TINTAKALTIM.COM-Obesitas (lemak berlebih dalam badan) itu sering disebut ‘neneknya penyakit’ atau akar dari berbagai penyakit. Sehingga, harus diturunkan agar tak memicu gangguan tubuh. Sebab, obesitas bisa merusak organ dan memicu penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, tekanan darah tinggi (hipertensi), jantung dan lainnya

“Makanya sering dijulukin ‘neneknya penyakit’ sebab semua penyakit numpuk dan bermula di sini. Kalau kencing manis itu baru tingkatan ‘ibunya’ penyakit. Semua harus waspada,” kata dr Agus Iriansyah dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan pada talk show usai Subuh bertema Puasa dan Implikasi bagi Kesehatan di Masjid Balikpapan Islamic Centre (BIC), Sabtu (21/2/2026)

Talk show yang jadi agenda Kampung Ramadan 2026 di BIC ini, digelar setiap pekan Sabtu dan Minggu dengan tema beragam. Dan, dalam kaitan kesehatan menurut dr Agus, puasa adalah detoksifikasi (detox) alami yang efektif karena organ pencernaan seperti hati, usus, lambung beristirahat dan meningkatkan kemampuan membuang zat racun dalam tubuh
dr Agus memberi gambaran itu dari pertanyaan yang diajukan Ketua Harian Masjid BIC, H Andi Yusri. Ia menyebut, pernah berobat ke RS di Makassar ternyata anjuran dokter hanya turunkan berat badan.

“Setiap konsultasi, hasil diagnosanya turunkan berat badan. Itu saya lakukan dan Alhamdulillah, tubuh ringan dan penyakit jarang menimpa,” urai Andi Yusri
Menurut dr Agus, berat badan itu faktor risiko utama bagi banyak penyakit kronis dan komorbid. “Dokternya tak mau banyak mendiagnosa. Karena, jika berat badan turun maka tekanan darah dan kolesterol turun, nafas lebih enak. Dan itu benar,” jelas dokter singkat
DETOX
Menurut dr Agus, puasa itu sebagai pembuangan racun dalam tubuh (detox) dan seluruh organ tubuh direhab. Rasulullah pun menganjurkan bahwa puasa itu sehat. “Shummu tashihu, berpuasalah kamu niscaya sehat. Hadist ini memang secara praktek sangat baik dan detox itu mengeluarkan zat-zat berbahaya atau racun tadi. Jadi itulah puasa kerja alami dan perubahan metabolisme tubuh,” jelas dr Agus

Talk show yang dipandu moderator H Sugito SH itu, kendati turun hujan, semangat jamaah tinggi. Diskusi berjalan selain Andi Yusri juga Ustaz Sarbini, H Achmad Kamaluddin dan Jusman ajukan pertanyaan
dr Agus juga mendapat respons dari peserta. “Jamaah ini memang perlu ‘asupan’ ilmu kesehatan. Kalau dakwah agama dan syar’i sudah banyak. Semoga BIC bisa menjalankan rutin,” kata Sarbini

Sarbini bertanya, apakah kurang tidur itu berbahaya? Karena, aktivitas tinggi dan kaitan ibadah yang dialami juga sering mengakibatkan istirahatnya berkurang
Disebutkan dr Agus, dampaknya bisa serius bagi fisik dan mental. “Selain itu imunitas menurun karena sistem kekebalan tubuh melemah. Nah, virus mudah menyerang. Makanya, sering mudah marah dan gangguan memori di otak. Jadi upayakan tidur cukup,” pinta dr Agus

Ia menyarankan, jika tidur kurang biasakan untuk tertidur sesaat berkualitas. “Istilahnya microsleep, tetapi memang harus menambah tidur lagi agar tubuh segar,” ujar dr Agus yang biasa memberi edukasi kaitan penyakit tidak menular (PTM) ini
Dalam proses kesehatan katanya, puasa juga memicu autofhagi yakni sels-sel yang rusak didaur ulang untuk perbaikan. Sehingga, kinerja tubuh optimal
Kuncinya kata Agus, puasa intervensi preventif bukan sekadar ritual. Sebab, pola makan diatur sehingga pengaturan kalori dalam tubuh menghindari berbagai penyakit

Dengan sahur maka gizi berimbang. “Tetapi, ketika berbuka puasa itu bertahap. Jangan ‘balas dendam’ bahkan makan yang berlebihan. Ini namanya bukan menata pola hidup sehat. Bisa saja puasanya tidak berdampak pada kesehatan,” ungkap Agus
Ia pun memberi apresiasi bagi jamaah yang dapat menjalankan puasa sunah rutin Senin-Kamis. Seperti yang diungkapkan H Kamal, tetapi kendati begitu ia pun masih ada ternyata ganjalan penyakit. “Itu faktor usia, tak bisa dihindari. Jadi, risiko pertumbuhan sel pasti abnormal pada usia lanjut. Hanya jika olahraga dan puasa, Insya Allah bisa diatasi,” pungkas dr Agus yang mengakhiri acara hingga pukul 07.15 Wita. (gt)













