TINTAKALTIM.COM-Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Asy-Syifa terkejut, setelah mensortir uang rupiah kertas (uang kartal), menemukan satu lembar uang mainan. Tetapi, tim menyebut itu wujud spirit dan kesungguhan warga bersedekah, meski uang itu disisihkan

Uang mainan kertas pecahan Rp1.000 ditemukan saat bendahara takmir masjid Hendra Winardi menghitung, uang itu terselip di antara sedekah program bersedekah seribu sehari (Berseri) dan jimpitan amal terindah (Jimat).

“Lah, nggak laku ini. Tapi, tak perlu dihitung,” kata Hendra. Tim yang menghitung uang kedua program itu pun tertawa. Sebab, dipikir itu uang asli.

Bisa jadi ada anak-anak memasukkan di celengan. Tentu, spiritnya yang harus dilihat bahwa mereka ingin bersedekah. Ali Umbri, sekjen DKM Asy-Syifa pun menyebut, itu bukan faktor kesengajaan.

“Itu gerakan hati warga melakukan sedekah,” kata Ali Umbri yang mencermati perhitungan hasil uang dan beras di pelataran masjid, Rabu (28/1/2026)
Sembari menghitung, tim saling berdiskusi. Uang mainan itu bisa jadi gerakan meniru yang ulung dari anak-anak karena melihat orangtuanya bersedekah. Celengannya siap, mereka memasukkan. Hanya, uangnya tidak payu.

Selain itu, ada kreasi uang berbentuk kupu-kupu dan uang logam era tahun 1990-an warna kuning keemasan senilai Rp1000 dan Rp2.000. Tetapi, Iwan Iman meyakini uang lama itu khawatir tak berlaku lagi. “Saya tukar saja dengan logam yang baru, nanti nggak laku,” kata Iwan Iman sembari menukar uang logam lawas tersebut

Sedang yang berbentuk kupu-kupu itu unik. Sebagian tim yang menghitung menyebut, itu uang gaya pedagang zaman dulu. Justru, ada yang bercanda agak magic. “Mungkin untuk penglaris. Jadi uangnya dibentuk-bentuk. Atau kreasi ultah,” kelakar bapak-bapak yang membuat suasana penghitungan jadi segar
BERLIPAT
Gerakan sedekah lewat program Berseri dan Jimat itu, ternyata direspon warga RT 38 dan RT 39 sangat tinggi. Padahal, jika dihitung hanya seribu per hari, sehingga sebulan Rp30 ribu. Faktanya, isi celengan berlipat-lipat, bahkan ada yang jutaan rupiah

“Ternyata kalau ada niat kebaikan itu harus bertindak, agar muncul kekuatannya (action to power). Jangan hanya diam, faktanya warga seperti menerapkan konsep gerakan sosial yang berbasis kerelaan untuk berbagi,” kata Ketua Ikatan Remaja Masjid (IRMa) Asy-Syifa Iwan Iman ST sembari asyik menghitung uang logam sedekah warga

Program sedekah itu, sempat ada oknum warga kurang setuju. Padahal, DKM Asy-Syifa membuat program itu basisnya ikhlas, suka rela dan tanpa paksaan.

“Alhamdulillah, ternyata jiwa warga bersedekah tinggi. Sehingga, programnya harus terus berjalan dan berfungsi maksimal,” kata Neneng Zuleha, ketua RT 39 Kompleks BTN Margomulyo dan Ketua RT 38 M Sihombing yang men-support kedua program itu
Bahkan, ada sejumlah warga yang belum menerima celengan Berseri dan Jimat, meminta agar diantar ke rumah, sehingga bulan depan bisa mengisinya baik dengan uang maupun beras atau keduanya. Kontan, Sekjen DKM Ali Umbri mencatat mereka yang belum dapat celengan itu dan nanti diantar

Ketua DKM Asy-Syifa Nur Ali pun berbaur bersama tim penghitung hasil dari dua program tersebut. Ia berkali-kali mengingatkan, warga yang belum sempat diambil celengannya akan disusulkan pengambilan. Sebab, tim membuat tiga fase pengambilan pukul 09.00 Wita, 14.00 Wita dan 16.00 Wita.

“Nanti yang di RT 38 saya ambil sendiri sambil silaturahmi. Warga mana saja yang belum,” tanya Nur Ali kepada media ini dan menerima penjelasan ada 3 warga yang kediamannya terkunci. Alhasil, celengan susulan totalnya berisi Rp400 ribu lebih
BERAS
Warga cenderung bersedekah dengan uang daripada beras. Tetapi, ada yang memanfaatkan celengan dengan beras bahkan isinya full. Kendati totalnya hanya 14 kilogram, tetapi itu hasil yang signifikan

“Beras berguna dan uang pun berguna. Yang kita lihat itu keikhlasan warga untuk bersedekah. Seberapa pun nilainya. Sebab, tak mudah mengeluarkan sedekah itu jika tak terbiasa,” seloroh media ini menyampaikan target kedua program itu

Program Berseri dan Jimat ini, ternyata ada sejumlah pihak di RT lainnya bahkan masjid ingin mengadopsi. Menjadikan, Masjid Asy-Syifa jadi proyek percontohan (pilot project) karena dinilai sangat membantu kas masjid atau kas RT. Apalagi dana sedekah dibuatkan program pemberdayaan umat di bidang ekonomi dan sosial.

“Niat tanpa aksi hanyalah angan-angan. Ubahlah niat tulus menjadi tindakan nyata yang memberi kekuatan atau dampak. Ibarat sepeda motor, niat baik itu bahan bakarnya. Ternyata, menyala didukung warga,” kata Ali Umbri, Hendra Winardi, Iwan Iman dan media ini saat diskusi akhir sambil santai minum kopi di kediaman warga. Ya Allah, termilah sedekah wargaku dan bukankanlah untuk mereka pintu rezeki-Mu, sehat dan kampung aman. Barakallahu. (gt)













