TINTAKALTIM.COM-Ketua Komisi III DPRD Balikpapan H Alwi Alqadri SP merasa terusik dengan informasi dalam catatan kaitan PT Fahreza Duta Perkasa yang ditulis Rizal Effendi. Ia sejatinya bekerja atas informasi dan masukan dari masyarakat untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan.
Bahkan, ia menilai catatan Rizal Effendi mantan walikota itu tendensius. Karena, mengaitkan kerja-kerja dia dengan hubungan keluarga dan seolah lebih pada sisi pribadi.
“Saya sebagai anggota dewan ya menyebutnya seperti cari panggung tulisan itu. Harusnya sebagai mantan walikota bersikap bijak. Kalau kritik ya kritik saja dalam kaitan pekerjaan bukan soal pribadi,” kata Awli Alqadri yang membaca catatan itu sekilas.

Ia terkejut, dan catatan itu tak dibacanya keseluruhan karena terlalu panjang dan membosankan. Dirinya justru menerima tulisan dari kiriman seorang sahabatnya. Tetapi, setelah dibaca ia memberi apresiasi juga atas tulisan itu sebab melakukan kritik terhadap pekerjaan proyek DAS Ampal di MT Haryono. Hanya, secara narasi lebih mencari-cari masalah yang lebih pada pribadi.
“Apa maksudnya dikaitkan dengan drakor atau drama korea. Saya bukan orang Korea dan itu proyek memang tugas saya untuk melakukan sidak. Jangan sekali-kali kaitkan dengan urusan keluarga. Sekali lagi, kritik ya kritik saja pada substansinya, ini agek aneh,” katanya protes.
Ia justru bertanya, pengertian tentang drakor itu, seolah dirinya sebagai anggota DPRD main drama, seakan-akan turun ke lapangan tidak sungguh-sungguh. Kalau ingin mengutip dari netizen, ya ditanya sungguh-sungguh dirinya, tidak harus berasumsi dan mengira-ngira seolah bersandiwara.
Ia menyebutkan, jika ingin membuat catatan dirinya dengan judul ‘Alwi’, jangan hanya kaitan proyek itu. Dan itu sudah disikapi juga oleh seluruh anggota DPRD dari seluruh fraksi serta masyarakat. Tulis judul Alwi dalam aktivitas lainnya yang tidak ada dikaitkan dengan keluarga. Karena, banyak sisi-sisi Alwi yang positif yang lainnya.
“Kalau memang keluarga mengapa. Pak Jokowi saja ada keluarganya juga dikritik tetapi ada juga berita positifnya. Saya tidak masalah, tetapi tulisan kaitan PT Fahreza itu sudah tendensius dan janganlah mencari panggung dalam tulisan atau catatan media. Kesan politisnya kental sekali,” ujarnya.
Menurut Alwi, sebagai ketua komisi III dirinya bersikap karena memang ada masukan dari masyarakat. Tak boleh tinggal diam. Kalau ada yang harus dikritik ya dia kritik. “Saya didatangi warga untuk bersikap atas pekerjaan itu. Tetapi, kalau membaca catatan Rizal Effendi seolah ada kerjasama dengan eksekutif untuk sidak dan membuat pernyataan dalam tugas-tugasnya. Tulis saya dalam kapasitas komisi III saja, kok ada bawa keluarga,” kata Alwi Alqadri yang protes keras atas catatan itu.

Alwi menegaskan, selama jadi walikota, Rizal Effendi juga tak diusiknya. Adem ayem. Padahal, dirinya saat itu sebagai anggota DPRD. Karena, ia menggunakan ‘politik santun’. “Sudahlah banyak panggung yang lainnya. Kalau catatan itu ditulis niatnya lain, tentu tidak baik. Sekali lagi, kritik ya kritik saja agar semuanya berjalan baik,” ungkap Alwi.
Dikatakan Alwi, di musim politik semuanya bisa menjadi politisasi. Sehingga, yang paling penting adalah menyuarakan untuk kepentingan masyarakat tetapi didasarkan atas niat tulus tanpa embel-embel. Apalagi, Rizal Effendi juga calon legislatif.
“Sebenarnya saya tak ingin menanggapi catatan itu. Hanya, karena dikaitkan keluarga dan keluarga saya juga meminta ditanggapi atas kerja saya, ya saya sikapi. Jujur silakan Pak Rizal Effendi datang ke gedung DPRD seperti ketika walikota dulu. Biar tidak sampai menyebut bahwa Alwi bekerja dan sidak itu dikaitkan-kaitkan drakor, keluarga dan lainnya. Sekaligus ya silaturahmi, mungkin kangen juga dengan gedung DPRD,” pungkas Alwi. (gt)













