Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Di kalangan institusi polri, sebutan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi atau Sespimti sudah lumrah serta jadi angan-angan perwira baju coklat. Pesertanya yang kerap dilabelisasi dengan peserta didik (serdik) ibarat masuk wadah laboratorium pendidikan.
Mereka ditempa melalui proses pendidikan, pelatihan dan penggemblengan sangat keras dan penuh tantangan untuk dibentuk menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter mulia

Ibarat mitos kisah pewayangan Gatotkoco, seolah mereka masuk dalam tempaan kawah candradimuka dan keluar sebagai perwira yang memiliki idiom otot kawat, balung wesi. Itu metafora menggambarkan begitu mereka tahan banting untuk meraih prestasi dan akhlak yang baik serta terpuji
Aktivitas itu dilakukan peserta didik (serdik) Sespimti angkatan ke-36 saat mengikuti Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) di Balikpapan Provinsi Kaltim. Mereka melakukan mitigasi dan penanggulangan secara detail kaitan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), karena fenomena ini terjadi di bumi Kalimantan

Dari sekian peserta, terlihat ada dua mantan Kapolres Balikpapan Kombes Wiwin Fitra dan Kombes Thirdy Hadmiarso dan mantan Kabid Propam Polda Kaltim Kombes Pol Syaiful Wahyudi
Media ini merangkum keterangan lewat wawancara dengan berbagai pihak, termasuk sejumlah serdik. Ternyata, tidak mudah untuk masuk Sespimti dan lulus dalam kualifikasi terbaik dan akhirnya melaju menjadi perwira tinggi (pati)

Serdik Sespimti itu, jika unsur polri mereka berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol), beda jika unsur TNI harus pangkat Kolonel. Kedua pangkat dua unsur institusi ini sebenarnya setara hanya beda institusi. Itu sebagai syarat kompetensi dan akselerasi karier sebelum melaju ke gerbang jabatan perwira tinggi (pati)
Serdik maksimal memiliki sudut pandang strategis. Jika di bangku kuliah, maka menempuh pendidikan strata-3 (S-3) lulusannya bergelar doktor. Karena, mereka memiliki bobot akademi kedalaman analisis dan proses pertangungjawabannya sangat menguras energi maka disetarakan lulusan Sespimti itu bergelar doktor

Selain rekam jejak personel individu, kegiatan PKDN jadi penting. Tema Karhutla yang dibahas lewat Focus Group Discussion (FGD) di Balikpapan misalnya, itu berdasarkan analisa dan serdik harus punya strategi implementatif dan wadah itu jadi pemecahan masalah (problem solving)
“Makanya jenjang tingkatannya membuat tugas disertasi yang diuji penguji. Jadi semua Serdik Sespimti diibaratkan lulus bergelar doktor,” kata salahsatu serdik yang rehat sebelum acara digelar di Gedung Mahakam Polda Kaltim
Bagi bapak berpangkat kombes tadi, kalau di bangku kuliah raihan gelar s-3 itu pembuktian teori baru. Tapi, jika serdik Sespimti membuat dan mempertahankan naskah strategis perorangan (nastrap) dan memiliki bobot ilmiah yang menjadi karya tulis ilmiah dan disusun sebagai syarat kelulusan Sespimti.
“Bobot analisisnya semacam SWOT atau pisau strategis membedah suatu masalah,” jelas perwira yang pernah menjabat di Jember Jawa Timur tersebut

Belasan kombes serdik Sespimti didampingi dua jenderal berpangkat dua bintang yakni Irjen Pol Dr Sabilul Alif dan Irjen Pol Dr Joko Setiono yang keduanya sebagai Widyaiswara Kepolisian UtamaTingkat I Lemdiklat Polri
Sabilul yang mantan Wakapolda Kaltim memang populer di kalangan kombes dengan julukan ‘sang guru’. Karena, sejumlah prestasi gemilang di bidang akademis, penugasan strategis pernah diraihnya. Bahkan, ia menjadi lulusan terbaik Lemhanas 2022 dan rekam jejak lapangannya menonjol

“Mereka para serdik harus memiliki pemikiran strategis dan rekomendasi konstuktif karena ke depannya menjadi perwira yang mengambil kebijakan strategis. Seperti PKDN di Kaltim, maka harus dapat melakukan mitigasi dan penanggulangan Karhutla,” kata Sabilul, lulusan Akpol 1996 yang pernah jadi ajudan Wapres KH Ma’ruf Amin ketika doorstop dengan wartawan sebelum acara FGD dimulai yang juga dihadiri Ketua Senat Serdik Sespimti-36 Kombes Donny Alexander dan Kasespimti Lemdiklat Polri Brigjen Eko Suprihanto
KOLABORASI
Kaitan Karhutla, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro juga mengingatkan, pentingnya serdik melakukan penanganan terpadu dari pencegahan, kesiapsiagaan, respons di lapangan hingga penegakan hukum
“Persoalan Karthutla tak bisa ditangani oleh satu institusi saja, melainkan butuh komitmen dan koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan,” jelas Kapolda

