TINTAKALTIM.COM-Era digital, nyaris semua orang paham teknologi. Tapi, cara pandang berbeda-beda sehingga informasi hoax (bohong) bisa dibenarkan. Itulah sekarang yang jadi fenomena dunia dan disebut post-truth.
Apa itu post-truth, informasi yang kebenarannya bisa dimanipulasi sesuai kepentingan. Sehingga, emosi dan keyakinan personal lebih penting daripada fakta objektif antara kebohongan dan kebenaran sulit diidentifikasi.
Itulah yang ada dalam pandangan Wakapolresta Balikpapan AKBP Sebpril Sesa saat diskusi dengan media ini. Ia berada di ruang transit GOR 27 September Universitas Mulawarman (Unmul) untuk menghadiri acara sosialisasi tiga pilar Kamtibmas jelang Pemilu 2024 dan mendukung pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
“Saya saran, seharunya teman-teman tiga pilar juga mendalami bahaya post-truth. Itu lebih berbahaya dan sudah menggejala di Indonesia, jadi waspadalah. Bisa dipetakan di daerah masing-masing,” cerita Sesa.

Sesa yang pernah menjabat Kapolres Sinjai ini, menilai post-truth itu berita palsu. Hanya, ‘digoreng’ jadi seolah-olah benar. Seseorang yang menerimanya, bisa tercuci pikirannya (brain wash) dan psikologinya terganggu lalu dominan emosinya lebih dikedepankan daripada pikiran logis.
“Ini sudah mengkhawatirkan. Coba, sekarang masyarakat menerima berita, lalu di-share ke sosmed maupun aplikasi lain seperti WatshApp (WA) group. Padahal, informasi itu hoax, tetapi karena diyakini atas pikiran kelompoknya atau individu, bisa jadi benar. Ini kan berbahaya,” urai Wakapolresta Sesa.
Sesa lalu mengurai post-truth sudah mendunia. Saat itu menimpa mantan presiden AS Donald Trump. Trump sempat dianugerahi penghargaan Lie of The Year 2017. Karena, ia sering mengutarakan ribuan hoax.

Nah, Sesa lalu memberi informasi kalau tiga pilar yang jadi garda terdepan 10 kota-kabupaten se-Kaltim harus juga melakukan analisa post-truth untuk melakukan mapping di daerah masing-masing. Minimal antisipasi lewat cyber patrol atau patroli dunia internet.
Sebab katanya, banyak orang mempercayai berita bohong. Karena apa? Tidak mau berpikir dan menganalisa. Baca berita judulnya saja yang akhirnya ‘terbawa arus pikirannya’ pada kesimpulan benar. Harusnya, dianalisa dan dicari informasi kebenarannya. “Biasanya fenomena post-truth itu lekat dengan politik dan masyarakat dapat terpolarisasi yang eskalasinya mengarah tindak kekerasan. Seperti setimen agama dan etnis. Dan ini sudah terjadi, maka waspadalah,” ujar Sesa berkali-kali.
Gejala post-truth lainnya, setiap orang seolah ingin menjadi netizen journalism atau jurnalis warga. Tapi, niatnya jahat dan tak mengetahui kode etik jurnalistik. “Mereka menjadikan tulisannya di sosmed seolah sebagai produsen konten. Itu diyakini benar padahal isinya memprovokasi dan memecah-belah,” urai Sesa.
Yang berbahaya lagi kata Sesa, informasi yang beredar di sosmed bersifat individual. Sifatnya membangun opini publik dengan tujuan membangkitkan emosi publik.
Oleh karena itu, Sesa mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu. Jika perlu melakukan langkah-langkah strategis dengan menggelar diskusi yang arahnya solutif.
Diskusi itu katanya, bisa memberi bahan ajar kaitan berinternet atau menggunakan sosmed secara BAIK yang merupakan akronim dari Bertanggungjawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif. “Sehingga, membangun informasi yang produktif dengan tidak menyinggung isu SARA,” pungkas Sesa. (gt)













