TINTAKALTIM.COM-Pimpinan di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Hubdat) Kemenhub, selain setiap hari berkutat kaitan pekerjaan, mereka juga ‘diinjeksi’ sosio-emosinya dengan pelatihan kepemimpinan (leadership). Salahsatu yang diajarkan adalah kaitan manajemen kemarahan (angry management).
Dari slide presentasi yang diterima media ini, manajemen kemarahan itu disampaikan narasumber Tatan Rustandi ATD MSC, Alumni Akademi Lalu Lintas (ALL) yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi. Ia menyebutkan, bahwa marah itu dapat dikelola. Dan orang marah itu bisa karena apa saja. Misalnya kaitan macet di jalan pun bisa marah.

Angry Management atau Anger Management, kata Rustandi, adalah pengendalian amarah, sehingga tak sampai meledak-ledak. Kendati, marah itu adalah sifat yang muncul karena kecewa. Tetapi, jika pimpinan marah harus bisa dikendalikan agar tidak emosi yang mempengaruhi pikiran dan bisa stres. Dan, kuncinya tak menyakiti perasaan orang lain.
ADAB
Yang menarik, Tatan Rustandi dalam slide-nya membuat quote atau petikan dengan menyebut bahwa Jalan Tuhan memang luar biasa ujiannya, jangan lelah berbuat baik sekalipun terhadap orang lain yang menzalimi kita.

Dan juga kaitan adab yang harus dibentuk dalam kehidupan sehari-hari yang lebih menitikberatkan pada sosok figur pendorong kesuksesan seseorang.
“Ibu adalah sabda dan istri atau suami adalah cinta. Juga pesan moral bahwa Orang Bijak Mampu Berbuat Baik tapi Orang Baik Belum Tentu Mampu Berbuat Bijak serta Mohon Maaf adalah Habit,” tutup Tatan Rustandi
POTENSI
Selain Tatan Rustandi, tampil juga Widyaswara Ahli Utama Kemenhub yang juga Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Prof Dr Cris Kuntadi, penulis buku berjudul Excellent Leadership (Rahasila Menjadi Pemimpin Sukses) tampil membangun khazanah keilmuwan dan referensi lebih edukatif.

Prof Cris dalam slide yang disampaikannya, menyebut bahwa setiap orang bisa membuka potensi kepemimpinannya secara potensial (unlocking leadership potential).
Dan, kepemimpinan itu dalam persepsinya adalah pemimpin itu harus bisa mengambil risiko (risk taker). Juga seorang pemimpin harus punya sikap kehati-hatian dan memiliki dorongan untuk maju (courage encourage).

Selanjutnya kata Prof Cris yang presentasinya menyebut apa itu pemimpin (what is leader), juga mengurai bahwa pemimpin itu adalah sang penentu kebijakan dan sebagai role model integritas serta memiliki peninggalan yang dapat dikenang (legacy) dengan baik.
Para pimpinan yang merupakan kepala bagian di lingkungan Setditjen Hubdat dan para kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Ditjen Hubdat itu sengaja ikut workshop leadership.

Menurut Sekretaris Dirjen Perhubungan Darat Tatan Rustandi MSc, kegiatan itu sebagai penguatan budaya kerja dan strategi transformasi pengelolaan ASN di lingkungan Ditjen Hubdat untuk mewujudkan SDM yang berAKHLAK dan bangga melayani bangsa. Acaranya bertema: Leadership Tranformation: Membangun Kepemimpinan Efektif dan Budaya Kerja Positif.
Acara dikemas sangat produktif dan serius tapi santai (sersan) selama dua hari Jumat-Sabtu (1-2 November 2024) di Golden Tulip Holland Resort Batu Jatim dan di hari pertama diisi motivasi Direktur Lalu Lintas Jalan Ditjen Hubdat Kemenhub Ahmad Yani dan pengarahan Dirjen Hubdat Kemenhub.

