TINTAKALTIM.COM-Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025 ini dinilai carut-marut. Dugaan titipan oknum pejabat marak. Sehingga, banyak warga yang ‘terlempar’ tak diterima. Padahal, masuk dalam zonasi dan nilainya tinggi. Itu kalah dengan ‘uang pelicin’ yang disebut hingga belasan bahkan puluhan juta.
Herlina, warga yang menyampaikan curhatan dan mengemuka di acara Jumat Curhat gelaran Polda Kaltim dengan pelaksana Dirintelkam, Jumat (18/7/2025) di Sasana Krida Sapto Utomo milik Ketua Forum Komunikasi Paguyuban Balikpapan (FKPB) H Soegito kawasan Kelurahan Manggar.

Acara itu dibuka Dirintelkam yang diwakili Kompol Adi Suarmita dihadiri Wadir Samapta AKBP Putra Wiratama SH SIK MSi, AKBP Windia (Ditbinmas), Kasubbid Multimedia Bid Humas AKBP Qori Kurniawati, Ditpam Obvit, Ditreskrium, Ditreskrimsus, Novita (Ditlantas), jajaran pengurus PSHT, ormas dan undangan lainnya.
Herlina mengemukakan, titipan itu sudah melanggar ketentuan pendidikan. Sebab, memangkas keadilan bagi mereka yang harusnya masuk ke sekolah itu. “Ada dugaan masuk SMAN 1 itu bisa lewat jalur siluman dengan nilai belasan dan puluhan juta. Saya ada punya bukti WhatsApp (WA) yang beredar. Semakin gila ini,” keluh Herlina yang juga menyoal adanya dugaan titipan masuk SMPN 1 karena anaknya harus ‘terlempar’ juga

Fenomena siswa titipan yang disusupkan masuk lewat ‘jalur siluman’ dalam penerimaan murid baru itu sudah semakin akut di Balikpapan. Jalur siluman adalah jalur masuk sekolah negeri lewat desakan permintaan orang yang memiliki kuasa tertentu khususnya oknum pejabat dan lainnya.
Kepsek SMAN 1 Daliya pun sempat tertekan karena adanya tumpukan ‘surat sakti’ yang menitip anaknya masuk sekolah. Kendati Daliya menyebutkan bahwa tak ada jual beli kursi, tetapi informasi beredar bahwa titipan dengan duit belasan hingga puluhan juta itu terjadi di sekolah kawasan Gunung Pasir ini.
Menurut Herlina, jika tingkat SMAN harusnya pola pembinaan dan pengawasan itu dilakukan Disdikbud Provinsi Kaltim. Tetapi, sejauh ini tidak ada tindakan bahkan pencegahan. “Setiap tahun selalu terjadi. Jika terus begini maka rusak dan bopeng wajah pendidikan di Kaltim termasuk Balikpapan,” ujarnya.

Sebelumnya media ini pun meminta tanggapan pejabat di Disdikbud Kaltim seperti Armin, Jazni dan lainnya. Hanya semuanya enggan berikan jawaban seolah bungkam dengan masalah ini. Sebab, titipan ini sudah bukan rahasia lagi dan ada pula dugaannya ‘direstui’ oknum pejabat Disdikbud Kaltim
“Saya bisa masuk karena bantuan oknum petugas Disdikbud Kaltim,” kata sumber oknum pejabat kepada media ini
Wadir Samapta pun ikut prihatin terkait hal ini. Ia pernah pula mengalami nasib sama, sulitnya memindahkan anaknya bersekolah di Kaltim. “Semoga di tahun-tahun mendatang bisa ada solusi terbaik,” ujarnya
Sejumlah peserta Jumat Curhat meminta agar sejumlah pihak bisa mencarikan solusi khususnya Disdikbud Kaltim dan Ombudsman Kaltim untuk membentuk ‘posko pemantauan’ di tiap-tiap sekolah yang melibatkan multi-stakeholders.
“Jadi ini tidak bisa dibiarkan. Karena, sudah semakin masif dan setiap tahun selalu begini. Kalau pendidikan sudah menggunakan ‘uang pelicin’ tentu bisa masuk ranah pungli. Meskipun tidak ada yang mengaku jika ditanya tetapi sudah bukan rahasia lagi,” ujar sejumlah peserta Jumat Curhat

Sebelumnya kaitan dugaan penitipan masuk sekolah menggunakan uang diungkap anggota Komnas Pendidikan Balikpapan Herry Sunaryo SH. Ia menyebutkan, setiap tahun dijadikan semacam ‘bancaan’ untuk mengumpulkan uang. Polanya, melalui oknum pejabat legislatif, eksekutif dan yudikatif.
“Ibaratnya permainan uang belasan sampai puluhan juta di bawah tangan (undertable). Ini sudah parah sekali, perlu solusi dan jika masyarakat ada bukti termasuk Ombudsman harusnya mengawasi dan Disdikbud Kaltim. Jangan didiamkan saja seolah hal biasa,” kata Herry
Sementara itu, Minggu (20/07/2025) beredar informasi bahwa kendati full, tetapi dugaannya SMAN 1 masih menerima titipan dengan nilai nyaris Rp25 juta. “Hari ini tadi (kemarin-red), anaknya bisa lolos. Ngeri sudah titipan ini merusak pendidikan Kaltim,” ujar seseorang yang minta namanya dirahasikan kepada media ini. (gt)












