TINTAKALTIM.COM-Perjalanan (road trip) bisa dikemas dengan sisi romantis dan penuh makna spiritual. Itu yang dilakukan Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’d SE dan istri serta anak sulungnya Cindara saat ke Sulsel dan Sulbar.
Di perjalanan, Rahmad-istri selalu ‘mesra’. Saat makan bersama, dalam mobil canda dan ceria. Bahkan, bersama kerabatnya dalam rombongan, ia seolah melepaskan atribut sebagai pejabat negara alias walikota. Tak ada sekat, semua dijadikan sahabat, keluarga dan teman.

Saat di Sulsel, kebersamaan walikota-istri juga diperlihatkan saat makan bersama. “Kita sarapan dulu ya. Ayo, coto Makassar Gagak,” ujar Walikota. Di situ ia makan bersama sopir dan kerabat serta keluarganya. Tawa lepas, romantisme dan silaturahmi terbentuk seketika.

Bagi traveler, dan pecinta wisata kuliner tak akan melewatkan makan coto Makassar yakni coto Gagak. Tapi, jangan salah? Bukan menggunakan daging burung gagak, tetapi coto itu terletak di Jalan Gagak. “Kalau ke Makassar, belum klop bapak sama ibu (walikota dan istri), nggak ke coto Gagak,” timpal Farid, keluarga walikota yang satu mobil dengan penulis.

Wujud romantisme Rahmad dan istri terus diperlihatkan. Ketika menuju makam atau jalan bersama. Rahmad selalu memegang tangan sang istri. Seolah, Rahmad ingin menunjukkan komunikasi non-verbal saling berpegangan dan itu secara psikologis mempengaruhi. Kata sebagian orang, momen berpegangan tangan bisa menimbulkan sensasi rasa dan saling cinta.
SILATURAHMI DAN SEDEKAH
Walikota dan istri tak pernah lelah jika waktunya digunakan untuk silaturahmi dan sedekah. Seluruh keluarganya di Sulbar, baik Majena, Malunda, Mandar selalu menjamunya dengan makanan dan walikota-istri selalu berdampingan.

“Ayo kita makan. Seluruhnya harus makan sebab perjalanan dari Majene ke Mamuju jauh. Ini rezeki Allah,” pinta Walikota kepada seluruh rombongan yang menyertainya.
Makanan disuguhkan dengan konsep memanjang. Lauk-pauk khas Mandar pun tersuguh yang dikemas di piring tetapi dibalut dengan penutup plastik.
Makanan khas Sulbar ini, kelezatan rasanya diracik dari olahan daging ikan segar yang kemudian dimasak bersama dengan kuah kuning aneka rempah. Apalagi dinikmati dengan nasi hangat.
“Ini sambusa. Makanan khas Sulbar yang tidak boleh dilupakan. Rasanya lezat pasti ketagihan,” kata Ustaz Musleh yang juga Imam di masjid yang terkena gempa dan dibangun oleh keluarga Bani Mas’ud itu.
Sambusa semacam gorengan yang berisikan olahan daging ikan yang telah diolah menggunakan aneka rempah pilihan. Soal rasa sudah tak perlu dipertanyakan. Terlihat Andi Welly, Ustaz Mustaqim, Syarifuddin, Patman begitu lahap. Selain lapar, lidahnya sudah terbiasa makan makanan khas Sulawesi termasuk Sulbar.
CANDU BERSEDEKAH
Dalam perjalanan itu, Walikota-istri bahkan anaknya Cindara selalu melakukan sedekah. Itu sudah menjadi kegiatan rutin dalam kehidupan. Cinta bersedekah inilah yang tak membuat heran kerabatnya.

Walikota membagi kasih sayang dengan sedekah. Tampaknya Walikota merasa yakin dengan ayat-ayat Alquran tentang sedekah. Sebab, keyakinannya, Allah pasti mengetahui harta apa yang diinfakkan. Seperti dalam Surah Ali Imran ayat 92: “Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apapun kecuali menyedekahkan sebagian harta yang paling dicintai. Allah pasti mengetahuinya”.
Bahkan, Ustaz Mustaqim melabelisasi makna sedekah Walikota dan keluarga itu dengan ‘candu sedekah’. “Bagi Pak Wali, istri dan keluarganya. Sedekah itu sudah kecanduan. Tentu candu yang merindu bersedekah membantu ummat. Dan, Pak Wali ingin mencari ketenangan lewat sedekah,” ujar Ustaz Mustaqim.

