TINTAKALTIM.COM-Gotong-royong itu biasa. Apalagi di lingkup Kompleks BTN RT 39 Margomulyo. Hanya kali ini nuansanya berbeda. Warga sekaligus bicara Dirgahayu ke-80 RI yang harus disongsong dalam waktu dekat.

Kehadiran adik-adik Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Balikpapan (Uniba) jadi supporting. Mereka pun harus dilibatkan dalam kegiatan ‘Kampung BTN’ dan masuk dalam kepanitiaan Agustusan.

“Kerja bakti sudah selesai. Sekarang, pembentukan panitia HUT ke-80 RI. Agustusan kali ini kita punya ‘amunisi’ yakni adik-adik Uniba yang KKN. Mohon bantuannya untuk ikut meriahkan Agustusan di BTN ya,” pinta Ketua RT 39 Kompleks BTN Neneng Zulaiha (Ipon) yang langsung rapat membentuk kepanitiaan HUT RI yang diikutin mahasiswi-mahasiswa Uniba dan warga.
POSKO
Anak-anak KKN itu menempati posko di Kompleks BTN. Tentu, mereka membantu gotong-royong kampung. Dan itu, bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada tiga pilar salahsatunya pengabdian masyarakat.

Apalagi KKN mereka mengusung konsep Optimalisasi Potensi Desa/Kelurahan Berbasis Kearifan Lokal untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Masyarakat. Tentu selaras dengan program perayaan Agustusan mendatang dan sangat relate atau berkaitan.

Perayaan Agustusan tiap tahun, sejatinya kegiatan fun untuk merayakan kegembiraan karena bangsanya telah merdeka. Tapi, Ipon langsung briefing ke warga dan meminta sebaiknya sosok perempuan jadi ketua panitia (ketupat)

“Saya sebagai penanggungjawab saja. Silakan, bapak-ibu memilih KSB (ketua, sekretaris, bendahara)-nya. Dan, tinggal menyusun agenda kegiatannya saja nanti,” pinta Ipon yang menggelar rapat mendadak di tepi lapangan.

Ada sejumlah nama, tapi warga sepakat memilih Andi Tarisnah W V selaku ketupat. Ia figur lama di kompleks, istri dari Andreas yang expert di bidang konsultan perpajakan dan instruktur beladiri silat. Nama beladirinya IKS PI Kera Sakti ranting Balikpapan Barat (Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia Kera Sakti) dengan pelatih Andi Tarisnah WV, Supriadi, Irpan, Yusuf dan Bima.

Mungkin karena itu, para lelaki dan bapak-bapaknya jadi kurang percaya diri (insecure) mencalonkan diri jadi ketupat. “Daripada jadi samsak, mending Bu Andi saja jadi ketupat,” kelakar Mas Pras yang ahli dekorasi berbahan styrofoam ini.

Dan, bendaharannya Dian serta sekretarisnya Via (mahasiswi KKN). Group panitia dibuat bernama Dirgahayu 80 BTN dan sudah sebagian panitia masuk di group tersebut. Nanti komposisi panitia disusun lengkap.

“Tolong nanti koordinasi untuk membahas berbagai hal di WA Group. Saya dibantu, belum paham apa saja kegiatannya, intinya kompak dan sukses acara,” jelas Andi.
BTN IDOL
Di sela kerja bakti, Prayitno suami Hj Yatti berinisiatif mengeluarkan soundsystem. Ia memutar lagu-lagu campur sari. Dan, tak selang beberapa lama mengeluarkan sepasang microphone baru.

Pasangan kembar lain ayah dan ibu Soegianto dan Yoni Supriyono diam-diam duet di bawah cottage. Kendati suaranya fals tetapi masih enak didengar. Mungkin, setelah itu pendengar harus konsultasi dengan dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT).

Suasananya jadi kompetisi BTN Idol beneran. Hendra Winardi, Mas Pras bahkan mahasiswa KKN ikut bernyanyi. Dari lagu dangdut, barat sampai pop menggema. Termasuk media ini mencoba mic baru itu.
ERA 80-AN
Panitia berharap, pada perayaan Agustusan 2025 nanti, tak hanya anak-anak pesertanya. Harus terlihat heboh dan penuh canda-tawa, sehingga peran bapak-bapak dan ibu-ibu diharapkan memberi kontribusi dan ikut lomba.

Media ini usul, nama eventnya ‘Harmoni Zaman’, jadi nanti panitia menyiapkan lagu era 80-an atau pilihan peserta. Dan, bapak-bapak dan ibu-ibu harus mendaftar bernyanyi karakoean. Tak perlu takut suara fals, namanya hiburan dan bisa ada gelak-tawa dan heboh.

Juga ada lomba lucu-lucuan ‘sundul balon’ yang diikutin bapak-bapak dan ibu-ibu yakni memasang baju t-shirt atau kemaja dan celana sambil memainkan balon ke udara. Dan balon itu jangan terjatuh sampai siapa yang paling cepat melakukannya.
“Pakaiannya jangan daster kalau cowok, biar terlihat macho saja. Kalau itu kan feminim nggak cocok untuk bapak-bapak. Nanti ‘melambai’,” kata Bu Siswanto seraya tersenyum.
EDUKASI OBAT
Di bagian lain, H Nur Salim yang dikenal punya komptensi apoteker ini bercerita tentang kesehatan. Ia memberi edukasi bahwa kalau tak ingin hipertensi maka ikhlas dan sabar. Karena, pikiran positif, hati tenang dan mengurangi stres.

“Kalau tenang hati dan sabar itu maka bisa mencegah penyakit stroke, diabetes dan lainnya. Beda kalau kolesterol dan asam urat itu faktor makanan,” cerita Nur Salim.
Nur Salim juga cerita kaitan antibiotik seperti amoxilin jika minum harus dihabiskan, meski sudah merasa sehat. Jika tidak, bisa memicu resistensi antibiotik. “Karena kalau tak habis, bakteri atau virus yang masih hidup bisa bermutasi dan menginfeksi ulang,” urainya.

Gotong-royong kali ini selain heboh bapak-ibunya, juga diwarnai seabreknya makanan. Ada snack dan ‘makan besar’ yakni mie kontribusi Andi Tarisnah serta bubur Manado. Ada pula sumbangan snack dari Hj Farida sebagai pengganti sang suami yang sakit tak gotong-royong. Wow, berkah semua dan jariyah yo.

Nah, panitia Agustusan sudah dibentuk. Ada rencana kegiatannya disatukan tetangga sebelah RT 38. Tergantung kemauan warganya. Intinya kompak, rukun dan heboh.
Sekarang, waktunya bekerja bersama-sama, mengikuti alur yang ada dan memastikan acara berjalan sukses. Kalau protes?. “Silakan ajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta sono,” kelakar Mas Pras. Salam Stecu (setelan cuek). (gt)













