TINTAKALTIM.COM-Ia dikenal etnis Tionghoa tulen. Karena, dari paras wajahnya memang oriental atau wajah khas Asia bagian Timur seperti China, Jepang, Korea. Tandanya, kulit cerah tetapi ada perbedaan yakni kulitnya tidak putih. Justru lebih dominan coklat yang kebanyakan face Indonesia

Sepintas, aura kepemimpinannya ada. Ternyata, ada kisah yang sebagian orang mungkin menyatakan tak mempercayainya . Tetapi, menelisik cerita itu tentu sebagian sahabatnya terkejut.
Justru tak percaya, hanya kalau melihat sifatnya bisa jadi, karena berbeda dari rakyat biasa. Ia tenang, berwibawa, bijaksana, mudah beradaptasi dan beruntung dalam rezeki.
Itu ciri-ciri yang lebih mengarah pada ‘darah biru’ atau bangsawan. Tepatnya, darah ningrat. Mungkin keturunan yang tak langsung tetapi kerabat dekat keraton atau sebagai priyayi

Hal itu terungkap dalam obrolan santai Charles. Owner Platinum Group dan pemilik perusahaan bidang pertambangan PT Mitra Indah Lestari (MIL) dalam acara Imlek 2026 di kediamannya Jalan Soekarno Hatta (Poll Bus Pulau Indah), Selasa (17/2/2026)
Awalnya, cerita itu mengalir di roundtable. Di situ ada sahabatnya Ir Sudjatmiko (konsultan), Edy Adha (Direktur Balikpapan Pos), Leo Sukotjo (paguyuban) dan penulis.

Charles, pemilik jaringan Hotel Platinum ternyata kisah perjuangannya menginspirasi. Kariernya dari bawah sebelum berhasil membangun imperium bisnis perhotelan dan pertambangan
Bisnis awalnya berisiko yakni transportasi atau Perusahaan Otobus (PO), tentu persaingan ketat kalah itu. Ia dikarunia tiga anak William Chandra, Unita Chandra dan Jimmy Chandra. Diawali memiliki taksi jamban sebagai rintisan sang ayah.
Charles cerita pernah mengenyam pendidikan di SMPN 4 kawasan Kampung Baru. Ia sebenarnya ‘anak Kampung Baru’ lahir di Balikpapan 9 Juli 1959 yang merintis bisnis transportasi setara dengan usaha legend seperti PT Jagad Raya yang dikenal usaha transportasi besar waktu itu
Charles bercerita, pernah mengangkut kayu gelondongan. Untuk dijual ke sejumlah daerah. Ia pun alumni SMAN 1-SMAN 2 di tahun 1977.

“Saat itu masa peralihan di tahun 77, kita ke SMAN 2 Balikpapan. Maka, alumninya disebut 77. Eh, sekolahnya sekarang menghasilkan lulusan menjadi pejabat seperti Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Kepala Bappeda Kaltim Ir Muhaimin ST yang sebelumnya Sekda Balikpapan,” urai Charles
Darah ningrat Charles itu lahir dari sang ibu. Keraton Jogyakarta menjadi saksi. Sebab, silsilah kehidupannya ada tercatat di deretan nama-nama keraton itu. Bahkan, ketika di Jogyakarta, ia memiliki aura untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Salahsatunya tanah
Saat itu, ada tanah yang sulit untuk dibebaskan lewat dibeli. Charles turun tangan. ‘Titah ucapannya’ menggambarkan sosok yang memiliki wibawa tinggi, karisma alami dan tutur kata berbobot layaknya bangsawan. Jadi, bisa disimbolkan mirip dengan titah atau perintah raja

“Saya hanya bilang ke orang itu. Mau uang apa tidak. Otomatis, orang itu melihat wajah saya luluh. Dan, tanah yang pelik untuk dibebaskan akhirnya berhasil,” cerita Charles
Bukan itu saja, ada cerita penuh spiritual saat dirinya diajak ke makam raja-raja di Imogiri, Jogyakarta. Saat Charles menaiki anak tangga yang tinggi. Ia diminta mencelupkan barang ke dalam benda semacam gentong.

“Barangnya tenggelam. Sebagian orang sulit untuk tenggelam. Katanya, itu ada makna spiritualnya. Salahsatunya, saya disebut orang ningrat,” ungkap Charles
Menurut Charles, benda yang ‘tenggelam’ itu adalah seolah menyatukan hati suci dan harapan masa depan yang berkah dan sukses. Dan, sebagian menyebut silsilah kehidupannya adalah keturunan kesultanan.
Apa harus ditambah panggilan nama depan Sultan Charles? “Oh nggak perlu, ini kan silsilah kehidupan saja, bahwa saya itu disebut keturunan ningrat,” kata Charles sembari tersenyum. Dirinya pun believe or not alias percaya dan tidak.
GURU IJAI
Tak hanya keturunan ningrat. Charles juga ternyata pernah bertemu Guru Ijai yang dikenal dengan Abah Guru Sekumpul dengan nama asli KH Muhammad Zaini bin Adul Ghani Al-Banjari
Ia adalah seorang ulama karismatik dan sufi yang sangat dihormati dari Martapura, Kalsel. “Saya saat itu diminta bertemu. Bahkan, cerita dalam tidur saya itu bertemu sangat tepat dengan keinginan Guru Ijai. Keteladanan, ilmu dan kewaliannya menjadi nilai spiritual bagi saya,” cerita Charles
Charles mengurai, bahwa itu adalah telepati atau transfer informasi, pikiran, perasaan secara langsung dari satu pikiran ke pikiran lain tanpa menggunakan indera fisik. “Jadi saat itu, saya bertemu. Apa yang ada dalam pikiran saya, sama semua sesuai perintah Guru Ijai. Itu bahasa sekarang telepati ya,” tanya Charles

Apa makna semua itu? Ternyata, Charles pernah punya niat menjadi mualaf. Tetapi, ada ‘hambatan besar’ dalam jiwanya yang tentu itu dirasakannya sebagai insan Tuhan serta naluri yang masuk dari sisi spiritual hati.
Tapi, sekarang Charles menjadi pengusaha sukses. Bahkan terbaru, ia mengakuisisi RS Restu Ibu yang akan dikembangkan menjadi rumah sakit modern dan internasional. Dan, ini sesuai alur kehidupan dan prediksi dari sejumlah orang-orang yang punya kewibawaan di kesultanan Jogyakarta?
“Apakah mitos atau tidak, saya ini menjalani kehidupan saja. Menjadi orang yang harus baik dengan siapa pun tanpa memandang agama dan suku,” katanya. Goodluck dan Gong Xi Fa Cay (gt)













