TINTAKALTIM.COM-Kerja bakti! Sudah jadi program warga di Kompleks BTN Gunung IV Kelurahan Margomulyo RT 39 Balikpapan Barat. Karena, rasa guyub itu dijadikan warga untuk silaturahmi. Enaknya, turun kerja bakti warga disuguhi banyak konsumsi.

Spirit itu juga lahir dari ketua RT-nya Neneng Zuleha (Ipon). Sejak awal memberi informasi lewat share jadwal kerja bakti Minggu (3/11). “Harap warga kerjasamanya untuk hadir,” pinta Neneng di group chat RT itu.

Sebelum pukul 08.00 Wita, warga sudah ada di lapangan. Terlihat Rachyudi dan anaknya pun turun lebih awal. Disusul Nursalim membawa sapu dan serok. Termasuk Bu RT yang woro-woro memberi spirit warga untuk hadir di lapangan.

Satu per satu warga ke lapangan. Sampai di akhir kegiatan, absen yang disiapkan ada 23 warga tandatangan, bukti mereka hadir. Ada yang kerja bakti tetapi lainnya sebatas silaturahmi. Menariknya, warga RT tetangga pun Agus Meni dan Ali Akbar ikut berbaur.
Yang tak hadir, tentu memberi donasi dana dan konsumsi. Seperti H Hardi Sulung, lewat istri sebelumnya minta maaf karena suaminya kondisi fisiknya tak memungkinkan hadir, jadi diwakilkan dengan mengirim kue alias jajanan.

Sehingga, ada ‘tanda’ walaupun orangnya tak hadir. Banyak yang memang mewakilkan. Seperti H Siswanto, sang istri hadir ikut kerja bakti. Bukan itu saja, ia pun meramu dan meracik bubur kacang ijo (burjo) yang rasanya aduhai. “Tapi perlu bantuan juga membuatnya kalau jumlahnya banyak,” ujarnya seraya tersenyum.
Ruh ‘Persatuan Indonesia’ itu ada di Kompleks BTN Gunung IV. Karena, kerja bakti atau gotong-royong ini ada kaitannya dengan kepribadian dan karakter yang jika belajar P4 dulu ada butir-butir Pancasila. Sebab, ada jiwa peduli juga tolong-menolong. Pekerjaan lebih ringan karena ada nilai kekompakan. Itu ada di sila ke-3 Persatuan Indonesia tadi.

Kalaupun yang hadir itu-itu saja, bapak-bapaknya pun bisa maklum. Bisa jadi lainnya ada keperluan. Hanya, yang sengaja tak berbaur bahkan sekali saja tak pernah kerja bakti, bapak-bapaknya ternyata bisa ngerumpi. Karena, bergaul dengan tetangga itu wujud sosialisasi dan komunikasi salahsatunya kerja bakti.
Jika mengacu absen, yang hadir kerja bakti adalah Agus H, Suprayitno, Hj Yatti, Sutoyo, Suyanto, Rahmadi Harahap, Rudy, Hendra Winardi, Bambang, Gandhi, Supono, Fahrul, Nursalim, Iwan Iman, Dian, Bu Siswanto, Bu Ifah, Bu Natta, Henry Maulana, Yoni, penulis dan lainnya.

Bapak-ibu yang hadir cekatan. Membersihkan di seputar lapangan dari ujung ke ujung. Ada yang menyapu, mengangkut sampah sampai memotong dahan. Bahkan, ada pula yang menjatuhkan kelapa muda dengan potongan kayu atau bilah panjang. Lalu, airnya dibagi-bagi dan degan-nya dimakan.
Kelapa muda itu, ada di lapangan. Terhitung ada 6 pohon. Yang memang ahli (expert) untuk memanjat dan menjatuhkan adalah Pak Prayitno. “Segar air dan degannya,” kata Bu Natta yang ikut gotong-royong juga.

