 39 yang juga jamaah Masjid Asy-Syifa memberi ‘nilai jempol’ pada panitia yang memasukkan lomba sambung ayat. Ia menyebut, Alquran harus diajarkan anak sedini mungkin. Apalagi bagi yang membacanya, Allah menjanjikan pahala berlipat ganda.

“Baca 1 huruf saja, Allah mengalikan sepuluh amalan, bayangkan jika 1 juz dibaca anak-anak itu. Subhanallah, terimakasih anak-anak dan panitia,” puji H Haidir yang ikut menyaksikan lomba itu.
Hendra, mualaf yang fasih ayat-ayat pendek tertawa mendengar cerita anaknya Farhan. Hanya ia mengakui, selalu berupaya maksimal anaknya mengaji.
“Namanya anak-anak. Kalau disuruh mengaji susah banget. Tapi, dia itu hafal, hanya kalau potongan ayat di tengah, orangtua pun susah. Bisa kita coba,” kelakar Hendra, yang mencoba surah Al-Kafirun dan ternyata fasih.
Ketua Masjid Asy-Syifa H Rahmadi menimpali: “Saya meskipun hafal Surah Al-Kafirun, tapi takut kalau dibaca saat jadi imam. “Bisa tepulalit (beberlit dan terputar) lidah dan tak bertemu ujung ayatnya,” ujar Rahmadi sembari tertawa.
Sambung ayat berbeda dengan tahfidz atau menghafal yang sering dilombakan di musabaqah Alquran. Tapi seluruh peserta sambung ayat tampil dengan happy kendati perasaan dag-dig-dug. Mereka adalah generasi estafet cerdas yang soleh dan solehah di masa mendatang.
TUMPENGAN DAN HADIAH
Di akhir acara, setelah selama dua hari panitia menggelar perlombaan unik dan kreatif ada tumpengan Agustus. Ya tumpengan identik dengan perayaan HUT RI sebab disimbolkan bentuk rasa syukur atas Kemerdekaan RI yang kini dinikmati warga.

Ternyata kata Sukamto, warga BTN yang juga Ketua Komunitas Pejalan Kaki BTN (Kaki BTN), tumpeng itu masuk dalam etimologi masyarakat Jawa.
“Tumpeng itu akronim atau singkatan dari metu kudu mempeng (keluar harus sungguh-sungguh semangat). Sehingga hakekatnya semangat dan bersyukur karena Indonesia merdeka. Makanya sering ada tumpeng,” urai Sukamto.
Media ini menyaksikan langsung panitia yang kalangan anak muda. Mereka terlihat semangat selama 2 hari. Dari membungkus hadiah, ada yang memandu anak-anak lomba sampai master ceremony (MC) di-handle maksimal. Congratulation anak muda. Kalian the best.
Di akhir acara diramu dengan tumpengan sekaligus pembacaan doa oleh marbot Masjid Asy-Syifa berlangsung penuh khidmat dan suka-cita. Sebab sekaligus pembagian hadiah lomba-lomba yang digelar selama 2 hari.
“Terimakasih panitia, saya salut atas kerja-kerja memandu lomba di lapangan. Juga buat warga RT 39 yang sudah membantu dengan dana. Semoga semua jadi amal jariyah Kemerdekan RI. Kita tidak berperang tetapi ini semua wujud menghargai nilai-nilai perjuangan para pejuang,” ujar Ketua RT Ipon.
Ia pun berharap, di tahun depan ada lomba yang dikhususkan untuk bapak-ibu (dewasa). Bisa lomba tumpeng, lomba bapak-bapak adu kemampuan olah vocal (karaoke) atau lomba bapak-bapak bersarung menangkap ayam dengan mata tertutup. “Semua itu bisa kita lakukan. Catatannya kita bersaudara dan kompak untuk kepentingan lingkungan RT. Selamat dan sukses untuk semua,” pungkas Bu RT. (gt)













