TINTAKALTIM.COM-Momen indah di Pasuruan di lokasi tempat nguduh mantu pasangan pengantin Cindara Mas’ud, putri sulung pasangan Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud-Hj Nurlena dan Abdurahman Al Habsy (Abdu) putra pasangan H Muhammad bin Al Habsy dan Hj Ifa Farida binti Umar Al Hamid dijadikan ajang silaturahmi dengan keluarga besan.

Sejak siang hingga closing acara, Rahmad-Hj Nurlena memanfaatkan acara itu untuk saling berkenalan. Juga, mengabadikan momen yang dikemas dengan garden party wedding itu lewat sesi foto. Ini dilakukan, karena bagian dari rangkaian ngunduh mantu Cindara-Abdu.

Di acara ini, Cindara-Abdu tampil menawan yang menambah suasana terlihat spesial dan penuh persaudaraan. Di sinilah, keluarga Abdu menjadikan pula momentum sebagai cara keluarga pengantin pria untuk memberi tahu kepada sanak saudara atau tetangga bahwa mereka memiliki anggota keluarga baru yaitu pengantin perempuan nan cantik Cindara.

Sesi foto dilakukan bergantian. Diatur pembawa acara untuk diabadikan oleh wedding fhotografer dan undangan. Masing-masing mengambil action yang harus berfoto bersama pengantin Cindara-Abdu.

Proses ini tak hanya mengenalkan individu dan keluarga baru, tapi juga mengintegrasikan nilai dan budaya yang dibawa oleh mempelai pria ke dalam lingkungan baru. Bahwa keluarga Mas’ud (Bani Mas’ud) merupakan keluarga asal Kaltim (Balikpapan) yang ramah dan ingin merajut silaturahmi.

“Acaranya merupakan wujud dari keramahtamahan dan kemurahan hati keluarga mempelai wanita. Kami ibu-ibu Pemkot Balikpapan pun sampai datang ngunduh mantu sebagai wujud merajut silaturahmi dan membangun keluarga. Karena, Pak Walikota pimpinan kami,” jelas dr Andi Sri Juliarty bersama ibu lainnya.
JEMBER
Usai ngunduh mantu, besan Rahmad Mas’ud meminta untuk datang ke Jember. Sehingga, itu dilakukan keesokan harinya dengan membawa rombongan yang menamakan dirinya ‘Pasukan NATO’ yang biasa berkomunikasi via platform WhatsApp (WA).

Di depan gapura rumah orangtua Abdu, Rahmad-istri dan keluarga yang menyertai Hj Hijrah dan suami, Umi Bintang, Hj Syahariah disambut sebelum masuk ke dalam rumah. Di sana sudah ada ibu-ibu yang menyambutnya dengan alunan salawat dan doa-doa. Sementara, di bagian luar tamu saling bersenda-gurau sambil bersilaturahmi.

“Ini pasukan NATO. Dipimpin Ustaz Mustaqim dan Ustaz Rosyidi. Mereka terdiri dari berbagai kapasitas tetapi kesehariannya sering bercanda,” kata Rahmad mengenalkan ke keluarga H Muhammad Al-Habsy

Sontak, perbincangan sebutan NATO itu jadi pertanyaan: “Apa itu NATO,” tanya H Muhammad, ayah Abdu. Ternyata, itu group yang diisi oleh orang-orang dekat walikota. “Tapi NATO itu singkatan No Action Tinro Only (tanpa aksi hanya tidur),” kelakar walikota disambut tawa undangan.

Penyambutan Rahmad-istri oleh orangtua pengantin pria ini juga diawali selawat dalam rumah. Hampir 30 menit alunan selawat thola’al badru dan doa-doa untuk keselamatan kedua pengantin serta keberkahan bagi keluarga H Rahmad-Hj Nurlena.
JAMAAH
Di kediaman besan, H Rahmad Mas’ud mengajak rombongannya dari Balikpapan termasuk ‘Komunitas NATO’ untuk salat jama berjamaah zuhur dan ashar di lantai atas. Ini sudah jadi kebiasaan walikota jika melakukan safar atau perjalanan, ia selalu mengajak salat berjamaah.

Di sesi salat jamaah ini, walikota pun bisa bercanda. Ada dua ustaz yang dimintanya untuk memimpin jadi imam. “Ustaz Rosyidi berapa istrinya,” tanya walikota. Karena, hanya satu, maka walikota mempersilakan Ustaz Mustaqim yang memiliki istri lebih dari satu.

“Jadi yang istri banyak jadi imam. Lebih afdhol dan menjalankan sunah,” lagi-lagi walikota berkelakar.
MASJID RAHMAD
Di perjalanan pulang menuju Bandara Juanda, walikota dan rombongan harus berhenti di masjid yang biasa dijadikan wisata religi tepat di gerbang utara Kabupaten Lumajang. Masjid ini jadi tempat istirahat sementara bagi pengguna jalan.

Menurut pedagang cinlok yang mangkal di tempat itu, masjid itu sehari dikunjungi lebih dari 2000-an orang. Masjid ini selesai direnovasi di tahun 1975 yang merupakan tanah waqaf di Desa Wates Wetan, Kecamatan Ranuyoso.
“Wah kita berhenti untuk wisata religi dulu,” kata Ustaz Mustaqim dan sahabatnya yang juga memanfaatkan masjid itu untuk istirahat sejenak.
Menariknya, bukan karena kebetulan tetapi sepertinya sudah didesain oleh Allah. Tempat ibadah umat muslim itu, ternyata Bernama Masjid Rahmad, sehingga klop dengan nama Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud.
CINLOK
Di pelataran Masjid Rahmad itu, walikota dan rombongan sempat menghampiri pedagang cinlok. Itu jenis makanan menggunakan tepung tapioka yang dibuat bulat-bulat. Rasanya kenyal dan menggunakan sambal.
Kata pedagangnya Suparmin, sebenarnya cinlok makanan khas Jawa Barat, tetapi dijual di Lumajang, karena banyak yang suka. Murah dan bisa untuk sementara mengisi perut. Cinlok itu katanya, singkatan dari aci (tepung) yang diolah dan makannya dicolok.

“Makanan orang bawahan mas. Tapi, saya kaget ada Walikota Balikpapan mau makan cinlok. Salam hormat ya mas,” kata Suparmin yang juga disawer walikota termasuk diboronglah buah nangka yang di-packing.
Di akhir perjalanan, walikota dan istri mengajak lunch, sebelum dirinya berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan ibadah umroh. Safar tujuan ngunduh mantu dan silaturahmi ke rumah besan ini, semua berdoa semoga penuh keberkahan bagi pasangan Cindara-Abdu. Barakallahu. (gt)












