Catatan: H Sugito SH
TINTAKALTIM.COM-Saya merenung! Karena, ada makna tersirat dalam kehidupan. Itu didapatkan dari pedagang lontong balap yang ada di kawasan Gunung Malang. Dua tahun lalu, sang ayah yang jualan, kini diwariskan ke anaknya karena ayahnya meninggal dunia.
Pesannya sederhana. Tapi, itu desain dari Allah sang pemberi rezeki . Pikiran saya, dia manusia tapi siapapun mereka yang akalnya sehat atau tidak, rezeki tetap dijamin Allah. Lalu, ada istilah, semua orang tidak akan berakhir hidupnya sebelum rezekinya habis.
Lontong balap itu legend. Rasanya enak, dan buat ketagihan. Saya menyebutnya makanan rakyat. Level apapun masuk dan jadi langganan sejak dulu. Awalnya, usai jogging atau gowes minggu hari, saya mampir.
Saat itu bareng dengan CEO Kaltim Post Group H Ivan Firdaus SE. Dia orang yang senang makanan ‘rakyat’ itu. Sebab, taste-nya sama dengan yang ada di Sidoarjo Jawa Timur tempat kota kelahirannya. Apalagi lentho-nya alias magelinya enak.

Pedagang lontong balap saya ibaratkan pejuang nafkah. Ia berprasangka baik kepada Allah. Sebab, menjadi wasiat sang orangtua. Dan tidak takut rezeki seberapa pun. Sehingga, ia selalu tutup atau tak berjualan jika hari Jumat. Karena, itu yang jadi sikap orangtuanya.
“Biarpun ada pesanan seberapa besar, jika itu hari Jumat tak dilayani. Sebab, sudah jadi komitmen bapak yang sudah tiada,” ujar sang anak, santai.
Jumat menjadi hari ‘keramat’ untuk usahanya. Diawali, saat sang ayah masih mendorong gerobak berjualan tidak menetap. Saat itu, hari Jumat diingatkan untuk tidak berjualan, karena harus salat Jumat.
Seolah ada ‘bisikan halus’ di telinga agar Jumat libur untuk mengejar akhirat bukan dunia terus. Dan, wasiat itu dilakukan hingga sekarang
Karena, ketika melanggar Jumat jualan, dagangannya tak habis dan seisi rumah sakit seluruhnya. “Rezeki enek seng ngatur, ora bakal kijolan (rezeki sudah ada yang mengatur tak akan tertukar),” ujar anak muda itu dengan logat Jawanya.

Jumat ‘keramat’ itu telah memberi pedagang lontong balap inspirasi. Ia justru heran, ketika dagangannya habis dan ditambah, ternyata tak habis. Biasa ludes 50 porsi sehari, tapi sang ibu melihat masih ada peluang berjualan lalu mengolah kembali, justru tak ada yang beli dan harus dibuang
Begitu juga, ketika Jumat dilanggar menerima pesanan, maka musibah beruntun pun datang. Itu keyakinannya, sebab turun-temurun lewat orangtuanya. Karena, orangtuanya sangat kuekeh (istiqomah)sikapnya untuk menjaga Jumat libur.
“Almarhum bapak kalau jualan selalu menyisipi pesan-pesan moral kepada pembeli. Pernah ada yang pesan Jumat langsung ke bapak, tapi tak dilayani. Biar seberapa pun pesannya. Itulah komitmen bapak. Kata bapak, Allah sudah memberi rezeki segitu ya segitu,” ujar sang anak menceritakan kenangan saat sang ayah masih hidup.
Justru, Jumat libur, tapi Minggu buka nah seolah Allah ‘menggeser’ rezeki itu di hari Minggu. Karena, Minggu itu ramai sekali. Dan, siang sekitar pukul 14.00 Wita jualannya sudah ludes. “Allah sudah memberi rezeki ya segitu mas. Tak boleh serakah dan biarkan mengalir rezeki itu apa adanya. Itu pesan almarhum bapak,” kenang sang anak.
Karena ia percaya, rezeki bukan dari pembeli tetapi dari Sang Maha Pemberi Rezeki yang ada dalam sifat Allah, Ar-Razzaaq (Maha Pemberi Rezeki). Rezeki bukan dikejar mati-matian kemana saja, kalau belum ya tak datang. Karena, kalau memang rezeki pasti sampai dan datang.
Kadang kita menghitung rezeki seperti matematika. Padahal, matematika manusia berbeda dengan matematika Allah. Khususnya dalam kaitan rezeki.
Seperti Nabi Ibrahim berdoa untuk keluarganya dan menolong sang anak Ismail serta Siti Hajar dengan doa meminta buah-buahan. Tetapi, Allah mengabulkan rezeki dari tempat lain yakni dari hentakan kaki Nabi Ismail yang sekarang disebut air zamzam yang terus mengalir hingga sekarang. Selamat Idul Adha, bumi Allah luas untuk mencari dan mendapatkan rezeki.
Terakhir, jatuh cinta adalah hal yang indah, tapi ingat jangan cinta dunia (serakah), karena bisa membuat hidupmu tak berkah.**
*) Wk Ketua Media Online Indonesia Kaltim













