TINTAKALTIM.COM-Mereka warga yang selalu rukun. Tak pelak, jika ada kegiatan kerja bhakti di lingkungan kompleks rata-rata datang. Ada juga yang absen tapi tak mengurangi semangat. Apalagi ada menu nasi kuning (naskun) dan the gun alias degan (kelapa muda yang diminum airnya) yang jadi pendorong gotong-royong

Tentu dari absen bisa ditebak warga yang tak datang. Karena, Bu RT Neneng Zuleha bawa daftar absensi. Catat nama, nomor rumah dan tandatangan. Maksimal, 25 warga padahal warganya sesuai kepala keluarga (KK) ada 50-an

Dan, penulis kok bisa klop di urutan 17 absen serta tandatangan dengan nomor rumahnya 17 . Yang tak hadir menurut Neneng bisa saja sibuk. Tapi, ada yang sudah terbiasa nggak mau ngumpul. Justru yang menarik, bapak-anak hadir di gotong-royong itu Rachyudi dan Adi. Termasuk, suami-istri Siswanto-istri dan Prayitno-istri.

Jika kumpul, warga ada guyonannya. Degan jadi the gun, merujuk bisa judul film atau senjata api berupa pistol. Nah, di RT 39 BTN, ada warga punya pistol dan resmi. Sebab, ia mantan sekjen Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Balikpapan. Dia adalah Ali Umbri.

“Sebenarnya the gun itu ya degan. Pistolnya punya Pak Ali Umbri. Awas, jangan cek-cok sama Pak Ali, ditembak kita. Kalau degan enak diminum,” kelakar Agus Haryanto, sahabat Ali Umbri yang selalu berkelakar jika ada gotong-royong

Cerita the gun, Ali Umbri memiliki pistol. Tapi, sifatnya standar dan kalibernya kecil. Sebenarnya, kalau ada orang berbuat jahat di kampung, lapor saja ke Ali Umbri. Pistolnya tipe glock standar, maling pasti takut.

“Maling atau orang berbuat jahat sama warga, panggil saja Pak Ali Umbri, nanti kan ada tembakan peringatan ke udara. Apa itu warning shot. Nah, pontang-panting malingnya,” ejek Agus Haryanto CCTV ini.
Ali Umbri hanya senyum. Karena, kalau kumpul dan silaturahmi atau berada di group WhatsApp (WA) tak boleh bawa perasaan (baper). Supaya rileks dan hatinya adem. Kalau baper, bisa stres dan stroke.

“Kalau nembak maling bisa saja. Sudah tua, umur saya kepala 6. Nah, nembak lainnya mungkin beda yo semangatnya,” kelakar Ali Umbri, bapak yang pernah di TNI Angkatan Udara (AU) ini.

Kaitan degan juga disampaikan H Nursalim yang kerap jadi imam Masjid Asy-Syifa. Ia menyebut, degan dan cengkir itu berbeda. Kalau cengkir, lebih ke pentil kelapa.
“Kalau degan ada yang kelapa muda tapi lebih tua dari cengkir,” jelas Nursalim seraya memotong kelapa muda untuk diminum airnya.
NASKUN
Tak hanya degan, menu gotong-royong ada naskun. Olahan nasinya Bu RT. Lauknya ikan, mie, sambal goreng dari Bu Siswanto dibantu Bu Narta. Lauknya datang duluan. Tapi, nasinya belum. Bisa saja trik Bu RT agar tidak buru-buru makan, sebab masih kerja bhakti.

Saat ditanya nasi? Pak Siswanto menimpali. “Wah nggak tahu saya. Urusan kita lauk, mungkin sebentar lagi datang,” ujarnya.

Tak lama, nasi kuning itu datang. H Rahmadi ‘kampung tengahnya’ sudah keroncongan. “Pulen naskunnya. Saya nambah, karena enak. Malu mau bicara lapar,” guyonnya.
Selain dua menu tadi, pasutri Hj Yatti-Prayitno mengeluarkan ‘menu andalannya’ kukus sukun sambel padas yang diletakan di gazebo. Tentu, jadi camilan yang cocok di pagi hari
PELEPAH
Di acara gotong-royong itu, Rudi Rahmadi cekatan. Ia memangkas pelepah (dahan) kelapa menggunakan tangga. Terlihat seram, tetapi karena ‘tangga lentur’ aman saja. Meski sebenarnya, tangga itu kurang stabil di batang pohon yang bulat. Tapi, Rudi Rahmadi terlihat profesional. Sepertinya terbiasa memanjat kelapa di kampung halamannya Banjarmasin

“Saya sudah samping kiri dan kanan dengan sabit pelepah daun kelapa terpotong. Asal tangganya tidak miring dan body yang naik tak besar,” ujarnya seraya mengejek rekannya Dani naik tetapi disambut senyum sebab urusan big body

Rudi memangkas pelepah satu per satu. Ada yang pelepah sudah mati, menguning tetapi ada juga daun hijau yang masih sehat. Khawatir teman-teman pelepahnya yang hijau stress lihat temannya dipangkas

Selain gotong-royong di kawasan lapangan, pengurus masjid dipimpin H Nur Ali juga melakukan pengecatan di halaman masjid dimotorin Dani, Pras, H Haidir, Ivan Samuel dan lainnya dengan cat warna grey (abu-abu).
“Sampah-sampah yang ditumpuk itu nanti kita minta bantuan petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Nanti diangkutnya,” jelas Neneng. Rajut terus persaudaraan antar tetangga. An-Nazhafatu minal iman (kebersihan sebagian dari iman). (gt)













