TINTAKALTIM.COM-Allah Maha Besar. Setelah Salat Istisqa atau salat minta hujan dilaksanakan pada Jumat (20/9) pukul 07.00 Wita, Sabtu (21/9) hujan sangat deras mengguyur kota Balikpapan. Rasa syukur dipanjatkan masyarakat karena sudah 2 bulan Kota Balikpapan tidak turun hujan.
Doa-doa minta hujan warga di RT 06 Jalan Pemuda kawasan Batakan, Balikpapan Timur tersebut, sengaja memohon kepada Allah agar berkenan menurunkan hujan, sehingga kebakaran hutan dan kabut asap tidak terjadi lagi.
Ada harapan besar hujan turun saat Salat Istisqa itu dilaksanakan. Warga antusias melaksanakan di halaman Masjid Al-Ikhlas Batakan dengan dipimpin Imam Abi Syarif. Ada sekitar 400 jamaah hadir untuk sama-sama meratap meminta hujan. “Alhamdulillah warga pagi itu berduyun-duyun datang ke halaman masjid. Sebelumnya memang kita imbau agar bersama-sama Salat Istisqa,” kata Ketua Masjid Al-Ikhlas, H Hato yang juga ketua panitia acara.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Balikpapan Letkol Drs KH M Solehuddin Siregar MM menjadi khatib dalam kegiatan Salat Istisqa itu. Dan dalam ceramahnya, mengajak jamaah untuk berintrospeksi diri, bertaubat kepada Allah serta tidak berputus asa dalam upaya meminta hujan. Karena, Allah pasti mengabulkan doa-doa jamaah.
“Hujan tidak turun di Balikpapan atau Kaltim saja, tapi sudah sampai Kalteng bahkan Riau, sehingga berdoa dan meminta kepada Allah adalah sebagai wujud berjuang bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu (mujahadah) dan secara terus menerus melakukan pendekatan kepada Allah lewat zikir (riyadhah) , Allah yang berkuasa dan menurunkan hujan di muka bumi ini, Insya Allah hujan turun,” seru Ustaz Siregar dalam khutbahnya.
Ia mengatakan, bencana kabut asap yang menimpa manusia adalah akibat ulah manusia juga. Sebab, Allah sudah menjelaskan dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbutan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Kepada Tintakaltim.Com, Ustaz Siregar mengatakan dirinya yakin hujan akan turun ketika meminta kepada Allah lewat Salat Istisqa. Karena, doa minta hujan pun pernah terjadi di zaman Nabi Musa. Waktu itu musim kemarau berkepanjangan, kemudian Nabi Musa mengajak kaumnya melakukan Salat Istisqa di sebuah lapangan dan ribuan orang hadir. Tidak lama, hujan turun sangat lebat.
Menurut Siregar, tubuh manusia itu 75 persen air dan bumi ini juga 75 persen isinya air, karena air sumber kehidupan. Manusia bisa bertahan beberapa hari tanpa makan, tapi tak akan hidup tanpa air. “Kami bersama-sama Salat Istisqa sudah kasihan dengan warga Balikpapan, sebab banyak warga yang air PDAM-nya tidak mengalir. Ini karena kondisi air baku di Waduk Manggar terus berkurang. Selain itu sejumlah rumput telah mongering,” ujar Siregar.
Memang katanya, kemarau panjang itu ada karena faktor alam, tetapi dalam kajian agama itu juga karena terjadi banyak orang mengurangi timbangan saat menimbang, melalailan zakat atau banyak hartanya tetapi lupa berzakat. “Ada juga sebabnya karena tidak peduli dengan anak yatim dan ada maksiat yang masih terus terjadi,” ungkapnya.
Untuk itu, Ustaz Siregar mengimbau agar manusia jangan sombong dan harus kembali ke jalan Allah bertaubat ke jalan kebenaran. Selain itu peduli terhadap lingkungan. “Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap akibat ulah manusia, maka bertubatlah,” pinta Ustaz Siregar.
Tepat pukul 08.00 Wita da Sabtu (21/9) di Kota Balikpapan khususnya kawasan Muara Rapak dan sejumlah tempat lain diguyur hujan. “Alhamdulillah Gus Gito, hujan turun. Allah Maha Besar. Kita harus bersyukur,” kata Ustaz Siregar yang berbincang dengan Tintakaltim.Com ketika hujan turun sangat deras. Ustaz Siregar lebih akrab memanggil penulis dengan panggilan Gus. Padahal, penulis bukan anak kiyai. Tapi katanya, Gus itu lebih pada sebutan guru. “Gus itu juga dapat diartikan guru. Bisa guru jurnalistik dan sering menulis kaitan agama,” ujar Siregar sambil bercanda.

Kepada media ini, ia berpesan seluruh potensi masyarakat khususnya pemerintah (umara) dan ulama harus bersama-sama memerangi orang yang mengurangi timbangan di pasar atau tempat-tempat lain. “Celaka bagi mereka yang mengurangi timbangan dan curang. Ini Allah yang mengingatkan. Hujan tidak turun juga gara-gara timbangan curang,” kata Siregar mengutip Surat Al-Muthofifin.
Ada makna besar kaitan timbangan disampaikan Ustaz Siregar. Ia menyebut timbangan tidak hanya digunakan dalam urusan jual beli, dalam kehidupan bisa sangat luas. Filosofinya kata Siregar, timbangan dalam kehidupan bisa menghadirkan keseimbangan dan keadilan dalam segenap aspek kehidupan. “Kalau tidak ada keadilan, bisa juga itu Allah enggan menurunkan hujan,” pungkas Siregar. (git)













