TINTAKALTIM.COM-Ayam woku, masakan Manado menggugah selera. Saat itu disuguhkan Ketua RT 39 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat pada warganya yang jadi sarana untuk bersatu
Cuacanya hujan rintik, tapi jadwal kerja bhakti alias gotong-royong sudah di-share di group jauh hari. Sehingga, ayam yang dimasak khas bumbu kuning diramu kemangi itu jadi suguhan menggoyang lidah.

“Biar hujan rintik ayo kita kerja bhakti. Ayam woku sudah dimasak untuk warga. Jadi harus datang,” kata Ketua RT 39 Margomulyo Balikpapan Barat Kompleks BTN, Neneng Zuleha (Ipon) yang ‘memancing’ warganya agar datang dengan makanan woku
Satu per satu warga datang ke lokasi gazebo yang dijadikan master point (tempat berkumpul). Terlihat, Hj Yatti istri dari Prayitno pun tiba di tempat itu.

“Wah sedap ini, cuaca adem semakin nikmat makan woku,” ujar Hj Yatti sembari mengabadikan sajian woku dan warga yang langsung di-share di group RT.
Hidangan tradisional Sulawesi Utara itu, terhidang di meja. Tentu, menciptakan cita rasa yang lezat. “Ini makanan sehari-hari orang Manado. Berbagai acara pun sering disuguhkan,” kata Neneng Zuleha yang peranakan Manado dan masih sepupu Hayono Hisman mantan Menpora tahun 1998 ini.

Warga berdatangan. Mereka fokus tetap kerja bhakti. Hanya, membersihkan lapangan yang akan dipergunakan pada Sabtu (7/6/2025) untuk penyembelihan hewan kurban. Lainnya, ada yang menyiapkan meja untuk pemotongan hewan kurban di Aula Masjid Asy-Syifa.
Neneng Zuleha tetap membawa absen. Karena, data itu dilaporkan ke pihak kelurahan. Suasananya hujan rintik, warga yang datang tidak seperti biasa. Hanya, H Herlambang yang harus ‘ngungsi’ ke Kampung Baru karena rumah direnovasi pun datang.

“Ayo bapak-bapak dimakan woku-nya, sayang masih banyak. Sebab, ini spesial disuguhkan untuk warga,” kata Neneng
Media ini ikut merasakan woku. Resepnya pedas, tentu sebagian orang menyebut ini makanan favorit dan berlimpah bahan aromatik. Kalau makanan cara Sulsel disebut pallumara.
OSENG KANGKUNG
Selain woku, sajian makanan untuk warga yang kerja bhakti juga datang dari kelurga H Siswanto. Sang istri, Ny Nani Siswanto membawa osengan kangkung diramu dengan udang. Rasanya lezat karena seperti disuguhkan makanan prasmanan ala warungan.

“Ayo dinikmati, ini enak dingin-dingin makan oseng. Apalagi ada tempe dan tahu,” kata Ny Siswanto yang datang juga ke lokasi kerja bhakti kompak bersama suami.
SILATURAHMI
Kerja bhakti hari itu memang tidak seperti biasa. Lokasinya masih basah diguyur hujan. Sehingga, warga membersihkan genangan air dan lumpur. Termasuk membuat galian parit untuk kotoran hasil penyembelihan kurban

Suasana silaturahmi berjalan penuh kekeluargaan. Terlihat H Siswanto, Dedy, Agus, Dani, Pras, Ivan, Iwan Iman dan lainnya memanfaatkan momentum untuk cerita ngalor-ngidul tetapi tetap produktif.
“Selain kerja kita mempererat silaturahmi antarwarga. Tentu, untuk membangun komunitas yang erat dan harmonis. Karena, ini jadi pilar solidaritas dan kebersamaan,” kata Herlambang

Dani warga baru di RT 39 Kompleks BTN sangat mudah berinteraksi. Ia bahkan sempat mengundang sejumlah warga untuk cangkruanalias kongkow-kongkow sambil silaturahmi
“Saya senang ngumpul. Ini juga meningkatkan rasa kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial antartetangga dan warga lainnya,” kata Dani.

Ternyata, tidak linier antara makan gratis dan gotong-royong. Pemandangannya kontras, makanan sudah disiapkan tetapi semangat warga ada yang kurang. Bagi yang berhalangan bisa dimaklumi karena tugas. Tetapi, yang sekali saja tak pernah datang, mungkin perlu kesadarannya.
“Padahal gotong-royong penting untuk meningkatkan tali persaudaraan dan tumbuh rasa kebersamaan. Datang saja sudah bagus karena sekaligus silaturahmi. Tapi, ya begitulah sejumlah warga kita,” kata Bu RT yang sebenarnya menyadarkan warga lainnya yang satu kali pun tak pernah hadir gotong-royong. (gt)













