Catatan: Sugito )*
TINTAKALTIM.COM-Dandim 0905/Balikpapan Kolonel Inf Denny Salurerung S Sos ternyata punya cerita tersendiri saat dirinya bertugas jadi dandim 2 tahun di Puncak Jaya Papua Tengah. Helikopter yang ditumpanginya sempat ditembak Organisasi Papua Merdeka (OPM)
Denny –-begitu biasa disapa— baru menjabat Dandim Balikpapan menggantikan pejabat sebelumnya Kolonel Kav Muhammad Darwis. Ia boleh disebut punya ‘mental baja’ karena bertugas di satu wilayah masuk dalam peta kerawanan gangguan keamanan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Apalagi lokasi itu sering jadi titik konflik

“Dinikmati saja, demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Inilah TNI dan Puncak Jaya itu aksi separatisme tempatnya,” cerita Dandim kepada tamunya, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim Renhard Ronald.
Renhard silaturahmi untuk kenalan dengan Dandim. Sekaligus menyampaikan permohonan maaf, karena saat rapat koordinasi (rakor) membahas angkutan lebaran (Angleb) 2026, Dandim telat diundang. “Kita harus minta maaf sekaligus silaturahmi,” kata Renhard kepada media ini sekaligus mengajak bertemu Dandim
Dandim Denny sosok pejabat yang low profile. Tanpa protokoler dan orangnya blak-blakan juga enak ditemui. Saat ingin bertemu, saya hanya berkirim pesan WhatsApp (WA), bahwa rombongan dari Ditjen Hubdat Kemenhub akan silaturahmi.
Ia menjawab santai. Silakan, jika berkenan bisa bertemu pukul 09.00 Wita. Renhard Ronald dan tim akhirnya bertemu. Sapaannya pun friendly. Langsung diterima di ruang kerjanya dan ngobrol seolah sudah kenal lama tanpa sekat

“Saya atas nama Kepala BPTD Kaltim minta maaf ya Pak Dandim. Undangan telat di acara rakor angleb,” kata Renhard membuka percakapan dengan Dandim yang juga mengenalkan Kepala Seksi (Kasi) Lalu-Lintas Bagus Panuntun Kuncoro Edy dan stafnya Raka dan Rizal
Dandim merasa bisa bernafas lega setelah 2 tahun bertugas di Puncak Jaya. Kendati, tugas di daerah mana saja dinikmatinya. Usai dari Papua, pimpinan menempatkannya ‘rehat’ dan tugas di Jakarta sebelum jadi Dandim Balikpapan. Tetapi, itulah tugas dan dialah dandim terlama menjabat di Puncak Jaya Papua.
Ia asyik-asyik saja sebenarnya saat tugas di Puncak Jaya. Kendati, diakui bicara infrastruktur dan fasilitas agak kurang. Sebagai abdi negara, justru dirinya membawa sang istri bertugas.
Istrinya, menemaninya selama di Puncak Jaya. Sehingga, ‘kebal’ ketika mendengar suara tembakan. “Sering bertanya, ada lagi penembakan itu. Tapi, saya selalu meredakan, itu latihan saja,” kelakar Dandim yang disambut tawa Renhard Ronald dan stafnya
Dandim cerita, OPM itu melakukan pemberontakan fisik maupun non-fisik. Mereka terkadang menyerang pos TNI. Ada juga yang melakukan penculikan. Katanya, menuntut kesataraan sosial dan keadilan

Konflik kata Dandim muncul. Biasanya dari identitas etnis, budaya dan agama. Separatisme itu biasa sering muncul. Karena, anggapan mereka merasa tak dihargai dan tak puas terhadap kebijakan pemerintah
Lucunya, gerakan OPM itu seolah mendapat propaganda cerita yang semua informasinya ‘surga’. Contoh, jika merdeka maka makan enak ditanggung, menggunakan alat komunikasi gratis. Dan, semua cerita yang enak-enak.
Seolah cerita enak itu, menjadi brand wash bagi orang-orang OPM agar mendorong tetap merdeka. Padahal, itu hanya provokasi yang sifatnya agar mereka bisa terus melakukan perlawanan
Dandim tetap berinteraksi dengan masyarakat lokal. Memang, ada faktor kesulitan untuk mengenali anggota OPM. Itu tantangannya terutama dalam membedakan dari penduduk lokal. Ada yang menyamar, berbaur dengan warga sipil di kampung-kampung, bahkan ikut dalam acara adat