Rasa sigap bapak-ibunya terlihat. Mereka memang terbiasa menjadi ‘orang kompleks’. Bukan tinggal di apartemen yang tak mungkin ada gotong-royong? Apa yang dibersihkan kalau apartemen?
Sebab, kerja bakti atau gotong-royong itu menumbuhkan sikap kekeluargaan karena berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ada solidaritas dan rasa kebersamaan. Ibarat peribahasa Jawa: Urip itu Urup (hidup itu menyala), maknanya hidup dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau di kompleks RT 39, ya ‘menyala bosqu’ dengan tetangga lainnya.
“Manusia itu membutuhkan orang lain, sehebat apapun dia. Memelihara kebersamaan, hadir kerja bakti itu juga bagian dari membangun kekeluargaan. Jangan dibilang ngumpul sama kita nggak level,” kelakar H Rahmadi yang berbincang di gazebo sambil menikmati konsumsi.

Di tempat itu, yang jauh saja mendekat. Ibarat hubungan jarak jauh alias Long Distance Relationnship (LDR). Misalnya, Om Ipo yang dikenal dermawan. Ia atau perwakilannya tak hadir tetapi ‘menghadirkan’ 4 krat minuman ringan (soft drink) cincau dan minuman sarang burung walet.
“Terimakasih Om Ipo. Semoga rezekinya melimpah,” kata Rudi dan bapak-bapaknya yang ternyata ramai-ramai membawa pulang soft drink itu dan ada juga yang diminum di tempat kerja bakti.

Tak hanya itu, istri Bambang pun ikut memberi sedekah Bolu Sultan. Yang sebelumnya, katanya kado ultah sang suami. Ternyata, bukan. “Wah itu untuk konsumsi bapak-bapak kerja bakti,” kata sang istri.
Ketika dicicipi, bolunya memang enak. Jika melihat namanya, Sultan bisa jadi bolu ini brand asal Makassar karena di sana ada Bandara Sultan Hasanuddin. Harganya juga beda. Sedap! Tentu terimakasih Bu Bambang.
Dari pantauan media ini, semua ikut kerja bakti. Guyonan pun di gazebo terjadi. Karena, di tempat itulah seluruh konsumsi ada. Dari serabi solo sampai burjo. Tetapi, semua bersemangat dan tak ketinggalan juga Hendry yang datang langsung kerja bakti.

“Wah kerja bakti ini juga jadi ajang reuni,” kata Hendry yang dulunya satu kelas dengan Bambang. Termasuk, Yoni yang katanya adiknya pernah mengajar guru fisika. “Wah killer tuh guru. Saya pernah diusir,” kata Hendry mengenang masa lalunya.
Itulah kerja bakti. Jadi sarana merekatkan nilai-nilai kekeluargaan dan banyak canda. Sebenarnya makna ‘Ruh Persatuan Indonesia’ di level tingkat RT ada di BTN Gunung IV.

Hanya, tumpukan sampah masih menggunung. Biasanya dibakar tetapi kali ini Bu RT sarankan jangan. Sebab, menyalahi ketentuan perda. “Nanti ada yang ambil dari DHL. Biar diangkut,” kata Bu RT.
Sontak, sepertinya Bu RT keceplosan alias the slip the tongue. Karena, kalau DHL tentu Express logistik dan sampah itu dikirim pakai pesawat. “Mungkin DLH kali ya Bu RT, atau Dinas Lingkungan Hidup”. Canda itu membuat Bu RT tertawa. “Sama teman salah sedikit kan gak masalah,” kelakar ibu yang ikut kerja bakti hingga akhir ini.
Akhirnya, atas kerjasama warga untuk turun dan ikut kerja bakti sekaligus yang menjadi donasi diucapkan terimakasih dan diapresiasi sangat tinggi oleh Bu RT. “Jangan kapok ya. Terus rajut persaudaraan dan jaga lingkungan kita bersih, aman dan nyaman,” kata Neneng Zuleha. (gt)













