TINTAKALTIM.COM-Kisruh DMI Kota Balikpapan yang diawali retaknya pejabat caretaker (sementara) pimpinan DR H Sugianto MM mendapat kritik pedas dari Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam terbesar di Indonesia ini menilai, seharusnya organisasi DMI mampu mengakomodir orang-orang skill dan punya kapasitas baik dan tidak dibuat ‘kubu-kubuan’
“Saya sudah mengamati sejak lama. Mengapa seolah pihak lain di tinggal. Coba demokratis saja, seolah ini kan tidak ada kader. Saya dengar mantan jamaah LDII diakomodir,” kata Ketua Tanfizdiyah PCNU Kota Balikpapan KH Muhammad Muhlasin saat memberi pandangannya kaitan kisruh di kepengurusan DMI Kota Balikpapan.
Kisruh DMI Balikpapan diawali adanya dua mantan jamaah Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) masuk dalam kepengurusan caretaker sisa masa bhakti 2019-2023. Mereka adalah Ruslan Affandi dan Achmad Dasuki yang namanya diusulkan Ketua Caretaker DMI Balikpapan DR H Sugianto MM yang masing-masing posisinya Wakil Ketua mendampingi Sugianto dan wakil sekretaris mendampingi H Nur Arifin SPdI

Tentu keputusan itu membuat reaksi tiga anggota tim konsolidasi yakni Drs H Muhammad Jailani MSi, Sahal Suryanto dan Drs H Rikmo Kuswanto yang selama ini dianggap sebagai think-thank caretaker DMI Balikpapan dan ingin membuat DMI terbuka, transparan dan demokratis. Seolah mereka semua ditinggal.
Bahkan Jailani menilai penunjukkan posisi wakil sekretaris dengan mengakomodir mantan jamaah LDII sangat tak tepat. Dasuki orang baru dan seolah mengabaikan prinsip the right man on the right place (orang yang tepat pada tempatnya sesuai kemampuannya).
“Ini cenderung ada unsur like & dislike atau suka tidak suka. Kacau jika organisasi ada muatan semacam itu. Harusnya tidak begitu, apalagi menyusun pergantian carateker sembunyi-sembunyi,” ujar Jailani yang dikenal malang-melintang di organisasi keagamaan ini.

Menurut Muhlasin, DMI merupakan organisasi yang orientasi pengurusnya mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pengembangan masyarakat atau jamaah dan persatuan umat.
“Tujuannya kan memakmurkan masjid untuk kemaslahatan umat. Hanya, pengurusnya yang mampu mengakomodir kepentingan jamaah. Jangan asal comot. Saya melihatnya ini tidak koordinasi sehingga menyusun carateker dilandasi kubu tadi. Ingat lho, masjid yang basis NU di Balikpapan banyak. Juga orang-orang NU itu punya skill luar biasa di dalam memakmurkan masjidnya,” kata KH Muhlasin.
Diakomodirnya pengurus carateker mantan jamaah LDII membuat terkejut Muhlasin yang notabene melihat bahwa Balikpapan banyak sekali kader-kader militan yang memiliki skill, kemampuan agama dan manajemen pengelolaan masjid.
“Sekali lagi, niatnya harus sama yakni merangkul jamaah. Jangan meninggal unsur lainnya lalu mengakomodir orang-orang yang sekiranya disenangi saja,” urai Muhlasin.
Disebutkan Muhlasin, menuju Musda DMI Balikpapan, alangkah baiknya pengurus carateker untuk menggelar silaturahmi besar. Jika perlu merevisi surat keputusan (SK) dengan mendengar pihak-pihak lain. “Supaya terakomodir semua. Jangan sampai membuat malu DMI kecamatan yang adem-ayem saja dan ingin DMI maju ke depan. Justru DMI Kota Balikpapan kisruh gara-gara pengurus carateker yang belum mengakomodir pihak lain,” pungkas Muhlasin.
Dalam kepengurusan sebelumnya dari data Tintakaltim.Com, sejumlah nama seperti Rikmo Kuswanto yang selama ini jadi think-thank pernah duduk sebagai a’wan NU Balikpapan (orang yang memiliki kapasitas membantu ulama) dalam kepengurusan NU sebelumnya pimpinan alm KH Annas Muchtar.
NO COMMENT
Dalam kaitan kritik pedas retaknya kepengurusan carateker DMI Balipapan hingga mengalmi kisruh, Sugianto saat dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. “Saya no comment dulu. Biar bekerja mengurusi bagaiman DMI maju,” kilahnya.
Demikian juga Ruslan Affandi. Ia banyak mengirimkan obrolan (chat) via aplikasi WhatsApp ke media ini, namun obrolan itu tidak ingin dipublikasikan. “Sekadar tahu saja apa yang saya tulis. Tapi ini untuk konsumsi internal,” ujarnya, membingungkan.
BISA DISELESAIKAN
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Balikpapan DR Rendi Susiswo Ismail menilai ada yang tidak tuntas dalam komunikasi dan koordinasi sehingga DMI Balipapan kisruh.

“Apa yang mau dicari toh. Harusnya mengedepankan ukhuwah. Saya melihat ini ada yang tidak tuntas dalam komunikasi. Mereka semua ustaz-ustaz yang rasanya sangat mudah menyelesaikan masalah ini. Sekali lagi, ini bisa diselesaikan lewat musyawarah,” ujar Rendi.
Dalam melihat DMI ke depan kata Rendi, harusnya sisi ukhuwah menjadi garda terdepan. Tidak harus menimbulkan masalah. “Duduk bersama, musyawarah. Dan saling mengisi serta melihat DMI ke depan untuk kepentingan umat,” kata Rendi.
Sementara itu Sekretaris DMI Kaltim Ardiansyah saat dikonfirmasi tidak memberikan jawaban. Chat via WA yang dikirimkan media ini hanya dibaca saja. Ditelpon berkali-kali pun tak diangkat. Seolah enggan pula menanggapi dan memberikan komentar kaitan kisruh DMI Balikpapan, padahal SK ikut pula ditandatangani Sekretaris DMI Kaltim. (gt)