“Kan sulit membedakan, mana dan siapa yang warga sipil dengan warga kelompok bersenjata OPM itu. Wajahnya serupa semua. Tapi, pola pengawasan dan ketajaman intuisi tetap diperlukan,” kata Dandim yang bercerita sangat rileks
Skill OPM atau KKB itu, sangat menguasai medan dan memiliki taktik. Medan pegunungan yang sulit ditembus, sehingga pergerakan mereka seringkali tidak terdeteksi.
Apalagi, medan geofrafis Papua yang ekstrem, seperti hutan belantara dan pegunungan tinggi, menyulitkan aparat untuk melakukan pengawasan visual secara konstan terhadap individu mereka
Keherana Dandim, mereka dapat membeli senjata. Ada pemasok senjata. Padahal, mereka tinggal di hutan dan makan apa saja yang bisa dimakan. Tapi, bisa membeli senjata dan amunisi sangat mahal

“Mereka itu kalau disuruh berjalan senang. Ratusan kilo ditempuh jalan kaki. Di perjalanan ada daun-daunan atau tanaman apa saja dimakan,” cerita Dandim
Obrolan Dandim semakin menarik. Renhard menyelinginya dengan mimik serius tekadang juga tertawa. TNI itu sudah berbagai upaya dalam menangani gerakan separatisme itu, tapi identifikasinya sulit
Justru, hati mereka tak terpikat dengan ajakan ‘berdamai’ dengan pemerintah. Mungkin dinilai belum menyentuh inti pada persoalan yang selalu mereka gaung-gaungkan ibarat ‘kenikmatan surgawi’ tadi
Dandim semakin akrab dengan Renhard. Ia paham, logat Renhard dari Sumatera Utara alias Batak. Dan, Dandim dari etnis Toraja, mungkin karena terlalu lama di Papua, logatnya sudah seperti orang Papua
Cerita kaitan helikopter yang ditembaki itu, terasa saat dirinya masih di atas udara. Karena, suaranya letusannya menyentuh body. Dandim khawatir, tetapi dia meminta agar pilot segera landing. Sebab, jika tidak melakukan manuver bisa fatal
Dandim selamat. Dan setelah dicek, body helikopter itu ternyata penuh dengan tembakan. Biasanya itu, jenis senjata laras panjang. Kejadian tersebut, peristawa yang akan selalu dikenang Dandim saat menjabat di Puncak Jaya
Hanya, Dandim harus pandai berinteraksi dengan warga lokal. Karena, persepsinya sering membenci TNI. Suatu saat, ia hadir di acara adat. Ada suguhan ayam panggang dan babi panggang. Orang Papua menyebutnya makan wam (daging babi)
Itu tradisi sangat dihormati dan sakral kata Dandim dalam kebudayaan masyarakat Papua. Wam bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan, persaudaraan, dan penghormatan.
“Ketika disuguhi ayam, saya memilih babi atau wam itu. Sontak, seluruh warga Papua yang hadir di acara pesta memberi applaus. Katanya, Dandim adalah keluarga besar orang Papua. Itulah cara saya bertugas mengamankan NKRI dan berbaur sambil mengawasi OPM,” cerita Dandim.
Nah, semangat Pak Dandim. Karena, sudah mencapai titik tertinggi di Indonesia dengan rasa dan jiwa raga bergejolak dari Puncak Jaya dan sekarang berdedikasi untuk tugas pembinaan teritorial di Kota Balikpapan dalam komando utama Kodam VI/Mulawarman.**
*) Ketua Bidang Advokasi dan Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Direktur Tintakaltim.Com












