TINTAKALTIM.COM-Kerja cerdas dan cepat. Itulah yang dilakukan tim program Google for Education (GFE) di SDN 009 Kelurahan Graha Indah Balikpapan Utara. Dalam waktu yang boleh disebut prematur atau percepatan sekitar 18 bulan, program Sekolah Rujukan Google (SRG) sudah teralisasi 100 persen

“Kita memiliki peta jalan (road map) yang diawali gurunya harus 100 persen bersertifikat L1 dan L2 dan memilikii inovasi pembelajaran di luar kelas (outdoor),” kata Penanggungjawab atau Personal in Charge (PIC) Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) SDN 009 Eliesa Ayu Anatasya SPd yang biasa disapa Ayu mendesain digital learning di sekolah tersebut

Kepada Tintakaltim.Com, Ayu membeber kisah heroik untuk implementasi 100 persen. Waktu yang ideal harusnya 2-3 tahun, tetapi direalisasikan lebih cepat 18 bulan dengan dukungan trainer Sevi Ema Melati SPd dan Kepsek Iin Ratmayati SPd dan dewan guru lainnya
Penyiapan guru bersertifikat Level 1 itu kata Ayu, sang guru harus memahami tingkat dasar seperti Google Classroom, Google Workspace dan lainnya. Sementara Level 2 sudah menjadi guru yang bisa melakukan integrasi program digital

Maka kata Ayu, fondasi awalnya membuat program inovasi blended & outdoor learning atau pembelajaran menggabungkan tatap muka dan daring secara sistematis untuk optimalisasi baik di kelas maupun luar kelas
“Kita berinteraksi antara guru dan anak didik, lalu mereka kita ajarkan bagaimana memanfaatkan fitur aplikasi Google lewat sarana Chromebook. Materinya beragam baik audio visual maupun e-book,” rinci Ayu atas kerja-kerja inovatif itu.

Bagi Ayu, waktu 18 bulan sebagai langkah kerja superteam yang luar biasa. Jika dilihat dari karakter anak didik dan secara geografis wilayah, SDN 009 dihuni warga dengan pola pikirnya berbeda dengan ‘orang kota’. Itu jika bicara literasi digital yang tantangannya sangat signifikan
“Disparitasnya kan besar dalam akses perangkat keras dan koneksi internet pada lingkungan seperti SDN 009. Belum lagi kondisi ekonomi masyarakatnya seperti sektor pertanian yang tidak bisa dibandingkan dengan ‘kalangan the have’ perkotaan,” contoh Ayu yang membuat tafsir kelompok masyarakat pada sisi pendapatan (income).

Hanya katanya, kerja-kerja blended learning itu membekali siswa untuk menggunakan chromebook dan Google sebagai sarana input data untuk pengamatan atau pembelajaran yang diberikan para guru
“Belajar dari konvensional menuju digital itu bukan ilmu tambahan. Tapi sudah membentuk pola pikir, gaya belajar untuk menghadapi industri masa depan. Sebab, ini dari belajar tatap muka ke basis platform,” jelas Ayu

Bagi Ayu, peran guru pada konsep digital berubah menjadi learning designer. Mereka tak hanya penyampai materi tetapi jadi arsitek pengalaman belajar yang basisnya digital, sehingga diperlukan skill di bidang teknologi
Makanya kata Ayu, SDN 009 memiliki peta jalan misalnya kaitan dukungan internet, harus merajut kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) untuk konten dan PT Telkom untuk internet
“Target-target indikator keberhasilan menuju Sekolah Rujukan Google (SRG) dari validasi akhir targetnya tercapai. Misalnya sertifikasi guru L1 dan L2 itu sudah 100 persen dan lainnya,” ungkap Ayu
Makanya kata Ayu, kerja 18 bulan itu dengan kemitraan bisa menghasilkan lokasi belajar outdoor berbentuk gazebo. Sebelumnya, siswa berada di lorong-lorong jalan yang kondisinya kurang nyaman
“Sekarang lokasi belajar digitalnya nyaman. Tinggal siswa dituntut mandiri dan proaktif. Pengelolaan waktu, manajemen tugas dan kemampuan diserahkan individu masing-masing. Hanya, perlu dorongan dari atas atau top down yang saya sebut action to teacher atau guru harus bergerak,” jelas Ayu yang menambahkan istilah itu untuk inisiatif meningkatkan kompetensi dukungan bagi guru

Sementara itu, guru lainnya Gabriella Paradytha Sulu yang mengajar kelas 3 menyebutkan, proses digital learning di kelas berjalan sangat interaktif lewat Chromebook
“Untuk membangun tugas kita gunakan Google Classroom yang bisa interaksi sebagai pusat pembelajaran. Guru bisa membagikan materi dan berkomunikasi dengan siswa. Dan siswa bisa menyerahkan tugas langsung dinilai guru,” kata Gabriella

Akunnya kata Gabriella menggunakan Belajar.Id dan di sinilah tata belajar siswa dilakukan. “Mereka tidak dapat melakukan pengembangan platform. Sebab, hanya ada 8 aplikasi yang digunakan dan itu bisa dimonitor guru,” kata Gabriella yang menyebut kolaborasi itu bisa dilakukan realtime. (gt)