Ustaz menafsirkan mengapa Walikota di mana saja melakukan perjalanan, Jakarta, Sulsel, Sulbar dan daerah lainnya selalu bersedekah. Sebab, itu dijadikan jalan terbukanya hajat dan terkabulnya doa dan penolak bala. “Itulah mengapa kita dianjurkan bersedekah dalam perjalanan. Sebab, sedekah dapat menjauhkan manusia dari bahaya. Itu keyakinan walikota,” urai Ustaz Mustaqim.
DOAKAN WARGA
Walikota menyebutkan, sedekah yang dilakukannya sudah jadi kegiatan rutin. Niatnya mendoakan warga Kota Balikpapan, keluarga dan kerabat. Karena, ia yakin sedekah menolak berbagai bentuk musibah.
“Tentu niatnya hanya satu. Membantu dan semoga apa yang saya lakukan diiringi doa untuk keselamatan warga Balikpapan. Juga kita semua dapat panjang umur,” kata Walikota yang secara singkat saat ditanya makna sedekah di perjalanan Sulsel dan Sulbar itu.
MANDI DI AIR TERJUN
Romantisme yang paling indah terlihat adalah di hari terakhir, di mana Walikota, istri dan anaknya Cindara serta keluarganya ramai-ramai berwisata ke Air Terjun Tamasapi Mamuju Sulbar

Ini objek wisata, tepatnya di Dusun Tamasapi, Desa Mamunyu. Pesona alamnya sangat eksotis yang tinggi air terjunnya berkisar 75 meter. Sangat mempesona.

Walikota ikut mandi di kucuran air terjun itu. Diawali oleh kerabatnya Patman Parakassi, Syarifuddin, Abah Thahir, Ajudan Aan, Fitriyadi dan bahkan ibu-ibu yang menyertai kunjungan ke air terjun itu pun ikut berendam. Termasuk Kabag Humas Rosdiana, hanya ia mengabadikan momen dan selfi-selfi.

Moment foto-foto tak terhindarkan. Anak Walikota, Cindara pun sampai ke bawah kucuran air terjun. Ia mengambil moment untuk foto-foto dan menikmati sejuknya kucuran air terjun. “Cukup berani ke tengah air terjun Cindara ya,” sebut Rosdiana mengamati dari kejauhan polah Cindara di bawah air terjun.
Bak sutradra di acara itu, bukan Abah Thahir, jika dalam perjalanan tak membuat joke dan lelucon. Ia selalu mewanti-wanti kerabatnya yang baru datang ke Mamuju apalagi air terjun, untuk melakukan ritual mencium batu.

“Yang baru pertama dalam perjalanan dan mandi di sungai atau air terjun. Wajib mencium batu. Siapa, Bung Syarifuddin dan Fatman. Ini sudah jadi keyakinan warga di Mamuju. Awas kalau nggak ya, ada apa-apa itu,” kata Abah Thahir. Seolah narasinya serius. Tetapi, sebenarnya ia melakukan prank terhadap sahabatnya.
Tiba-tiba, Syarifuddin membuka bajunya. Ia bergegas melompat ke genangan air terjun. Lalu, menaiki anak tangga batu yang dekat kucuran air terjun. Di sana menunggu Abah Thahir. “Ayo sini cium batunya,” panggil Abah Thahir.
Seketika, tubuh Syarifuddin sudah di atas batu. Badan dibalikkannya dan batu itu diciumnya seraya berdoa. “Nah anggap saja batu itu seperti hajar aswad,” kelakar Abah Thahir.

Hanya, Syarifuddin cukup serius. Ia menyebutnya, yakin akan ‘bertamu’ ke daerah lain. “Ya bukan berdoa dan percaya pada batu. Tetapi, berdoa kepada Allah. Itu kan ritual saja. Apa yang salah,” ungkap Syarifuddin seolah membenarkan kegiatan cium batu itu.
Sahabatnya, di bawah Patman Parakasi tertawa: “Aku kok di-prank. Wong asli Mandar dan tahu akan ritual prank itu,” kelakar Patman.
Secara keseluruhan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan dan nilai kekeluargaan terpancar dari seluruh rombongan. Apalagi, harus mengakhiri mandi di air terjun dengan menyantap durian.

Walikota pun menikmati durian: Berbaur dengan seluruh rombongan. “Ini pahit jangan dimakan,” kelakarnya. Yang membuat lainnya tak makan durian. Padahal, itu semacam trik agar durian tidak di makan bersama. Sebab, membukanya susah.

Durian yang dimakan rombongan adalah durian varietas khas Mamuju. Karakteristiknya buah kecil namun dagingnya tebal dan kering. Teksturnya halus. Itu jika tak apes. Jika apes mendapat yang busuk.
Proses perjalanan spiritual diakhiri dengan menuju Bandara Mamuju. Walikota di waiting room mengundang kerabatnya untuk diskusi berbagai hal, khususnya demi mewujudkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Balikpapan. “Yang solid dan kompak ya semua kalau membantu warga,” pinta Walikota.

Walikota atas nama keluarga dan pribadi pun sempat berkirim chat khusus yang ditujukan untuk semua rombongan: Bila ada kelakuan dan perkataan kami sekeluarga yang kurang berkenan di hati bapak-ibu dengan takzim saya, memohon maaf sebesar-besarnya. Wassalam RM (Rahmad Mas’ud). Dan semua pun membalas dengan ungkapan maaf lahir batin yang mengakhiri perjalanan spiritual dua daerah Sulsel-Sulbar tersebut. (gt)













