TINTAKALTIM.COM-Sahabat itu jatuh cinta dengan Rasulullah SAW karena akhlaknya. Sehingga, memperingati Maulid Nabi tak sekadar mengenang sejarah lahirnya Rasulullah tetapi jadi ajang meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

“Rasulullah hadir itu sebagai cahaya bagi alam semesta, tak hanya pada sisi yang tampak (zahir) tetapi spiritual. Karena, risalahnya membawa keselamatan bagi manusia,” kata Dewan Guru Majelis Rasulullah Balikpapan Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi pada acara peringatan Maulid Nabi di kediaman pasangan Andreas Usman dan Andi Tarisnah, Kompleks Perumahan BTN Gunung IV Nomor 13 RT 39 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat, Minggu (7/9/2025).

Peringatan Maulid Nabi SAW 1447 H itu dirangkai syukuran hari jadi anak Andreas-Andi, Aqel (17) yang diisi juga rebana hadrah dari Kerukunan Keluarga Martapura (KKM) yang dihadiri warga di lingkup BTN, keluarga, handai-tolan dan undangan lainnya.

Menurut Habib Ali, jika bicara sosok Rasulullah semuanya jadi indah. Bahkan, figurnya hadir sebagai cahaya yang menerangi bumi. Tak heran, jika ada selawat thola’al badru ‘alaina jadi penghormatan untuk Rasulullah.

“Thola’al badru ‘alaina itu disimbolisasi sebagai bulan purnama yang hadir kepada umat manusia. Dan, selawat ini selalu dikumandangkan kaum ansar di Madinah untuk menyambut kedatangan Rasulullah,” cerita Habib Ali.
Dalam tausyiah-nya, Habib Ali menyebut jika bicara kaitan Rasulullah semuanya indah tak membosankan. Sebab, ia figur yang mulia dan mencintai umatnya. Waktu yang lama terasa pendek. Beda jika cerita sosok lainnya tentu baru dimulai sudah membosankan.

Habib Ali lalu menceritakan bagaimana sosok Rasulullah itu. Digambarkan, Halimatus Sa’diyah ibu susu Rasulullah SAW yang mengasuh Nabi selama 4 tahun menilai sosoknya lebih indah dari rembulan dan itu maknanya adalah pancaran akhlak dan sosok mulia memiliki kharisma tersendiri yang terpancar dari fisik maupun perilakunya.
“Makanya, orang yang memperingati Maulid Nabi itu akan selalu cinta Rasulullah. Dan, saya doakan Kompleks Perumahan BTN selalu diterangi cahaya Rasulullah dan warganya mendapatkan syafaat (pertolongan) di yaumul akhir kelak,” jelas Habib Ali.
AKHLAK AGUNG
Dalam tausyiah-nya yang lain, Habib Ali juga menyinggung akhlak Nabi Muhammad SAW yang dinilai agung. Dan itu dijelaskan dalam Alquran Surah Al-Qalam dengan sebutan wa innaka la’ala khuluqin azim atau sesungguhnya Rasulullah benar-benar berbudi pekerti yang agung.
“Itu menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki sifat-sifat terpuji yang jadi cerminan ajaran Alquran,” urai Habib Ali.

Begitu agungnya, sampai-sampai kata Habib Ali, sahabat Rasulullah, Hadi bin Hatim At-Thai sangat mengagumi akhlak Rasulullah dan dia sampai disebut ‘raja’ pengagum akhlaknya Rasulullah.
Bahkan dalam suatu hari, Hadi bin Hatim berkunjung ke rumah Rasulullah. Begitu sederhananya kehidupan Baginda Rasulullah. Atapnya rendah, hanya memiliki satu ruang utama untuk kegiatan dan tidur. Bahkan diperkirakan ketinggian atapnya kurang dari 2 meter.

“Kalau tangan terangkat ke atas, maka atap rumah Rasulullah sudah tersentuh. Itulah Rasulullah SAW,” cerita Habib Ali mengenai sosok sederhana Rasulullah itu.
Karena sosoknya itu, jika bicara tentang Rasulullah semua jadi indah dan jadi jatuh cinta. “Kalau memang kita umat Rasulullah, maka memperingati Maulid Nabi bagian dari jatuh cinta pada sosok agung itu. Semoga yang hadir dalam peringatan maulid ini mendapat ampunan Allah dan bisa bertemu Rasulullah nantinya,” doa Habib Ali.
UBAN 20 HELAI
Begitu cintanya sahabat pada Rasulullah, mereka menghitung uban Nabi Muhammad yang jumlahnya 20 helai. Dan, uban itu ada di kepala, pelipis dan jenggot.
“Itulah cinta sahabat kepada Rasulullah, sampai uban saja jumlahnya diketauhi. Apakah bapak-bapak cinta istrinya? Nah, berapa jumlah uban di rambut istri,” tanya Habib Ali sembari berkelakar disambut senyum undangan yang mayoritas ibu-ibu.

Di bagian akhir, Habib Ali menutup tausyiah-nya dengan doa yang diaminkan undangan. Dan, keluarga Andreas-Andi juga membagi-bagikan telur dan snack serta memberi hidangan makan yang secara filosofi sebagai ekspresi kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah dan simbol keberkahan dan kehidupan bagi umat manusia. (gt)