Sehingga katanya, FGD bertema Karhutla ada keterlibatan masyarakat seperti tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, mahasiswa dan media untuk mendeteksi serta mencegah potensi kebakaran sejak dini.
Dan menurut Kapolda, untuk data komprhensif serdik, dihadirkan sejumlah narasumber berbagai elemen keilmuan yakni Dinas Kehutanan, BMKG, Kejaksaan, Polda Kaltim, BPBD, TNI dan Gakkum Dinas Kehutanan
Kapolda memberi arahan ke Serdik Sespimti untuk melahirkan rekomendasi memperkuat kebijakan strategis penanggulangan di Kaltim tak hanya dari sisi penegakan hukum (law enforcement) saja, sebab itu tak akan tuntas. Sehingga, perlu langkah-langkah inovatif untuk selanjutnya bisa menjadi legacy bagi peserta Sespimti.
Irjen Sabilul Alif menegaskan, FGD sebagai salahsatu fokus pembahasan para serdik melaksanakan PKDN. Bukan datang dan melihat persoalan karhutla juga memberi masukan yang konstuktif, berpikir strategis, bukan sekadar memadamkan api tetapi melakukan mitigasi agar api tidak sampai terjadi
INOVASI SESPIMTI
Pada PKDN Sespimti ke-36 di Balikpapan, Serdik perlu diapresiasi. Karena, mereka melakukan inovasi lewat ujicoba menggunakan cairan X-Fire dari bahan Hartindo AF31 yang dikembangkan dari gagasan Mabes Polri untuk melakukan penetrasi pendinginan dalam membantu percepatan pemadaman berbasis teknologi kerjasama dengan Satuan Brimob Polda Kaltim
Peserta FGD benar-benar mengungkap fakta lapangan. Mereka on the spot untuk melihat dari dekat bagaimana data-data itu diambil. Sehingga, membuat rekomendasi akan objektif

Mereka pun sangat mengakomodir kebijakan kearifan lokal yang disampaikan tokoh adat dalam membuka lahan tanpa bakar dengan persepsi bukan membakar hutan. Serta, inovasi yang disampaikan inovator vocasional Agus Supriyono dari Universitas Mulawarman (Unmul)
“Kami membuat rekomendasi seobjektif mungkin. Sehingga, turun ke lapangan menghimpun data. Termasuk yang diungkapkan tokoh adat Dayak di forum FGD bagaimana kebijakan terkait kearifan lokal (local wisdom) dalam melakukan mitigasi Karhutla,” kata Kombes Zulham
BERBAGAI FAKTOR
Sespimti adalah tiket untuk menjadi pati. Hanya, sejumlah pihak menilai untuk ‘pecah bintang’ berbagai faktor bisa memengaruhi misalnya kaitan keberuntungan (lucky) dan pengaruh koneksi (circle) dan sering jadi realitas terbuka dan dibahas sejumlah pemerhati
Hanya, analisa itu tak selalu juga benar. Ada kalanya, ‘pecah bintang’ harus melalui administrasi ketat dan lulus semua penilaian yang boleh disebut basisnya meritokrasi atau merit system dengan mengedepankan manajemen talenta
Sehingga, tiket kualifikasi bagi perwira untuk masuk dalam radar mutasi jabatan bintang satu juga mengedepankan kualitas atau mutu. Mereka diukur sisi kompetensi, kinerja, prestasi dan integritasnya

Perwujudan meritokrasi itu dasar penilaian tak melulu subjektivitas di atas. Sebab, seleksi ketat masuk Sespimti harus melalui saringan perwira terbaik berdasarkan rekam jejak tanpa cela
Kurikulum berbasis data dan integrias jadi unggulan bagi Sespimti. Karena, mereka akan jadi sosok pemimpin sehingga harus memahami isu nasional dan berbagai persoalan yang jadi fenomena negeri
Hanya, media ini juga mendapat informasi tantangan meritokrasi di lapangan sering jadi handicap. Meskipun polri memiliki aturan baku berbabasis merit system tadi, secara struktural sering muncul di permukaan

Misalnya saja, masifnya angka kelulusan dan kenaikan pangkat ke jenjang Brigjen terkadang memicu ketidakseimbangan antara jumlah jenderal yang pecah bintang dengan ketersediaan pos jabatan strategis sehingga mereka seperti menyandang predikat ‘jobless’ secara umum karena juga faktor adanya fenomena hambatan (bottleneck)
Dari data, jumlah pangkat Kombes alumni Sespimti jauh lebih banyak daripada jumlah posisi atau jabatan. Ribuan perwira menengah bersaing untuk berkompetisi masuk dalam jajaran yang pecah bintang satu
“Rekam jejak kedekatan loyalitas dan chemistry dengan pimpinan tertinggi bahkan hingga lingkaran kekuasaan eksekutif bisa menjadi variabel penentu.,” ungkap sumber media ini yang menambahkan, faktor keberuntungan bisa sering jadi momentum politik atau momentum organisasi
Secara objektif, performa akademis dan rekam jejak operasional di lapangan bertindak sebagai tiket masuk. Namun, dorongan dari jaringan juga lucky menentukan siapa yang akhirnya melintas di garis finish secara maksimal
Hanya, untuk menuju pangkat bintang sebenarnya juga dari hasil seleksi yang ketat dengan melihat kompetensi dengan basis penilaian profesional. Sukses Serdik Sespimti-36, semoga karya dan rekomendasinya membuahkan legacy untuk meraih prestasi ke jenjang pati.**
*) Ketua Bidang Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Wartawan