Dalam kegiatan itu, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim Renhard Ronald mengikuti kegiatan yang digelar di Batu Malang Jawa Timur bersama pimpinan insan perhubungan darat se-Indonesia. Termasuk juga hadir mantan Kepala BPTD Kaltim Dr Muiz Thohir yang sekarang Kepala BPTD Jatim. Dan acara ini memang tak boleh diwakilkan.
Lebih jauh Prof Cris mengatakan, bahwa peran utama kepemimpinan adalah memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diterapkan. Dan, dikenalkan pula gaya-gaya kepemimpinan yang otoriter atau demokratis, delegatif atau cuek, kharismatik atau militeristik.
Dan Prof Cris menutup paparannya dengan kalimat sangat menarik bahwa kepemimpinan itu tidak ada di luar sana. Itu ada di dalam diri kamu (leadership is not out there. It’s in you)
LIMA LEVEL
Pembicara lain adalah ‘kaum Hawa’. Dia adalah Ayu Cornellia, pakar marketing communication yang menamatkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada (UGM) ini membeber dalam presentasinya lewat slide kaitan lima level kepemimpinan
Ia mengurai, level pertama adalah posisi. Dan posisi ini harus benar. Tujuannya, agar orang-orang mengikuti pemimpin itu karena dituntut dengan struktur organisasi. Pemimpin memperoleh wewenang melalui regulasi dan orang ikut itu harus bukan karena keinginannya tapi aturan tadi dan sifatnya harus.

Level berikutnya adalah permission. Di sini kaitannya sebagai penentu adalah relationship atau hubungan dan orang mengikuti pemimpin itu karena ingin dan menikmatinya. Mereka senang bekerja dengan Anda karena adanya sinergi dan relationship tadi. Sehingga, tipe pemimpin ini adalah mereka sebagai pendengar yang baik dan melayani dengan baik.
Di level ketiga kata Ayu, adalah level pencapaian dan hasilnya produksi yang baik. Karena, pemimpin memperoleh pengaruh dan kepercayaan lewat produktivitas Anda sebagai seorang pemimpin. Sehingga, tim dan organisasinya berjalan produktif yang linier dengan membangun kredibilitas karena prestasi. Ia lalu menjadi contoh dan mampu menarik orang-orang terbaik dan memiliki kompetensi.

Level keempat menurut Ayu adalah reproduksi atau lebih menitikberatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pemimpin mereproduksi orang-orang hebat dan tumbuh. Hasilnya tak hanya individu tetapi membantu orang lain berkembang. “Pemimpin di level ini mampu mempengaruhi dan menginspirasi orang lain untuk mencapai potensi yang terbaik,” urai Ayu.
Dan level kelima adalah boleh disebut leadership ‘level dewa’ yang disebut Ayu sebagai pinnacle atau kepemimpinan puncak. Pemimpin mencapai tingkatan tertinggi. Punya pengaruh besar dan dihormati banyak orang. Mereka hadir menciptakan kepemimpinan berkelanjutan.

“Pola kepemimpinan versi John Maxwell ini telah jadi standar bagi banyak organisasi. Banyak perusahaan mengadopsi konsep ini,” kata Ayu.
Dalam workshop leadership itu juga menghadirkan pembicara Direktur Lalu Lintas Jalan Ahmad Yani ATD MT yang tampil lewat judul presentasinya Membangun Kepemimpinan Efektif dan Budaya Kerja Positif

Selain itu, mantan Dirjen Hubdat Kemenhub Irjen Pol (Purn) Drs Budi Setyadi SH MSi yang membawakan makalahnya berjudul Crafting a Positive Work Culture atau Menciptakan Budaya Kerja yang Positif, memberi referensi peserta dalam teori dan praktek kepemimpinan.
Dalama acara itu, semua peserta juga melaksanakan diskusi kelompok dan studi kasus sekaligus melakukan identifikasi tantangan spesifik budaya kerja di UPT masing-masing. Bahkan, di penghujung acara juga dipresentasikan pengembangan rencana aksi dan komitmen untuk pelaksanaannya di tiap-tiap daerah. (gt)













