TINTAKALTIM.COM-Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud SE ME meraih gelar doktor (S3) ilmu ekonomi & bisnis di Universitas Mulawarman. Disertasi atau hasil penelitiannya terkait smart city atau kota cerdas yang mampu meraih angka maksimal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.

Secara lengkap, judul disertasi walikota yakni Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perwujudan Pembangunan Kota Cerdas (Smart City) dan Nyaman: Studi Kota Balikpapan. Dan, Walikota resmi menyandang gelar doktor setelah menjalani sidang terbuka pada Kamis (21/5/2025) di Gedung ITC Lantai II Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Sebelumnya, walikota sudah menjalani ujian tertutup pada Maret 2025 dan disertasinya disangg sejumlah profesor yang juga disaksikan sang istri tercinta Hj Nurlena Rahmad SE, Ketua DPRD Balikpapan H Alwi Alqadrie, Wakil Walikota Balikpapan Dr H Bagus Susetyo, Sekkot Ir Muhaimin, ketiga asisten, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Bahkan, Direktur Operasional Hotel Platinum Group H Soegianto SE, Ketua KNPI Balikpapan Andre, Ketua Forum CSR Balikpapan Bambang Saputra, Dirut Perumda Manuntung Sukses Andi Sangkuru dan think-thank walikota yang menamakan dirinya ‘Pasukan NATO’ pun ikut hadir.

Sidang terbuka dipimpin ketuanya Dr Zainal Abdidin SH MM dengan penguji eksternal Prof Dr Hj Rahmatia MA dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menyanggah secara virtual.
Selain itu ada juga promotor Prof Dr Jiuhardi SE MM, Ko Promotor I Dr H Rachmad Budi Suharto SE SH MSi, Ko Promotor II Dr Juliansyah Roy SE MM dengan anggota Prof Dr H Priyagus SE MSi, Dr Diana Lestari SE MSi dan Dr Hj Siti Amalia SE MSi.

Disertasi walikota berbasis data primer dengan 400 responden yang sempat disanggah datanya didapat darimana dan bagaimana mengukur indikator kota cerdas yang nyaman dan bagaimana ukuran tata kelola serta kaitannya dengan ekonomi kreatif oleh Prof Dr Hj Rahmatia MA dari Unhas.

“Apakah hasil penelitian itu bisa diterapkan di tempat lain. Bahkan dipakai di dunia,” sanggahan yang juga dilontarkan Prof Dr Priyagus SE MSi kepada walikota sebagai promovendus, sebutan bagi seseorang yang menyusun disertasi dan mempertahankan dalam sidang untuk meraih gelar doktor.

Walikota sebagai mahasiswa S3 di Unmul pada 2020-2021 dan sidang judisium hasil penelitian dan berhasil menyelesaikan studinya dengan nilai total 88 persen dengan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 4 yang ditempuh 4 tahun 8 bulan masa perkuliahan.
“Kendati IPK 4, belum disebut cumlaude karena untuk mencapai itu harus kuliah tepat waktu selama 3 tahun 9 bulan. Sehingga, untuk promovendus Dr H Rahmad Mas’ud SE ME mendapat predikat sangat memuaskan,” kata Zainal Abidin yang menyebut walikota lulus sebagai doktor ke-13 dari Fakultas Ekonomi & Bisnis Unmul.
Disertasi walikota juga disanggah kaitan korelasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sekitar di angka 80-an tetapi strukturnya kurang bagus jika diukur dari basis pendapatan yang relatif kecil.
LANCAR
Walikota menjawab seluruh sanggahan dengan lancar dan santai. Ia mengatakan, responden dalam penelitian dan masuk dalam disertasi diambil secara random yang sifatnya multi-etnis dan status pendidikan dari SLTA hingga S-1.

“Saya haqul yakin, smart city bisa diimplementasikan di Balikpapan. Dan nantinya fokus pada peningkatan kualitas hidup, efisiensi layanan publik, serta kesejahteraan masyarakat melalui penerapan teknologi dan inovasi,” beber walikota.
Konsep itu katanya, sudah dijalankan lewat gerakan smat government yang nanti akan disinkronisasi dengan smart economy, smart living dan lainnya.

“Kami percaya smart city ini bisa jadi tolok ukur (benchmark) daerah lain dan dunia. Karena, di Kota Balikpapan yang hanya bersandar sebagai kota jasa dan perdagangan banyak Penanaman Modal Asing (PMA) dan lokal yang sudah familiar dengan konsep digitalisasi,” urai walikota.

Bukan itu saja, walikota menjelaskan bahwa smat city bukan hanya persoalan digitalisasi. Tetapi, bagaimana masyarakat Balikpapan juga menjadi warga yang cerdas pada penerapan kehidupan sehari-hari seperti smart environment contohnya dalam pengelolaan sampah serta lainnya

“Kata kunci, smart city itu bisa berjalan jika regulasi diterapkan. Ini yang jadi concern saya. Yakni, memberikan semacam kemudahan (privilege) bagi investor yang masuk ke Balikpapan sehingga investasi itu bisa berguna bagi pengembangan masyarakat yang lahir dari gagasan smart city,” ujarnya.
PERAN OPD
Sementara itu disertasi walikota juga disanggah oleh penguji akademik Dr Yudhi Saharuddin SE ME yang baru saja menyelesaikan gelar doktornya di Unmul dengan IPK 4 dan sebagai cumlaude (penuh pujian).

“Bagaimana disertasi bapak bisa diimplementasikan. Apakah disertasi itu juga nanti diserahkan ke OPD dan masing-masing OPD harus melakukan kreasi dan inovasi,” tanya Yudhi yang juga Dirut Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) ini.

Menurut walikota, sudah pasti OPD berperan untuk implementasi smart city di Balikpapan. Sejauh ini sudah berjalan tinggal peningkatan kualitas dan terintegrasi dengan masyarakat.
“Saya sudah minta masing-masing OPD berperan untuk mendorong smart city ini. Makanya, saya optimistis bisa terwujud dalam kepemimpinan saya sebagai walikota,” ungkap walikota yang merasa terharu setelah hasil sidang memberinya gelar doktor ilmu ekonomi dan bisnis.

Menurut walikota, suksesnya ia meraih gelar doktor juga berhak dukungan sang istri tercinta dan anak-anak. Serta para dosen pembimbing, promotor dan ko-promotor.

“Terimakasih untuk semuanya. Termasuk OPD di Pemkot Balikpapan. Semoga ini jadi berkah bagi diri saya dan masyarakat yang harus mendapatkan pelayanan prima dari kebijakan yang saya buat,” pungkas walikota yang meneteskan air mata sebagai ungkapan rasa haru.
Ia pun meminta maaf, kepada pihak Unmul yang telah membimbingnya sampai mendapat gelar doktor. Itu karena, dirinya belum dapat mendapatkan predikat cumlaude karena kesibukan dirinya sebagai walikota, keluarga dan tugas-tugas lainnya. Congrutalation Pak Wali. (gt)













