TINTAKALTIM.COM-Hujan! Tak menyurutkan niat pasangan berbahagia Cindara Mas’ud, putri sulung pasangan Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud-Hj Nurlena dan Abdurahman Al-Habsy (Abdu) putra pasangan H Muhammad bin Al Habsy dan Hj Ifa Farida binti Umar Al Hamid untuk ngunduh mantu.

Momen berbahagia itu, merupakan tradisi Jawa. Digelar penuh silaturahmi dengan konsep outdoor dan dikemas ala garden party wedding di Taman Dayu Golf Club & Resort Pasuruan Jawa Timur, Sabtu (4/1).

Ngunduh mantu, itu bahasa Jawa secara umum merupakan penyambutan keluarga mempelai wanita sebagai keluarga baru di keluarga laki-laki. Acara dikemas sederhana tetapi nuansanya penuh rasa elegant.

Sebelumnya, resepsi mewah digelar pasangan Cindara-Abdu di Balikpapan Sport & Conventin Centre pada Sabtu (14/12) yang dihadiri sejumlah pejabat seperti Mendagri Tito Karnavia, Menteri BPN/ART Nusron Wahid dan undangan lainnya serta kehadiran Gubernur Kaltim terpilih H Rudy Mas’ud dan Ketua DPRD Kaltim H Hasanuddin Mas’ud berlangsung lancar.

Ngunduh mantu di Pasuruan, sempat mengalami penundaan. Kemasan dekorasi acara dan round table sudah disiapkan. Sementara secara berangsur undangan tiba. Terlihat kepala Organsiasi Perangkat Daerah (OPD) berdatangan yang dipimpinn Sekkot Balikpapan Ir Muhaimin dan istri. Mereka harus menempati kursi berbeda dengan para ibu-ibu. Tertahan sejenak karena hujan turun deras.

Terlihat kemasan lokasi sudah terlihat standing flower, backdrop photobooth dan penyiapan makanan oleh catering. Dua gapura putih berhias rangkaian bunga bercorak vibrant menghiasi venue dengan indah didukung pelaminan didominasi warna hijau-putih dengan motif bunga.

Apalagi, venue yang dipilih pasangan Cindara-Abdu memiliki aoutdoor venue yang asri dipayungi pepohonan besar, apik buat latar foto. Walaupun acaranya singkat tetapi sangat berkesan dan suasananya sejuk dan juga sangat menyentuh.
DITUTUP
Di lokasi acara, terlihat kehadiran keluarga besar Mas’ud. Ada Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Balikpapan H Alwi Alqadrie dan seluruh keluarga, kerabat Rahmad Mas’ud pun turut serta. Saat itu, terlihat ibu-ibunya sudah menempati roundtable di bagian tengah, tetapi hujan turun kembali deras dan harus kembali ke bagian canopy, dan wedding organizer (WO) harus menutup round table itu agar tak tersiram air hujan.

“Ini namanya ngunduh mantu diberkahi Allah. Hujan itu rezeki. Tak bisa dibendung. Semoga ini pertanda Cindara-Abdu berkah kehidupannya,” kata Habib Ahmad, kakak ipar Abdu berada di tepi venue.

Tradisi ngunduh mantu ini sebenarnya ritual yang masing-masing daerah berbeda. Di adat orang Sulawesi juga ada namanya yang disebut mapparola.
“Kalau secara adat memang pasangan pengantin barengan berangkat. Sebab ini kunjungan balasan untuk mempererat tali silaturahmi. Tapi, sepertinya Cindara-Abdu sudah ada di Pasuruan,” kata Rosman Abdullah SAg, sahabat walikota ikut dalam kegiatan di Pasuruan itu.

Karena lokasinya nyeberang pulau Kaltim-Jatim, kunjungan ini tak dilakukan lewat kesan adat yang kental. Sebab, tujuannya untuk mempelai wanita diterima dengan baik di keluarga mempelai pria, tetapi nuansanya tetap penuh kekeluargaan.
MERPATI
Di saat ngunduh mantu, prosesi dilakukan dengan diawali iring-iringan pasangan Cindara-Abdu menuju pelaminan. Balutan pakaian jas dan baju pengantin warna coklat muda memberi kesan indah dan ramah. Disusul orangtua Cindara, Rahmad-Hj Nurlena dan orangtua Abdu, H Muhammad Al-Habsi-Hj Ifa Farida dan keluarga kedua pengantin.

