TINTAKALTIM.COM-Sekretaris Umum (Sekum) Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI Kaltim Riza Fahrizal menyebut, Bayan Open 2026 peluang untuk memoles atlet bulutangkis muda di Kaltim. Apalagi, sudah dicapainya Sirkuit Nasional (Sirnas) C
“Tetapi jika bicara desain besar pembinaan dan pengembangan olahraga bulutangkis di Kaltim, perlu blueprint dan ekosistem. Karena, itu mata rantai yang tak boleh terputus dan harus terintegrasi,” kata Riza kepada wartawan saat press conference kaitan Bayan Open 2026 di Convention Hall Platinum Hotel, Minggu (23/8/2026)

Riza memiliki ekspektasi besar terkait kemajuan atlet bulutangkis dan prestasinya di Kaltim. Sehingga, ia memperjuangkan dan menggelar event berskala Sirkuit Nasional (Sirnas) dan ada 5 di Kaltim terdiri empat Sirnas C dan satunya seri Sirnas B
Semua itu dilakukan Pengprov PBSI Kaltim kata Riza, menjadi barometer pembinaan atlet dan ruang untuk harapan bertanding bagi atlet usia muda agar mampu menembus pelatnas

“Kami di Pengprov Kaltim selalu koordinasi dengan Ketum PBSI Kaltim Mudyat Noor yang juga Bupati Penajam Paser Utara (PPU). Karena, regenerasi atlet harus diukur dari strategi pembinaan klub serta terintegrasinya semua elemen untuk kemajuan bulutangkis di Kaltim,” jelas Riza Fahrizal
Terkait ekosistem olahraga bulutangkis kata Riza, itu unsur vital dan diawali dari PBSI sebagai induk olahraga yang orientasinya pada dorongan proses pembinaan dan prestasi serta peningkatan SDM
“Tak mungkin atlet berjalan sendiri, makanya SDM itu termasuk perangkat pertandingan sepereti ada unsur legalisasi dan kaderisasi referee berjenjang dan berkualitas. Termasuk, menyusun kalender turnamen, daftar ranking atlet serta sertifikasi pelatih di perkumpulan-perkumpulan,” urai Riza

Ekosistem bulutangkis lainnya dan tak kalah penting, keberadaan Perkumpulan Bulutangkis (PB). Ini sentral pembinaan karena program latihan digelar di sini dan di Kaltim ada 86 perkumpulan tersebar di 10 kota-kabupaten dan terdata di Sistem Informasi (SI) PBSI yang totalnya 1.700 atlet.
KENDALA
Hanya kendala pembinaan bulutangkis kata Riza, terletak pada finansial. Ini perlu dukungan kerja lewat partnership atau sponsorship dari perusahan swasta, BUMD-BUMN dan pemerintah daerah.
“Kalau yang berminat untuk menggelar event banyak. PBSI Kaltim sangat memberi apresiasi positif. Sebab, itu juga pintu awal pembinaan. Tetapi, bicara bulutangkis itu sangat detail dan harus lengkap,” kata Riza

Secara berkelanjutan (sustainable) katanya, suksesnya prestasi pembinaan bulutangkis harus melihat lapisan usia pemula atau dini yang biasa disebut ‘layer bawah’. Ini bagian dari integrasi ekosistem tadi, karena pembinaan atlet diawali usia muda.
“Ekosistem utama justru sponsorship karena akan menjadi fondasi dan akar regenerasi utama bagi atlet sebelum mereka naik ke ‘prestasi elite’,” jelas Riza
Makanya kata Riza, ekosistem pembinaan diperlukan dari PBSI yang secara sistematis dikembangkan klub di 10 kota-kabupaten untuk cikal bakal pemain-pemain di daerah yang pada gilirannya masuk ke klub besar dan pembinaan itu menghasilkan prestasi

“Ini yang kita dorong untuk menjadi ekosistem yakni sponsor dan donatur jarang melirik ‘layer bawah’ atau pemain pemula, padahal itu penting. Tak mungkin, PBSI dan PB itu melangkah sendiri,” kata Riza
Makanya PBSI Kaltim katanya, melakukan sinergi dan kolaborasi dengan PBSI kota-kabupaten untuk melakukan regenerasi atlet. Sebab, tanpa pembinaan berjenjang yang kuat di level bawah, prestasi bakal mandek dan kehabisan stok pemain andalan di masa depan.
“Pembinaan itu juga mental. Sejak usia dini dipoles, maka ketika bertanding memiliki kedisiplinan dan sportivitas sebelum melaju ke turnamen profesional yang lebih berat. Ini kita harus lakukan,” kata Riza
Berikut, intensitas turnamen yang jadi persoalan utama di Kaltim yakni kerap dilakukan di pulau Jawa secara data ada tujuh kali setahun. Tentu, jadi problem mendasar atlet Kaltim untuk ikut dalam kompetisi itu
“Itu jadi ruh dan fondasi utama eksositem olahraga bulutangkis di Kaltim jika ingin meraih prestasi puncak. Padahal, Kaltim juga punya bibit-bibit unggul pebulutangkis handal. Solusinya,, ekosistem yang terintegrasi ini bisa segera dibentuk,” pungkas Riza. (gt)













