TINTAKALTIM.COM-Usia senja ikut lomba maraton, bukan kompetisi yang mudah, karena perlu kondisi fisik prima serta mental kuat untuk menaklukan medan. Tapi, bagi Johnny Santoso (73), pengusaha asal Balikpapan yang beralamatkan di Jalan Pupuk ini, masih mampu menempati rangking 19 dunia.

Lelaki yang humble dan sudah disapa ‘kakek’ ini, bisa menaklukkan di event ASICS Gold Coast Marathon (GCM) untuk race Gold Coast Airport 5 kilometer pada Sabtu (5/7/2025) pagi. Menariknya, Johnny membuat personal best atau catatan waktu terbaik di Gold Coast 5 kilometer dalam waktu 48.59 menit, di mana ketentuan panitia 1 jam 10 menit.

“Alhamdulillah, masih sehat untuk kelompok umur 70-74 tahun. Dan, bisa berlari dengan pelari dunia lainnya di race 5 kilometer itu. Setidaknya, dapat medali karena waktunya lebih cepat dan di peringkat 19,” cerita Johnny yang dihubungi via sambungan telepon WhatsApp (WA) di Australia, Minggu (6/7/2025)
Johnny juga mengajak anak dan istri dalam event itu. Sang anak, Novita Santoso dikenal juga sebagai runner ikut pada race 21 km. Dan, ia memang ikut bersama sang ayah tercinta event maraton internasional kelas dunia ke-45 ini di Queensland, Australia.

Menurut Novita, ada beberapa kelas yang dilombakan seperti Wheelchair Maraton, China Airlines Half Marathon, Wehellchair 10 km, Southern Cross University Run 10 km, Gold Coast Airport 5 km, Whelchair 5 km, Australia Fair 2 km, Junior Dash dan Fixx Nutrition Gold Coast Double 63,3 km

“Ini kan maraton jalan raya tahunan di Gold Coast Queensland Australia, pertama kali diadakan pada tahun 1979 dan memegang label atletik dunia dan saat itu digelar di pinggiran kota Evandale sebagai bagian dari kampanye kesadaran kesehatan,” kata Novita yang menjelaskan sejarah Gold Coast Marathon itu dan juga finish di race 21 kilometer tersebut.
Dijelaskan Johnny, tujuan dirinya ikut marathon di Australia untuk berolahraga dan menjaga kesehatan. Karena, sehat itu penting dan mahal. “Kalau badan tak sehat, seberapa pun kekayaan tak ada gunanya. Jadi, ini juga memberi motivasi kepada yang muda-muda. Bahkan, tak perlu takut tua dan harus tetap sehat lewat olahraga,” kata Johnny.

Johnny maraton sampai ke Australia karena informasi sang anak Novita. Ia mengajak istri tercintanya untuk segera mendaftarkan diri. “Saya sangat senang karena di usia saya masih bisa berlari dan melakukan program latihan fisik. Latihannya tak perlu keras, jadikan lari itu bagian dari gaya hidup dan tubuh sehat, mental pun demikian,” jelas Johnny yang masih mampu lompat tali (skipping) jongkok dan berdiri ini.

Sementara itu dari data media ini, total peserta untuk GCM di Australia ini sekitar 20.000 peserta dan dari Indonesia juga ribuan peserta yang terbagi dalam berbagai race tadi.

“Kalau race yang diikuti papi itu sekitar puluhan peserta. Alhamdulillah, papi masih sehat dan finish lebih cepat dari waktu panitia,” kata Novita.
Menurut Novita, ada dua rekor nasional (rekornas) maraton Indonesia, putra dan putri terpecahkan oleh dua pelari terbaik ‘Merah Putih’ yakni Robi Syianturi dan Odekta Naibaho dengan catatan waktu sebelumnya 2 jam 17 menit 16 detik menjadi 2 jam 15 menit 4 detik.
Sementara, Odekta mengukir rekor baru dengan catatan 2 jam 31 menit 35 detik, memecahkan rekor sebelumnya atas nama Triyaningsih 2 jam 31 menit 49 detik yang sudah bertahan 15 tahun untuk lomba lari 42,195 km. (gt)













