Catatan: H Sugito SH
TINTAKALTIM.COM-Penjual sate bisa jadi ibrah (pengalaman hidup). Terkadang biasa tetapi jika kita cermati ada secercah ‘mata kuliah’ iman di dalamnya. Kita tahu, penjual sate banyak orang Madura. Percaya atau tidak, kadang sering membalikkan logika dan cara pandang kita. Ia memberi bahan ajar pada kehidupan kita tentang rezeki.
Saya menemukan pengalaman itu saat beli sate. Penjualnya bernama Misbah (56). Anaknya 3 orang sudah menikah semua. Ia berjualan sate selama 20 tahun. Dan jualannya muter-muter saja dengan jarak yang dekat.
Mengendarai sepeda motor butut. Misbah keluar rumah jualan sate setiap pukul 16.00 Wita. Jalurnya, Kompleks BPD, Kompleks Pertamina Batu Butok, Tepian Gunung IV, Kompleks BTN dan kisaran Perumnas.
“Yang penting usaha, yakin saja pasti ada pembelinya. Wong rezeki itu Allah yang mengatur. Gitu toh,” cerita Misbah yakin akan usaha jualan satenya saat melayani konsumen.
Ada kekuatan utama yang saya lihat. Misbah selalu berprasangka baik dengan Tuhan. Jawabannya kalau ditanya enteng-enteng saja. Santai, tanpa beban dan dibumbui senyum. “Insya Allah, Tuhan itu tahu kalau orang usaha pasti ada hasilnya. Sudah usaha tapi belum berhasil ya belum rezeki,” ujarnya.
Justru, prasangka baik Misbah kepada Tuhan ternyata jadi pelajaran keyakinan. Kun Fayakun, jadilah ia pedagang sate yang selalu habis dagangannya. Jika gunakan akal sehat, kompetisinya tak masuk akal, begitu banyak penjual sate di sejumlah tempat tapi dagangannya selalu laris-manis.
Saya menyukai sate racikannya. Bumbunya kacang kental dan renyah di lidah. Tidak pedas, juga tidak terlalu asin. Kata sebagian penikmat kuliner (foodies), bumbu sate Misbah paling joss.
Saat ditemui, Misbah berada di sekitar RT 38 Kompleks BTN dekat dengan rumah H Hardi. Ia adalah haji yang membangun kompleks BTN. Saat itu, media ini seolah ‘ngidam’ sate Pak Misbah. Hanya, ia sudah terlampau jauh. Untung saja, bisa dikenali jejaknya lewat bel kecil krincing-krincing terdengar di kejauhan.
Misbah, santai. Ia terkesan cuek berdagang sate lewat caranya. Tak takut dengan era digital. Justru, dagangannya alami. Saat berdagang, ia nggak memerlukan strategi marketing atau riset.
Kita belajar iman dari Pak Misbah. Keimanannya punya level kedahsyatan tersendiri. Jati dirinya seolah sudah ada pada perjanjian dengan Tuhan. Sehingga, Misbah yang asli Bangkalan itu, imannya polos. Ia rasional memahami Tuhan, dan jiwa pekerja kerasnya yang mampu mendatangkan rezeki.
Misbah, contoh manusia yang tidak khawatir dan cemas kaitan rezeki. Terkadang, kita sering beprasangka buruk dengan Tuhan, sehingga jika tak dapat rezeki yang disalahkan Tuhan. Padahal, rezeki itu sudah diukur manusia satu dan lainnya.
Sejumlah orang sering beprasangka dan ngedumel dalam hati. Ada orang, jarang ibadah, malas salat tetapi rezekinya lancar. Belajar dari Misbah penjual sate tadi, bahwa rezekinya sudah dijamin Allah.
Tak perlu iri atau dengki dengan siapapun atas harta yang dimilikinya. Padahal, mereka tidak taat dengan Allah. Kata Ustaz Abdul Somad, itu adalah ‘jebakan Allah’ atau istidraj. Kesenangan dan nikmat Allah atas orang yang lupa Tuhannya itulah istidraj.
Ingat! Banyak orang-orang yang melimpah hartanya dan kaya-raya tetapi tiba-tiba dalam waktu sekejap, Allah memberinya musibah dan semua kesenangan dan kenikmatannya hilang. Sehingga, syukuri apa yang ada sekarang.

Rezeki itu bukannya uang saja, tetapi kesehatan, keluarga bahagia dan banyak sahabat serta selalu menebar kebaikan di mana saja, itulah rezeki Allah. Sebab, rezeki tidak tertukar.
Kata sahabat saya: Lebih baik bisa minum teh dengan singkong dan berbaur dengan teman-teman di alam terbuka, daripada harta melimpah dan kaya-raya tetapi harus mendekam dalam penjara dan sedih tiada tara.
Meski kata bijak rezeki tidak tertukar itu masih ada yang mendebatnya. Sahabat saya kaya-raya, hartanya bergelimang diperoleh dari usaha. Tapi, ada juga yang sejak lahir sudah harta melimpah. Ada yang kerja siang-malam rezekinya seret.
Ingat, rezeki manusia telah dijamin Allah. Hadistnya: Dari Bukhari Muslim bahwa Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Jadi yakin saja seperti Misbah si penjual sate.
Kita harus iri dengan kehidupan Misbah, si penjual sate: Ia berangkat pukul 16.00 Wita. Saat Magrib tiba ia salat di mana masjid terdekat. “Jualan sate itu dunia tetapi salat untuk akhirat,” ujarnya singkat.
Saat itu saya belajar dari kehidupan Misbah. Ketika saya membeli 10 cucuk, ternyata ada yang borong 25 cucuk. Sehingga, sate Pak Misbah tinggal sedikit; “Saya membawa sate cuma 300 cucuk setiap hari. Tetapi Alhamdulillah selalu habis. Sebab, rezeki itu ada di langit bukan di bumi. Maksudnya, kalau bersyukur, Allah pasti beri rezeki Mas,” sambil berucap terimakasih seraya memberikan pesanan saya yang 10 cucuk sate.
Terakhir: Rezeki itu milik Allah, makin kita ikhlas memberi kepada orang lain, Insya Allah dimudahkan rezeki kita. Sebab, Allah memberi rezeki kepada siapapun yang dikehendaki tanpa batas.**