Ada prosesi pelepasan balon. Tetapi juga burung merpati. Ini memiliki makna tersendiri. Burung merpati itu disimbolkan sebagai cinta abadi. Dalam mitologi Yunani, burung itu mewakili cinta dan kesetiaan. Dan, tanda dimulainya kehidupan baru.

Tentu, harapannya ke depan pasangan Cindara-Abdu langgeng dan mampu bekerjasama dalam membangun bahtera rumah tangga yang abadi hingga akhir hayat. Ada rasa sedih, bahagia dan penuh harap di acara itu.

“Tapi melihat prosesinya sangat sedih. Karena, saya yang ikut merawat Cindara dan harus jauh dapat jodoh ke Jember. Inilah takdir Allah. Semoga, keduanya bahagia dalam rumah tangga,” kata Ibrahim atau Bram yang ikut dalam ngunduh mantu di Pasuruan dengan mata berkaca-kaca.

Suasana penuh kekeluargaan terwujud di acara ngunduh mantu itu. Sejumlah pihak khususnya dua keluarga besar yang terbangun itu berharap setelah menikah kedudukan anak dan mantu sama dan seimbang. Sehingga, prosesi bagaimana ke depan kedua orangtua penuh filosofis menginginkan pasangan itu bahagia dunia-akhirat.

“Pernikahan itu proses sekolah yang tidak akan pernah ada habisnya. Harus bertahan menjalani dinamisasi keluarga di hari-hari penuh kebahagiaan dan akan tinggal satu atap yang sah di mata agama dan hukum untuk menjalankan proposal hidup bahagia,” kata Ustaz Mustaqim Lc yang mengikuti acara prosesi ngunduh mantu di Pasuruan itu.
Secara filosofi, Mustaqim mengatakan ada dasar kuat dalam pasangan Cindara-Abdu yakni kedua orangtuanya taat agama. Ini satu frekuensi keimanan yang baik. Sehingga, sisi kehidupan atas dasar itu akan bisa dilalui dengan bahagia kelak lewat tanggung jawab menjaga keharmonisan, merawat pasangan dan anak kelak sampai akhir hayat.
SURPRISE
Dalam ngunduh mantu itu, ada kejutan (surprise) yang diberikan ke Cindara yakni bucket bunga dan kue tart. Itu sebagai wujud ucapan ultah Cindara yang jatuh tepat di penghujung tahun 31 Desember lalu. Surprise itu diberikan oleh adik-adik Cindara di antaranya Hana Fatiyah, Muhamad Latief Maulana, Firaus Ilmi, Muhammad Husein Maulana dan Murmahlia Rahmad.

Tentu, ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Cindara yang pernah mengenyam pendidikan di Almanar Azhari Islamic School dan University of Westminster London di bidang management business & business administration.

“Semoga ngunduh mantu yang dipadu surprise ultah Cindara menjadi bagian rangkaian perjalanan kehidupan yang indah di masa depan,” kata Syarifuddin, sahabat Rahmad Mas’ud yang juga pengusaha ini.
Dua keluarga besar bertemu itu, mengakhiri ngunduh mantu dengan menikmati makanan dan hiburan tarian. Ada khas makanan Arab, nasi mandi yang jenis nasinya bulir panjang dengan campuran kambing dan rempah-rempah.
Counter makanan di bagian pojok ini yang banyak diminati. Termasuk rombongan camat-lurah dan OPD Pemkot Balikpapan dan seluruh undangan. Ditambah, suasana ada tarian samara tau tarian khas Arab dengan diiringi muisik khas Arab atau musik gambus. Gerakannya bebas tapi kompak.

Tarian ini menurut salahsatu keluarga Abdu, di Indoensia khususnya di Riau disebut zapin. Mempertontonkan gerak kaki cepat mengikuti hentakan musik yang dipadu harmoni ritmik lagu-lagu Arab. Bahkan, terlihat ibu-ibu pemkot pun ikut berjoget.

Secara keseluruhan, ngunduh mantu berjalan penuh kekeluargaan dengan bertemunya dua keluarga besar dan adat dua daerah Sulbar-Jawa Timur dalam nuansa kebahagiaan dan berharap pasangan Cindara-Abdu bahagia merajut rumah tangga hingga akhir hayat. Barakallahu. (gt)













